Sebenarnya seseorang yang bakalan gue ceritain kali ini adalah sumber dari semua inspirasi yang terkuak dari 4 orang lelaki sebelumnya, kenapa kayak gitu? Soalnya kalau bagi gue, disaat empat lelaki itu tidak ada, sosok ini bisa mewakili semuanya, hampir semua kehebatan dari 4 lelaki sebelumnya ada semua dalam diri dia.
Sikap ketika dia menjadi seorang anak,
Sikap ketika dia menjadi seorang adik atau kakak,
Sikap Ketika dia menjadi seorang suami,
Sikap Ketika dia menjadi seorang paman,
Sikap Ketika dia menjadi seorang Ayah.
Dia hadir dalam kehidupan yang memang tidak mudah bagi dia, penuh keajaiban dan tentu juga penuh dengan peluh baginya,
Sosok yang sangat gue kagumi, karena gue sebagai seorang anak yang masih punya orang tua belum bisa bersikap seperti dia, di umur gue yang hampir 25th, gue ngerasa belum ada apa-apanya dibandingkan dia (dengan umur yang sama) dulu usia gue menikah dengan usia dia menikah tidak jauh beda, yang beda hanyalah dia sudah mampu hidup mandiri sedangkan gue masih di empanni oleh orang tua bahkan mertua, bahkan dia juga terkadang harus menjadi tulang punggung cadangan bagi keluarga dia (ortu dan adik2nya), sebagai seorang anak dia sangat berbakti pada ibunya, bahkan dia selalu sedih karena sampai sekarang belum bisa mewujudkan cita-cita ibunya untuk berangkat haji, tapi bukan berarti dia tidak melakukan apa-apa, dia nabung buat ongkos pergi haji ibunya, bahkan kalau di itung-itung ongkosnya udah cukup bahkan lebih, tapi karena peraturan yang harus dipatuhi, ibunya belum bisa berangkat juga pergi haji. Kalau gue tanya soal itu, dengan sangat jelas terpancar aura kesedihan dan bendungan air mata di wajahnya, ah rasanya gue malah menyayat hatinya kalau membicarakan itu, tapi disana gue melihat ketegaran dia, ketegaran dimana dia tidak mau menunjukan kesedihannya, rasa yang seolah-olah biasa bagi dia, padahal gue tau kalau hatinya menjerit, ingin segera melihat sang ibunda berangkat ke mekkah guna menunaikan ibadah haji, kadang gue mikir, apakah gue juga bisa berbuat hal yang sama buat ortu gue, sedangkan saat ini saja gue masih ketergantungan sama mereka, mungkin kakek saya berjuang untuk merawat ibunya, tapi lelaki ini selain merawat dia juga berjuang untuk kebahagiaan ibunya, bagi gue dia sungguh anak yang berbakti, disaat anak yang lain hanya memikirkan keluarganya sendiri, dia masih dengan sangat semangat memikirkan orang tuanya, disitu gue iri, dia bisa jadi anak yang sangat sholeh karena bukan hanya mendoakan ortunya tapi juga berbuat hal yang membuat ortunya bangga dan bahagia.
Dia sadar kalau dia tidak sendiri, dia punya saudara, apakah setelah dia menikah yang dia ingat hanya ortu dan istrinya saja, kenyataannya enggak sama sekali, dia tetap peduli sama adik dan kakaknya, dia selalu siap membantu apapun keperluan adik dan kakaknya, bahkan kalaupun mesti merelakan keinginannya, dia lebih mementingkan keinginan saudaranya.
Kalau gue ceritain secara detail satu-persatu tentang dia, tidak akan ada habisnya, karena bagi gue kebaikan dia sangatlah banyak, gue hanya ingin bercerita soal dia yang telah berhasil menjadi sosok lelaki yang hebat, lelaki yang berguna bagi setiap orang, lelaki yang sangatlah banyak berjasa bagi lingkungannya.
Lelaki yang mengajarkan gue kehidupan itu seperti apa?
