Social Icons

Selasa, 26 April 2016

Cinagara, 27 April 2016

Aslmkm pak,

kumaha damang?

punten kamari tlp bpk teu ka angkat ku pandu, acarana padet pisan. acarana ti tabuh 4 enjing-enjing dugi ka tabuh 9 wengi.

wilujeng tepang taun kanggo bapak anu ka 54th, biasana anu ulang tahun kenging hadiah ti nu ngucapkeun, ayeuna abi anu bade nyuhunkeun hadiah ti bapak.

abi nyuhunkeun do'a ti bapak, mugia abi sing tiasa sukses sareng tiasa berprestasi sapertos a Panji sareng de Ari.

3 hari di dieu, abi bangga ka bapak, hampir sadaya widyaswara sareng padamel di Cinagara uningaeun ka bapak, sadayana muji ka bapak.

hapunten abi anu sok nyia2keun kanyaah bapak.

bapak sing sehat, sing pinuh ku kasabaran, nu utamina bapak sing tambih tambih berkah yuswana.

Insha Allah

 

 

Rabu, 13 April 2016

Pesan dari Bapak Karmani Soekarto pada Bu Susi

Bu Susi, utang luar negeri yang aku kutip dari CNN Indonesia per 19 Jan 2016, bahwa utang seluruh rakyat Indonesia Rp.1.916T atau US$ 137,8M per Nov 2015, (utang Swasta Rp. 2.319T atau US$ 166,8M.) rasanya muskil utang negaraku ini bisa lunas, dan siapa pun pemimpinnya pasti akan menambah utang luar negeri pemerintah.  Walau ada angsuran terhadap utang luar negeri namun jumlahnya tak sebanding dengan tambahan utang luar negeri. Ibarat lebih besar pasak dari pada tiang, ibarat gali lubang tutup lubang, kita sudah terikat bantuan. Nama halusnya sih bantuan tetapi tetap saja kita harus mengembalikan termasuk dengan interestnya. Aku sudah menoleh ke Pulau Sumatera penghasil minyak tetapi rasanya tidak terlalu bisa diharap karena kebutuhan minyak dalam negeri masih ditambah impor padahal dulu ladang ladang minyak kita hasilnya sebagian bisa diexpor dan kitapun saat itu ikut menjadi anggota OPEC, negara pengexpor minyak. Belakangan kita keluar dari OPEC karena malah menjadi pengimpor minyak. Itulah jaman. Aku juga menoleh Pulau Bangka yang konon penghasil timah agar tambang timahnya mampu untuk melunasi utang tetapi disana sudah bolong bolong daerahnya. Karena bekas tambang itu dibiarkan begitu saja. Persis seperti daerah tidak bertuan. Kemudian aku menoleh ke Kalimantan Timur terutama di bagian Timur yang dulu di tahun 1972 aku pernah bekerja di perusahaan kayu gelondongan, juga sesudahnya itu aku bekerja di migas perusahaan asing, ternyata hutan itu sudah tidak ada hasil kayunya lagi, karena saat itu negara kita membolehkan expor kayu gelondongan tanpa reboisasi yang memadai. Juga disana Kalimantan Timur tempat perusahaan minyak dan gas bumi, tetapi kebutuhan migas dalam negeripun harus ditambah impor, karena tidak mencukupi. Tinggal sekarang yang aku lihat Batu Bara, bisa enggak ya buat melunasi utang luar negeri yang sudah berjibun. Tanah disana sudah mulai bolong bolong layaknya Pulau Bangka. Rusaklah lingkungan Kalimantan Bagian Timur akibat penambangan batu bara. Aku menoleh juga ke Sulawesi atau orang asing lebih mengenal dengan nama Selebes, disana ada tambang Nikel, tetapi 100% bukan milik negara atau BUMN. Sekarang aku menoleh ke Papua yang dulu aku mengenali bernama Irian Barat kemudian Irian Jaya terakhir oleh Gus Dur dinamakan Papua. Rasanya hasil Papua yang mencolok saat ini hanya tambang tembaga dan emas, tetapi milik Freeport. Bukan sepenuhnya milik BUMN kita. Seandainya sudah jadi milik kita jangan jangan sudah mendekati habis. Kutoleh semua kekayaan alam terutama migas negeri kita dipergunakan kebutuhan dalam negeri untuk penduduk yang jumlahnya 250Jt, jumlah yang bukan sedikit, bila dibanding dengan Negara Teluk penghasil migas yang memiliki penduduk tidak sebanyak Indonesia. Sementara mereka yang di Senayan gaduh terus belum pernah berpikir bagaimana mencari jalan keluar lunasnya utang negeri tercinta ini. Sibuk dengan urusannya masing masing, sampai sampai saking sibuknya ada yang berurusan dengan KPK. Sementara di kabinet juga sudah mulai gaduh. Lantas siapa yang mau berpikir melunas utang yang sangat memberatkan kehidupan rakyat kecil. Maunya kami rakyat kecil itu utang bisa lunas, tetapi dengan pelunasan yang benar benar bersumber dari kekayaan alam yang dikuasai pemerintah. Rakyat kecil tidak mau berpikir yang muluk muluk dan terlalu banyak berteori, malah tidak lunas lunas hanya berdebat terus, kapan lunasnya malah tiada jelas. Kalau RI gak punya utang LN kan enak, tingkat laju inflasi kecil sekali atau mungkin tidak ada inflasi, sehingga orang hidup di hari tua tenang, bisa menabung. Bukan seperti sekarang ini, menabung di saat muda, begitu sampai di hari tua uangnya gak ada nilainya. Akhirnya hidup di hari tua menjadi was. Layaknya Jepang atau Arab Saudi yang tidak ada inflasi konon dari dulu harga minuman kopi panas sampai saat ini masih sama 1 Real, karena gak ada inflasi. Seandainya hasil kekayaan alam tersebut digunakan untuk melunasi hutang luar negeri tentu habis, karena tak tergantikan lagi, layaknya air yang diambil dari sumbernya tetapi sumber tidak pernah habis tergantikan oleh air hujan. Bu Susi, sekarang tinggal aku menoleh ke laut kita yang tentu hasilnya tidak pernah habis, ibarat peri bahasa patah tumbuh hilang berganti. Bu Susi tentu ahlinya karena pernah menggeluti hasil laut, sampai bu Susi mampu expor sendiri. Untuk keperluan expor bu Susi sampai beli pesawat. Tentu bu Susi memahami hasil laut yang gak pernah habis. Usulkan agar pemerintah menyetujui hasil laut untuk membayar utang. Tidak usah lama lama kita kerja sama dengan pihak asing plus dalam negeri, usahakan kurang dari 10 tahun saja. Karena bu Susi pernah bilang kalau tidak salah potensi kerugian kita di hasil laut adalah 300T per tahun. Nah di atas kertas potensi itu bisa untuk melunasi jumlah 3000T dalam kurang dari 10 tahun. Mumpung bu Susi masih jadi Menteri Kelautan Perikanan. Buatlah sejarah yang dikenang sepanjang masa, seperti pepatah kuno, Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading. Orang baru terbuka matanya kalau lautan kita memiliki potensi yang besar untuk menghasilkan, sebelum bu Susi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, orang tutup mata karena kurangnya informasi terhadap potensi hasil laut kita. Seandainya usul bu Susi oleh pemerintah tidak disetujui atau bahkan usul itu malahan menjadi bumerang, nothing to loose bagi bu Susi, bu Susi masih sebagai wira swastawan yang handal. Membaca wawancara bu Susi dengan BBC 5 Maret 2016 tergelitik aku menulis artikel ini. Dengan skenario pertumbuhan ikan hampir 9% tentu besar potensi hasil laut kita untuk melunasi hutang luar negeri. Potensi laut yang selalu terbarukan, tidak pernah habis hasilnya sepanjang bumi masih berputar. Dengan menurunnya illegal fishing oleh ribuan kapal penangkap ikan asing yang ditandai dengan menurunnya pemakaian solar nasional sampai 37% (oleh Kementerian ESDM) tentu potensi hasil laut kita semakin besar yang layak untuk melunasi hutang luar negeri pemerintah. Bukan berarti sektor lain tidak memiliki potensi untuk melunasi utang kuar negeri, sektor pariwisata misalnya, tetapi aku maunya potensi itu benar benar milik negara bukan tukar menukar uang asing terhadap rupiah, sehingga menghasilkan devisa. Tetapi benar benar hasil laut yang menghasilkan devisa, kekayaan alam yang menghasilkan devisa. Selama ini cadangan devisa kita hanya cukup untuk kebutuhan 3 bulan, maka perekonomian gampang goyah. Renungkan bu Susi. Selamat malam

Minggu, 03 April 2016

Sa'i ku

Belajar Bisnis dari Kisah Siti Hajar


Atas tuntunan ilahi, Nabi Ibrahim menempatkan Siti Hajar dan Ismail kecil di lembah tak bertuan. Sebuah tempat yang gersang, tempat dimana Allah menetapkan "rumahNya" tersejak zaman Adam 'alaihissalam.

Dalam keridhoan ketetapan Suami yang tertuntun langit, Siti Hajar harus melalui episode yang menegangkan dalam hidupnya. Sebuah episode kehidupan yang diabadikan Allah dalam peribadatan sa'i saat umroh. Sebuah episode kehidupan yang menjadi titik awal lahirnya sebuah peradaban di lembah gersang.

Ismail kecil menangis keras kehausan ditengah gersang. Sebagaimana seorang Ibu, hati Siti Hajar kalut dibuatnya. Matanya mencari-cari disekitaran gurun, namun tak ada tanda-tanda adanya air sedikit pun.

Di kejauhan terlihat adanya air, berlarilah Siti Hajar ke tempat tersebut. Shaffa, itulah bukit yang Ia daki. Sesampainya di bukit tersebut, tak sedikit pun air ditemukan, dirinya berdoa dan memohon kelada Allah, lalu kemudian menebar pandangan kesegala arah.

Terlihat air dari kejauahan. Siti Hajar pun berlari ke bukit yang lain. Marwah, itulah nama bukit tersebut. Sesampainya di Marwah, Siti Hajar tidak juga mendapatkan apa yang beliau cari.

Siti hajar kembali berfikir, mungkin di bukit yang tadi, ia tidak teliti, kembalilah ia kembali ke bukit shaffa. Lalu ke marwah, lalu kembali lagi ke shaffa, lalu ke marwah, lalu ke shaffa dan ke marwah untuk terakhir kali.

Sesampainya di Bukit marwah tuk kesekian kalinya, terdengarlah gemiricik air dari dekat tubuh Ismail 'alaihissalam. Hadirlah mata air Zam Zam, yang tidak hanya menghapus dahaga Ismail kecil, namun juga dinikmati oleh generasi berikutnya sepanjang lintas peradaban. Hingga saat ini, mata air tersebut deras mengalir. Seakan menyediakan pasokan bagi para peziarah. Tak ada habis-habisnya. Tak ada kering-keringnya.

Episode kehidupan ini diabadikan oleh Allah dalam tuntunan ibadah Umroh. Setelah melaksanakan Thawaf, jamaah Umroh diwajibkan untuk melakukan Sa'i, dan diakhiri dengan tahalul.

*****

Ada beberapa pelajaran bisnis yang dapat kita petik dari kisah Siti Hajar. Kita dapat belajar bagaimana seharusnya kita berikhtiar menghadapi masalah. Siti Hajar telah melalui hal yang sangat membuat kalut dirinya dan akhirnya solusi hadir bukan hanya untuk Ismail, namun juga untuk generasi setelahnya.

Sama seperti bisnis, terkadang kita kalut ketika "bisnis kita menjerit menangis". Terkadang kita harus berlari-lari mencari cashflow. Terkadang kita melihat kegersangan market yang tak berujung. Mirip situasinya dengan apa yang dialami Siti Hajar. Maka tidak ada salahnya ketika kita mencoba mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

Berikut beberapa pelajaran yang dapat kita ambil,

1. Sangka baik atas ketetapan Allah.

Sebelum kita memaknai usaha dari Siti Hajar, kita harus menyelami terlebih dahulu ruang hati beliau saat ditempatkan di lembah gersang. Beliau yakin, ini adalah ketetapan yang baik. Jika memang ini adalah ketetapan Allah, pasti baik. Walau secara kasat mata, beliau seakan ditinggalkan di lembah gersang tak bertuan.

Titik tolak sangka baik ini adalah energi dalam usaha Siti Hajar. Siti Hajar tidak marah kepada Ibrahim suaminya. Siti Hajar juga tidak kecewa dengan putusan Allah, mengapa Ia harus ditempatkan di lembah gersang. Fikiran dan hatinya tetap positif ke Allah. Allah pasti punya maksud dan pasti ada kebaikan pada keputusan ini.

Hari ini, mungkin sebagian Anda sedang mengalami kegersangan bisnis. Mungkin bisnis Anda sedang menjerit. Mungkin juga sebagian dari Anda sedang mengalami keterdesakan disana sini. Sebelum bergerak berusaha, alangkah baiknya kita cek hati kita, apakah ada marah di hati kita? Apakah hati kita sudah ridho atas apa yang terjadi hari ini? Apakah ada sangka baik di hati kita?

Banyak diantara kita yang berusaha dalam kemarahan, "seharusnya aku gak harus begini, kalo aku gak ketemu dia!". Atau "aku kesel banget, gak perlu jadi begini kalo dia nurut sama aku!". Atau "kok Allah tega banget ya, aku diginiin, apa salahku coba".

Sangkal hati seperti diatas hanya akan membuat kita berputar-putar dalam labirin masalah. Sudah jatuh, tertimpa tangga, tertusuk paku. Sudah bermasalah, lalu kita marah kepada Allah. Repot.

Sahabatku, dengan penuh rasa empati, Saya tahu Anda kesal dan marah, tapi atas rasa sayang Saya kepada Anda, belajarlah dari Siti Hajar. Terimalah yang sudah terjadi, tatap masa depan, maafkan diri dan pihak-pihak terkait, lalu bergeraklah dengan lepas dan penuh energi positif di hati. InsyaAllah Anda akan menemukan Zam Zam Anda.

2. Berdoa, kemudian bergerak menunjukkan keyakinan.

Yang menarik dalam ibadah umroh, prosesi thawaf haruslah dalam keadaan wudhu, sedangkan tidak dengan proses Sa'i. Kode fiqh ini seakan menekankan aura "ikhtiar" didalam proses berlarinya Siti Hajar.

Apakah Siti Hajar tidak berdoa saat Ismail kecil kehausan? Ya pasti, dan rekam sejarah menunjukkan hal itu. Namun, apakah Siti Hajar berhenti di titik berdoa? Tidak sama sekali.

Siti hajar berlari 7x track shaffa - marwah dan sebaliknya. Tidak satu atau dua. Namun 7x. Sebuah simbol ikhtiar yang tidak main-main. Menandakan usaha maksimal tanpa henti.

Sama seperti kisah Nabi Musa yang pernah Saya sampaikan, jika keimanan dan amal hati saja cukup untuk menyelesaikan masalah, cukuplah keyakinan Musa bahwa Allah tidak meninggalkannya, harusnya lautan terbelah saat itu juga. Namun Allah memerintahkannya untuk memukul tongkat. Allah ingin melihat amal kita, Aksi kita, perbuatan kita.

Demikian pula dengan Siti Hajar, beliau menunjukkan keseriusannya dalam membuktikan iman, bahwa pasti ada jalan keluar, makadari itulah ia berlari.

Sahabat, aksikan yakinmu, aksikan doamu, aksikan rencana baikmu. Sekuat kamu bisa berlari, sebanyak apapun yang bisa kamu perbuat.

3. Tidak berhenti walau hasil tak terasa.

Pada awal-awal usaha pencariannya, Siti Hajar masih melibatkan fikiran logisnya, "mungkin Saya tidak teliti, Saya akan kembali lagi, siapa tahu ada air disana".

Namun setelah usaha ke 4, ke 5 dan seterusnya, beberapa redaksi yang Saya baca (silakan didiskusikan jika berbeda pendapat), Siti Hajar hanya berlari, Ia hanya terus berlari, karena itulah yang ia bisa lakukan. Dari bukit satu, ke bukit yang lain, ia tidak lagi memikirkan, apakah ada atau tidak, ia hanya ingin bergerak mencarikan air untuk Ismail, ia hanya ingin menunjukkan kepada Allah bahwa ia terus bergerak. Ia tidak diam.

Sahabat, bisa jadi ada diantara kita yang pada hari ini sedang sangat kesulitan. Bisa jadi ada diantara kita yang sangat kebingungan. Usaha menawarkan produk hanya berujung gagal dan gagal. Seperti putaran proses yang tidak ada ujungnya. Dan sebagian diantara kita memutuskan untuk berhenti, sebelum keluarnya mata air "zam zam" yang kita cari.

Sahabat, Kolonel Sandres penemu bumbu KFC, harus menawarkan bumbunya ke 1000 lebih rumah, dan barulah diterima ke rumah yang ke-seribu sekian. Thomas Alfa Edison harus melakukan ribuan kali percobaan untuk menemukan lampu. Dan banyak lagi kisah konsisten diluar sana.

Sahabat, tidak ada hasil bukan berarti tidak ada progress. Seperti pohon bambu, dalam 3 tahun pertama, tidak ada pertumbuhan yang terlihat, tapi akarnya sedang bertumbuh kebawah, menghujam, menjadi pondasi. Setelah akar kokoh, barulah bambu tersebut melesat tumbuh.

Sama seperti kita hari ini, bisa jadi yang kita lakukan seperti jalan ditempat, tetapi disanalah Allah didik otot sabar kita, Allah didik otot syukur kita, Allah didik otot kerja kita. Sehingga Allah pantaskan kita untuk besar. Allah beri pondasi. Allah kader langsung. Ini yang jarang kita sadari.

Kembali ke poin bahasan, yuk terus jualan, ndak papa gak ada yang beli, bukan berarti gak ada hasil, ini proses agar Anda makin kuat. Jangan berhenti. Jangan melemah. Jangan pundung, mutung, merajuk.

4. Solusi yang hadir bisa saja tak berhubungan dengan ikhtiar.

Sahabat, tengok Siti Hajar, area pencarian airnya ada diantara shaffa dan marwah, tetapi air zam zam nya muncul di kaki Ismail didekat baitullah. Ya Rabb, tidakkah kita melihat kebesaran Allah.

Urusan kita itu bergerak, ndak usah pusing nanti "zam-zam" nya keluar dari mana. Jika ada jalan bergerak, jika ada jalan berikhtiar, bergerak saja. Sekiranya Allah sudah menilai kita bergerak maksimal, Allah sanggup keluarkan Zam Zam kehidupan kita, dari titik yang kita tidak sangka.

Banyak sebenarnya kita dengar cerita, sahabat kita menjual donat, bertemu dengan pelanggan yang menjual mobil, dan akhirnya mobilnya gak sengaja terjual di tangan penjual donat tersebut. Bayangkan teman, jual donat dan jual mobil itu jauh banget. Namun jika Allah berkehendak, jadi! Allah hanya butuh keseriusan Anda tuk terus berlari.

Maka, kalo memang pusing, bingung mikir jalan ikhtiar, ya bergerak saja. Ada kesempatan jadi relawan, yuk gabung. Ada kesempatan bantu teman jualan gorengan, ya sudah bantu. Ada diajak teman nemenin dia lihat peternakan, hayuk bergerak. Kita ini tidak pernah tahu dimanakah Zam Zam kita berada.

5. Yakinlah, ketika kesulitan itu teratasi, akan banyak orang yang kan mendapat manfaat.

Yang terakhir, agar kita termotivasi, marilah ingat dan yakini, bahwa Zam Zam yang akan memancar nanti di kehidupan kita itu, bukan hanya untuk menyelesaikan masalah kita saja, pasti ada manfaatnya bagi orang lain.

Ada sahabat Saya hutangnya 7,7M, sekarang hampir lunas, mungkin hari ini sisa 1M. Karena usahanya yang gak berhenti-berhenti, akhirnya usaha produk digitalnya maju. Banyak affiliate yang dapat berkah. Karyawannya belasan. Mitra sinerginya banyak banget. Hampir semua orang yang bermitra dengan beliau dapat kecipratan zam zam nya. Alhamdulillah.

Jadi sahabatku, larimu hari ini bukanlah untuk dirimu saja. Sa'imu bukan hanya untuk dirimu saja. Tapi bisa jadi, sa'i mu hari ini bisa jadi sebab lahirnya bisnis yang bermanfaat dari generasi ke generasi. Jadi janganlah berhenti, besarkan jiwamu, tinggikan harapanmu. Peradaban sedang menunggu melesatnya bisnismu.

Semoga bermanfaat

 
Blogger Templates