Lelaki yang dulu menjalani kehidupan dengan sangat susah tapi sekarang dengan keuletannya mampu menjadi lelaki yang sangat bisa memudahkan urusan orang lain.
Lelaki yang ngajarin gue dan adik kakak gue bagaimana cara beternak kambing yang baik, lelaki yang selalu meneteskan air mata ketika dia berdo'a untuk anak-anaknya.
Lelaki yang bagi gue sangat pantas untuk gue contoh.
Gue bukan hanya menyukai dia, bukan hanya mengidolakan dia, tapi gue sayang dan sangat cinta sama dia.
Dia yang dulu tanpa mikir panjang meninggalkan rapat pentingnya demi menjemput gue yang pingsan di sekolah.
Dia yang dulu rela menjual sawahnya demi ngeberangkati gue umroh. (Padahal ibunya belum, adik kakak gue juga belum ke Mekkah sampai sekarang)
Dia yang dulu rela menjual kebunnya demi biaya pernikahan gue. (Padahal kakak gue aja dulu nikahnya gak ngerepotin ortu sama sekali)
Dia yang sampai detik ini belum bisa gue bahagiain, dia yang sampai detik ini membuat gue terharu akan semua kebaikannya, dia yang memeluk gue disaat gue takut, dia yang menghibur gue disaat gue ada masalah, dia yang sering marah dengan kelembutan, dia yang sampai sekarang ngebantu biaya kebutuhan gue dan anak istri gue, dia adalah H. Abun Ruskendar, S.Pt. M.P.
Seorang ayah yang luar biasa, yang gue yakin semua orang iri sama gue karena punya ayah yang seperti itu.
Marahnya dia adalah sayang, dengan tiga orang anak yang punya karakter yang beda-beda, tapi dia mencoba masuk ke semua karakter anak-anaknya itu.
Dia yang sekarang sudah menjadi kakek dengan dua cucu, bahkan bulan depan akan menjadi tiga cucunya, seorang kakek yang sanggup merebut perhatian cucu-cucunya untuk berpaling dari ayahnya.
Yap cucu-cucunya lebih dekat padanya dibandingkan dengan ayah mereka.
Seorang ayah yang tidak pernah malu dengan kesalahan anak-anaknya, dia selalu sabar dan tenang, dia selalu yakin setiap masalah akan ada ujungnya, dia yang selalu yakin kalau semua urusan di dunia hanyalah sementara.
Dia yang tidak pernah mengeluh dalam bekerja, dia yang bahkan dulu pernah minta do'a pada gue disaat dia ada masalah, padahal dalam hati gue, gue ngerasa gak pantas disebut anak yang sholeh, karena gue belum bisa jadi kebanggannya.
Ayah terimakasih,
Dulu ketika aku kecil kau sering mengajakku pergi main, ke pantai, gunung, dan kebun,
Ayah terimakasih,
Kau tidak pernah mengeluh dengan aku anakmu, padahal sering diri ini membuat kamu lelah, membuat kamu marah, tapi kau tetap tegar,
Ayah Terimakasih,
Kau telah memberi banyak arti dalam kehidupan ini,
Ayah terimakasih,
Kau telah berhasil menjadi imam yang baik bagiku, semoga aku juga bisa menjadi imam yang baik seperti ayah.
Ayah terimakasih,
Kau telah memberiku Cinta.
Do'akan terus anakmu ini ya pak,
Allah selalu bersamamu, Insha Allah
| Selalu menghibur dan mengabulkan pinta anak-anaknya |
| disini nanti gue, istri, dan anak gue |
| Sanggup mengajak gue berangkat ke Tanah Suci ( semoga gue juga bisa ngajak anak-anak gue ke tanah suci seperti yang dia lakukan buat gue) |
| Selalu mengapresiasi pencapaian anak-anaknya |
| keuletannya mengajarkan semua anak-anaknya bagaimana menjadi peternak (manusia) yang baik dan benar |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar