Social Icons

Rabu, 26 Juni 2013

Inspirasi dan Menginspirasi

Semua orang menanyakan : "apakah aku akan menjadi ayah yang baik untuk anakku?" "Anak yang baik bagi kedua orang tuaku?" "Adik yang baik" "Kakak yang baik" "Cucu yang baik" "kepoankan yang baik" "Paman yang baik" "Sodara ipar yang baik" "Menantu yang baik" "Teman yang baik" "Pemimpin yang baik" dan yang paling penting dari pertanyaan itu semua adalah "Apakah aku akan menjadi Suami yang baik?"

Dan akupun sadar aku memang belum menjadi yang terbaik untuk siapapun, semua orangpun tau, di dunia ini tidak satupun yang sempurna, karena setiap orang akan berpendapat buruk dan baik, bahkan seorang Nabipun ada yang menilai dia tidak baik, yang menilai baik hanya orang yang yakin kalau orang itu baik, jadi jelas memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bahkan Syurgapun tau, kalau aku tidak sempurna, tapi mungkin dia juga akan tetap membiarkanku masuk bukan karena hal-hal baik yang ada dalam kehidupanku, tapi Syurga tau kalau dia ada yang memiliki, dan yang memiliki dialah yang membiarkan aku masuk kedalamnya.
Masih banyak yang harus aku perbaiki, tapi yang terpenting sekarang aku sudah berdiri di fase kehidupan yang kedua, setelah aku menjadi anak, sekarang aku menjadi seorang ayah, dan mungkinkah aku akan menjalani fase kehidupanku yang ketiga, itu masih rahasia, karena sampai saat inipun aku belum bisa menjadi anak yang baik, peranku saat ini jelaslah tidak banyak tapi juga tidak sedikit, kemudian apakah kelak ketika aku meninggal aku akan menjadi seorang pemain peran yang menjadi idola, karena dengan peranku saat ini, aku masih berperan seadanya, belum ada satu action yang bisa mengagumkan, tapi yang jelas saat ini aku adalah seorang actor yang berusaha. Karena adakalanya setiap peran itu bisa tergantikan dan bisa abadi selamanya, karena setiap actor tidak akan selalu berperan yang sama di sebuat penayangan. Semuanya bisa berganti dan bertahan.
Saat semuanya harus dinilai dengan baik dan buruk, aku hanya ingin sedikit menjadi sosok yang berguna dari semua peran yang aku jalani saat ini, karena sesuatu yang berguna selalu ditafsirkan menjadi sesuatu yang bermanfaat, dan sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberikan banyak manfaat bagi setiap hal di dunia ini, untuk semua material yang ada di Bumi ini, untuk semua Mahkluk yang ada di Bumi ini, dan yang paling penting bermanfaat bagi yang telah menciptakanku dan membuatku hidup sampai saat ini.
Karena itulah, walaupun aku tidak bisa menjadi yang terbaik bagi siapapun, tidak menjadi idola untuk siapapun, dan tidak menjadi hal yang menyebabkan pengaruh bagi apapun, namun aku menargetkan diriku untuk menjadi hal yngberguna untuk segala hal, karena sejatinya hidup adalah Inspirasi dan Menginspirasi.

Minggu, 09 Juni 2013

Anggota ICI Tasikmalaya yang Udah Terdafar di ID Pusat per Tanggal 09 Juni 2013

Hari ini gak mau ngoceh apa-apa dulu ah, cuman pengen ngasih tau aja, no id anak-anak ICI Tasikmalaya yang udah terdaftar listnya di id pusat, sebenernya sih list ini ane dapetin kemarin, cuman karena kemarin ada yang ultah ,hehehehe, jadi baru sempet di share hari ini,
Ok cekidot, apakah nama kalian udah terdaftar di list berikut ini, kalau belum ayo buruan daftar, Gak Inter gak cuco bro and sist, hehhehe

atribut_id id_member nama
0413 00423 hifdzi
0413 00427 Tendi Setiadi
0413 01088 Fahmi Mudzakir Bakhtiar
0413 01470 DANIEL FALAH
0413 02106 Rossy Evarista Atmadja
0413 02298 Dede Muhamad Taufik H
0413 02520 Rizal Habib Setiadi
0413 02985 Dian Andrian Nugraha
0413 03193 ivan budi irawan
0413 03346 Imam Firmansyah
0413 03456 Eka Raditya Raharja
0413 03499 Chandra "Achut" Irawan
0413 03580 Darul Faalah
0413 03903 Ipan Rusyana
0413 03908 irman hardiana
0413 04128 iman firmansyah
0513 04502 feri effendi
0513 04707 arif yosahana
0513 04735 Rizky Mulyana
0513 04782 ismat taofik
0513 04797 irfan maulana
0513 04825 Luthfi Taufiq Ilhami
0513 05143 Muhammad Dzawil Farhan
0513 05204 KARYONO
0513 05205 TRY HANDOKO
0513 05206 ADE IRWAN
0513 05207 BIQI SABIQUL BANAN
0513 05208 trifani juni arini
0513 05209 EULIS LISTIA PITRIANINGRUM
0513 05213 rian prasetia
0513 05218 kharisma malik damar
0513 05220 agit fidia nugraha
0513 05222 agung permadi
0513 05223 santi seftiani
0513 05225 piere leonard
0513 05227 dicky afandy
0513 05228 puja tri subagja
0513 05230 sandi
0513 05232 deni permana
0513 05233 andry ferdian
0513 05235 PANDU RAHAYU
0513 05237 HILMI NUGRAHA
0513 05256 muhammad ari wibawa
0513 05257 muhammad AZHARI MARTHA
0513 05258 seftya budi purnama
0513 05260 desi nur isma
0513 05261 Ifan Nurhidayah
0513 05267 Cipta Nugraha
0513 05405 erpin efendi
0513 05406 ucep abdul irfan
0513 05407 eka aji mustari
0513 05466 Adjie Kustiadi
0513 05602 Tryan Julius Saputra
0513 05603 ricky ramlan
0513 05604 fachmi muhamad helmi
0513 05605 M. ANGGA QUTRUNNIDA
0513 05606 LUKMAN IPAN NULHAKIM
0513 05607 DADAN NUGRAHA
0513 05609 Egi Mochamad Rizki Fauzi
0513 05619 Dedi Iskandar
0513 05625 asep hendri
0613 06691 Fahad riyadi
0613 06710 taufiq trisnayadi
0613 06715 fikri zulfikar
0613 06738 N SAEPULOH
0613 06739 RAHMAT RAHMAWAN
0613 06740 ELAN MUHAMAD SETIA
0613 06741 dimas abdilah mubarok
0613 06742 sutisna rahmat
0613 06743 bayu fazrien
0613 06744 riza hamzah asari azis

Jumat, 07 Juni 2013

Cerita dari Sahabat FOSMA 165

Menikah di usia 20 tahun, kuliah di Kebidanan semester 4, dibiayai oleh kakak sulung. Dengan calon suami berusia 21 tahun, sedang kuliah, membiayai diri sendiri, belum mempunyai pekerjaan, menanggung 6 adiknya untuk hidup. Apa anda berani menikah dalam keadaan seperti itu? Rumit, banyak mainset yang perlu diubah. Apa yang terjadi? saat mindset sang wanita sudah berubah, begitu pula mindset sang lelaki sudah berubah, Lamaran itu ditolak orangtua pihak wanita karena pertanyaan, "Apa yang kamu punya untuk menikah?".

"Saya memang belum mempunyai apa-apa dari segi materi, pak. Saya hanya minta keridhoan bapak dan ibu untuk menikahkan saya dengan putri bungsu bapak dan ibu. Saya hanya berpijak pada keimanan saya yang belum cukup, selalu tidak cukup. Saya hanya takut, jika pernikahan ini menunggu materi yang saya punya nanti, saya malah tergelincir berbuat maksiat kepada-Nya. Tidak ada yang bisa menjamin, saya dan putri bapak yang saling mencintai karena Allah dapat terhindar dari maksiat dan dosa, meskipun kami sendiri tidak berniat untuk melakukannya. Na'udzubillahi min dzalik. Nabi Adam pun dapat tergelincir rayuan dan bisikan syetan, padahal ia bertemu langsung dengan Allah. Keimanannya pun pastilah sangat kuat. Apatah lagi saya yang bukan siapa-siapa, keimanan saya terlalu rapuh, saya tidak pernah bertemu langsung dengan-Nya. Yang saya punya hanya keinginan kuat untuk berada dalam jalan yang diridhoi-Nya dengan mengikuti Rasulullah, menjalankan sunnah untuk menyempurnakan setengah dari agama."

Dan jawabannya, "Kami pun tidak terlalu mengunggulkan materi, hanya saja kita tetap perlu untuk kelangsungan kehidupan sehari-hari. Saya tidak menolak, tapi tolong ditangguhkan sampai kalian mampu. minimal untuk hidup kalian saja" Sang Bapakpun menjawab.

Matapun pedih, panas, hati pilu. Lelaki sholeh yang asalnya pun belum berniat menikah pada usia yang demikian muda, namun untuk menjaga fitnah dirinya dan wanita yang dicintainya, ditolak karena belum mempunyai materi apa-apa. Ia pun pulang dengan senyum. Harus tetap dalam keadaan baik, apapun yang terjadi. Prinsipnya.

Malam hari setelah peristiwa. "Bapak, kalau Bapak mengaku mencintai Rasul. Tahu tidak apa yang Beliau katakan tentang ini?" sang putri pun mengingatkan.

"Silakan sayang, utarakan. Apa kata Beliau?" tanya sang ayah mempersilakan.

"Kalau tidak salah, redaksinya seperti ini. Barangsiapa menolak lamaran seorang lelaki yang sholeh, maka tunggulah fitnah yang akan menghampirinya."

"Nak, Bapak bukan menolak. Tapi menunda."

"Ini bukan bentuk pemaksaan atau pembelaan diri, coba dengar dan ikuti suara hati ayah... Kita tidak pernah tahu, sampai kapan kita hidup. Kenapa kita berani menunda? seolah olah kita tahu kapan datangnya ia (kematian)."

"Baiklah kalau tidak ditunda. Bagaimana dengan tempat tinggalmu?"

"Tidak maukah ayah, aku tinggal disini sementara bersama suamiku. Atau bila tidak aku tinggal di sini dan suamiku tinggal di rumah ibunya. Sementara sampai kami mampu?"

"Tentu ayah mau. Tapi apa kata orang, sayang?"

"Bila ada yang berani menggunjing. Biarlah ia bertanggung jawab atas apa yang dikatakannya. Generasi terbaik pun pernah mengalaminya. Saat 'Aisyah r.a dinikahi Rasulullah. Ia tinggal bersama orangtuanya (Abu Bakar Ash-Shidiq r.hum), sedangkan Rasulullah di Madinah. Beliau tidak mempermasalahkannya, kenapa kita mempermasalahkan. Keimanan yang membuatnya indah, Ayah!"

"Kamu benar sayang, bagaimana dengan biaya hidup atau minimal makanmu sehari-hari?"

"Ayah, kami punya iman. Kami bukan orang-orang yang hanya ingin berpangku tangan. Kami akan berusaha, terus berusaha. Sekali lagi, ridhokah Ayah sementara waktu menanggung biaya makan putri Ayah yang sudah menikah?"

"............... Ridho sayang. Sangat ridho. Tapi kok, kesannya suamimu enak banget. Hanya ingin menikahi tanpa harus menanggungmu."

"Abu Bakar tidak pernah bilang begitu pada Rasulullah, Ayah!"

"...................................................."

"Kami akan berusaha, Ayah. Akan. Kami berjanji! Iman penuntun kami! Baiklah kalau begitu ada pilihan lain."

"Apa itu?"

"Nabi SAW bersabda: Tidak ada kewajiban bagi suami untuk menafkahi istrinya, sebelum ia melihat istrinya dalam keadaan tidak menutup auratnya (tidak berpakaian). Bagaimana kalau selama kami belum mampu, suamiku diminta bersabar untuk tidak melihat auratku. Insya Allah ia pun tidak akan menuntut karena niat kami menikah bukan semata-mata karena syahwat? Bagaimana jawaban ayah nanti di hadapan Allah dan Rasul-Nya saat ternyata memang ada solusi yang sudah Rasul terangkan, tapi tetap dibantah hanya karena materi?"

"Rasulullah benar! Baiklah. Ayah mengerti. Bagaimana dengan pesta pernikahanmu?"

"Sebaik-baik wanita adalah yang tidak menyulitkan dalam maharnya. Kesholehannya sudah cukup dan tak akan tergantikan dengan apapun, Ayah. Tidak dirayakanpun tidak apa-apa. Karena hakikat pernikahan bukan pada pestanya. Tapi keteduhannya hingga akhir hayat. Pesta meriah dan megah tidak menjadi jaminan keutuhan rumah tangga. Memang sekali seumur hidup, hakikatnya bukan pestanya yang dimaknai sekali seumur hidup, tapi pernikahannya yang diharapkan sekali seumur hidup. Memang indah, menjadi Ratu dan Raja semalam pada pesta pernikahan. Tapi, apa keinginan itu harus sampai mengeluarkan uang puluhan juta? Belum tentu pernikahan nan megah itu menjadi ingatan orang. Lalu sebenarnya untuk apa? Lebih baik, itu untuk biaya hidup sehari-hari. Tidak menyusahkan orang tua dan tidak menyusahkan calon suami. Biarlah senyuman Allah mengiringi kami. Kami ridho."

"Subhanalloh!"

"Seperti Zainab dan Muhammad, menikah tanpa dirayakan. Tapi kerajaan langit langsung yang merayakan. Tidak ada yang lebih indah dari itu!"

"Benar!"

"Ayah, jadi apapun aku nanti. Jadi bidan yang kaya raya, jadi wanita sukses, sedangkan suami tidak seperti itu. Bukan pelegalanku untuk merendahkannya. Jadi sehebat dan sekaya apapun, aku tetap istri. Hartanya ia berikan pada suami pun menjadi pahala yang besar baginya. Aku ridho, ayah. Aku tidak ingin orang-orang yang aku cintai harus kesusahan menanggung hidupku, aku akan membantunya menafkahi rumah tangga, dengan bekerja sesuai dengan kodratku dan atas izin darinya, ketika ia belum mampu. Khadijah r.a sudah mencontohkannya, saudagar kaya raya itu memberikan seluruh hartanya untuk suaminya tanpa merendahkannya. Tetap menaatinya. Karena iman, ayah. Itu yang ingin aku ikuti."

"............................................" sang ayah tak berkata, hanya linangan air matanya yang mendera.

"Ia anak sulung dari 7 bersaudara. Siapa yang salah? Tidak ada yang salah. Betapa malangnya ia tidak diinginkan wanita hanya karena menanggung banyak adiknya, padahal ia begitu sholeh dan hafal Al-Qur'an. Siapa yang bisa memilih, dimana kita akan dilahirkan? Siapa orangtua kita? Berapa jumlah adik kita? Dari keluarga mampukah atau dari seorang ayah pemecah batu? Seorang Nabi pun menangis mencium tangan seorang pemecah batu untuk menafkahi keluarganya. Kenapa kita tidak? Kenapa kita menolak? Siapakah kita dibanding dengan Rasulullah? Bukan salahnya dia anak sulung dari 7 bersaudara, bukan keinginannya pula. Jangan khawatir ayah, do'akan kami mampu menjalani hidup ini...."

"Baik sayang, baik. Ayah ridho. Ibu Ridho. Semogapun Allah Ridho. Keimanan, itu solusinya. Semua bisa berubah menjadi indah dan mudah di tangan orang yang beriman...."

Berhasil! Sayapun telah menikah tanpa dirayakan. Maharpun tidak menyusahkan. Kuliah tetap lanjut. Akhirnya suamipun mempunyai pekerjaan yang mapan. Semoga hidup ini senantiasa diliputi iman. Amiin....

Malati Puspa Endah

Kamis, 06 Juni 2013

Antara Aku,Mesjid, dan Gunung

Setelah beberapa waktu yang lalu gue mosting tentang hal-hal yang udah sering kalian baca,atau hal-hal yang kalian mungkin lebih tau daripada gue,saat ini gue pengen banget ngungkapin beberapa hal yang mungkin sebagian orang juga menikmati sebuah hobi gue yang satu ini,
Seperti kita ketahui,banyak banget orang di dunia ini sekarang udah mulai menyadari pentingnya menjaga mencintai planet yang kita tinggali,satu-satunya planet yang bisa membuat Makhluk hidup bisa hidup,ya BUMI,banyak banget sekarang kampanye-kampanye dari beberapa komunitas,anak-anak Mahasiswa menggalangkan tema Back To Natur, Bike Packer, Bike To Work,Bike To Campus,Bike to School, ya pada intinya meringankan kerja Bumi lha.
Sampai detik ini,hal-hal yang berkaitan dengan Alam juga semakin banyak,bahkan sekolahpun sekarang sudah menerapkan sistem sekolah alam.
Sejak dulu gue emang lebih suka hal-hal yang berkaitan dengan petualangan, dari mulai jalan-jalan antar kota ke kota (backpacker-an) sampai jalan-jalan ke Alam Liar.
Soal hobi gue ini,awalnya ortuku kurang mendukung,tapi karena dari dasarnya gue itu orangnya bebal,jadi mau gak mau ortu tetep ngedukung juga,walaupun agak sedikit ngedumel gitu,hahaha
Kembali ke judul awal ya,karena dari tadi gue akui prolog yang gue tulis ini ngelanturnya jauh kemana-kemana,karena jujur gue juga gak punya bahan buat nulis prolog di postingan gue ini,jadi gue langsung ke inti aja lha ya.

Udah beberapa tahun ini,hobi gue jalan-jalan semakin tidak bisa dikendalikan,bahkan setelah gue nikah dan punya anak kayak sekarang ini, boleh dibilang sekarang malah lebih menggila,kalau dulu awal-awal nikah ya jalan-jalannya bisa sama istri kalau sekarang pas udah punya baby ya kepaksa ke luar rumah sendirian,karena anak kami masih berusia 4 bulan saat ini, jadi gak mungkin banget kalau di ajak jalan-jalan ke alam bebas.
Disamping jalan-jalan itu, udah beberapa bulan ini juga gue mulai gabung di sebuah komunitas Muslim, yaitu jemaah Tabligh, gue akui gue nyaman di sini,karena gue yang emang pada dasarnya sangat kurang ilmu dan amalan dalam keagamaan,ya mulai sedikit demi sedikit nambahin ilmu dan banyakin amalan keagamaan gue, naif sih tapi ya itulah gue sekarang.
Tapi akhir-akhir ini gue ngerasa ada sesuatu hal yang bagi gue kurang ngeklop,ntahlah.
Gue gak tau ini bisikan Syaitan atau emang dari dasar hati gue aja,
Jadi ceritanya, dua minggu ke belakang itu gue terkena penyakit yang umum orang lain juga ngerasakannya yaitu gejala DBD dan Typus, sakitnya sih biasa aja,tapi selama dua minggu itu gue ngerasa punya pengalaman bathin yang ya lumayan ngena bagi gue,
Kemudian ya gue bersyukur karena gue masih diberi kesempatan untuk sehat, dan gue pun kembali dengan rutinitas gue, terutama kumpul dengan para jemaah tabligh lagi.
Tapi rutinitas gue setelah sakit ini,membuat gue ngerasa beda, terutama ketika gue solat di mesjid,antara maghrib dan isya,ada rasa yang membuat gue ngerasa angkuh,ketika gue ada di dalam mesjid semua yang gue rasakan begitu terasa santai,kalau bahasa extreme nya gue ngerasa udah bener,ngerasa bersih,karena perasaan-perasaan itulah gue mikir kok gue begini ya,gak ada rasa yang lebih-lebih dan lebih lagi,bahkan Jujurnya semua itu gue lakukan hanya keritualan saja,maaf disini gue gak mau bikin prpvokasi atau apa,gue cuman share aja apa yang gue alami,intinya sembahyang yang gue lakuin kok rasanya kayak hambar gitu,sampai-sampai gue nangis,karena gue malu sama Tuhan,apa begini cara Ibadah Hamba yang bercita-cita masuk Syurga dan Bertemu dengan Tuhan,jangankan Tuhan,gue aja. Gue ini Nol,dan hal ini sungguh sungguh sangat berbeda ketika dulu-dulu gue sering naik gunung,ada timbul rasa takut gue,gue selalu merasa kotor sampai-sampai gue selalu beristigfar,karena gue takut apa yang gue lakukan itu salah,disinilah gue ngerasa Kalau Tuhan itu dekat dengan gue *maaf bukan ya,gue bukan ngeracunin kalian buat hobi naik gunung juga,bukan sangat bukan*.
Sekarang intinya, gue random banget nulis ini itu di postingan gue saat ini,tapi yang jelas, gue cuman gak mau aja kalian yang baca ngerasa hal yang sama kayak gue,hehhe *songong ya gue sok sok an ngajarin*
Dari dulu gue selalu punya statment : Bersyukur, Bersabar, dan Ikhlas.
Bersyukur dengan hal baik yang gue terima dalam kehidupan ini.
Bersabar dengan hal yang gak sesuai dengan keinginan Gue.
Dan Ikhlas dengan hal yang mesti gue jalanin.
Mungkin dua hal yang perlu gue garis bawahi dari kegiatan gue di Mesjid dan di Gunung adalah pembuktian aplikasi diantara tiga statment gue itu, yaitu Gunung tempat Gue bersabar karena selama di Gunung banyak hal yang mungkin di luar akal, gue harus berusaha terus bersabar dalam kemungkikan hal yang akan gue alami selama di gunung, sabar dalam menuju puncak,sabar ketika kekurangan logistik,sabar ketika ada konflik sesama pendaki,sabar dalam beribadah,serta sabar dalam bersabar.
Setelah di puncak ya tinggal Aku dan Tuhan saat itu,karena gue sadar kalau bukan Tuhan siapa lagi yang bakalan ngejaga gue.
Dan yang kedua adalah Mesjid, dan gue aplikasikan kalau Mesjid tempat gue Bersyukur,dan jujur tangisan gue lebih kenceng disaat gue bersyukur,jadi hal yang akhir-akhir ini gue alamin di mesjid bagi gue adalah hal yang mungkin semua orang juga pernah mengalami itulah kenapa akhir-akhir ini gue sering mosting tentang ketahuidan,cara seorang manusia mencari Tuhan dalam dirinya,Gue sengaja belajar dari Ibrahim, dan dua Sahabat Rasulullah, mereka belum pernah melihat Syurga,tapi mereka yakin akan Syurga sehingga mereka menikmati cara mereka mencari Tuhan, dan Mungkin inilah saat gue untuk bisa seperti itu, tidak mirip dengan cara mereka Bertuhan, tapi sedikit mengikuti cara mereka dan sedikit menyerupai hal yang mereka jalani. Apakah gue nyaman, yup gue nyaman, karena gue bisa ikhlas menjalani dua kegiatan gue ini.
Jadi buat temen-temen pesan gue adalah jangan pernah ragu ngelakuin apa yang temen-temen sukai, jadikan semua itu alat buat temen-temen semakin deket dengan Tuhan, jangan dibuat-buat,jangan dikurang-kurangi,dijalani saja, dinikmati saja,karena pada akhirnya Tuhanpun akan menyetuji cara kita mencintaiNya,dan Tuhan selalu punya cara untuk kita yang disayangnya supaya kita bisa bertemu denganNya,dan saran gue, Sukailah cara Tuhan Mencintai kita.
Karena tidak semua kekasih diperlakukan sama oleh kekasihnya, walaupun intinya sama : CINTA.
Kita Lihat cara Tuhan Mencintai Ibrahim dan Mencintai Muhammad. Apakah sama, menurut gue sih beda.
Silakan cari sendiri perbedaan Antara Tuhan Mencintai Ibrahim dan Cara Tuhan Mencintai Muhammad, karena kalau gue yang cerita takutnya ada perbedaan persepsi. Hehehe

Sekian dulu postingan gue kali ini,
Selamat menikmati Cara kalian BerTuhan ya.
Karena belum tentu orang yang rajin Sembahyang, udah bisa tau dimana titik letak Tuhannya, agama apapun itu.
Yuk dadah,hehehe
Oh iya selamat yang ntar sore mau nonton Bola, selamat nonton ya, yang ke GBK hati-hati di jalan, karena ntar ada Pemaen Favorit Gue lho yang maen, Wesley Sneijder, tanggal lahirnya sama lho dengan ue, besok Minggu Tanggal 09 Juni, hehehe
#okSemakinAbsurdAjaTulisanGueKaliIni
Ya udah ah, dadah ya dadah

Brebes, 06 Juni 2013

Awalnya dulu pertengahan Tahun 2010, ketika organisasi saya Tercinta akan mengadakan Munas, yaitu FOSMA 165.
Pin BB saya di invite oleh salah satu panitia acara Munas tersebut, dan kenalanlha kita,namanya Citra, berhubung yang berangkat dari Tasik ke Semarang cuman saya sendiri, jadi gak ada yang bisa ditanya-tanya,otomatis saya jadi sering nanya ya ke Mbak Citra ini,itu kurang lebih dua bulan sebelum munas,cuman pas menjelang munas, kebetulan saya defisit keuangan jadi otomatis demi berangkat ke Munas Fosma 165 di Semarang itu saya jual BB saya, resikonya ya saya lost contact dengan Citra ini,panitia satu-satunya yang bisa saya tanya-tanya. Tapi masa bodolha,toh ntar juga saya janjian dengan teman di Purwokerto. Berangkatlha saya pas hari H itu ke Semarang, dengan janjian dulu sama Teman di Purwokerto.
Pas ketemu di Munas,ya jujur belum tau yang mana orangnya ini,bahkan sampai acara selesaipun aku sama citra ini gak ada saling sapa.
Nah kita baru bisa bener-bener ketemu pas di Acara Training SCC 3G di Jakarta, bertepatan pas Final Piala AFF antara Indonesia dan Malaysia. Lumayan bisa ngobrol-ngobrol, anaknya sih asyik, ya asyiklha pokoknya.
Udah pas itu kita gak pernah ketemu-ketemu lagi,paling kabar-kabaran aja via medsoc sama BB,
Pokoknya ceritanya kalau di runtutuin panjanglha,ke kiri ke kanan pokoknya ceritanya, udah lost contact lagi lha pas saat itu.
Tiba akhirnya pas akhir Tahun 2012 saya mendapat kabar dia Tunangan dengan Teman sekantornya, wah sureprise banget, lama gak kabar-kabaran eh udah Tunangan aja, seneng bercampur heran,tapi herannya di lempar aja,tinggal senengnya aja.
6 bulan lebih dari acara Tunangan itu, akhirnya hari ini Tepatnya tanggal 06 Juni 2013, dia udah melepas masa lajangnya, dia udah resmi jadi nyonya Danu, dan mungkin besok adalah keramas pertamanya yang bakalan diledekin semua orang. #youKnowWhatIMean lha ya.hehehee
Hoorreee tantenya alky udah nikah sekarang, alky jadi bisa minta jajan nih sama tante Citra sama Om Danu,
Maafin Alky ya Tante, Alky,Bunda,sama Ayah gak bisa dateng ke acara nikahannya tante,
Tapi Insyaallah Do'anya nyampai ya tante Insyaallah.

Semoga Tante jadi Istri yang Lembut perilakunya, taat sama suami, menjadi semakin Sholehah, dan berjodoh di Dunia dan di Akhirat,
Semoga Ini baik,Insyaallah

Senin, 03 Juni 2013

Nikah Kawin Manttaappp

Menikah, Kenapa Takut?


Kita hidup di zaman yang mengajarkan pergaulan bebas, menonjolkan aurat, dan mempertontonkan perzinaan. Bila mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang tidak hanya merusak diri, melainkan juga menghancurkan institusi rumah tangga, mengapa kita takut untuk mentaati Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita beralasan ada resiko yang harus dipikul setelah menikah, bukankah perzinaan juga punya segudang resiko? Bahkan resikonya lebih besar. Bukankankah melajang ada juga resikonya?

Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya, maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan pernikahan dan menolak perzinaan.

Saya sering ngobrol, dengan kawaan-kawan yang masih melajang, padahal ia mampu untuk menikah. Setelah saya kejar alasannya, ternyata semua alasan itu tidak berpijak pada fondasi yang kuat: ada yang beralasan untuk mengumpulkan bekal terlebih dahulu, ada yang beralasan untuk mencari ilmu dulu, dan lain sebagainya. Berikut ini kita akan mengulas mengenai mengapa kita harus segera menikah? Sekaligus di celah pembahasan saya akan menjawab atas beberapa alasan yang pernah mereka kemukakan untuk membenarkan sikap.

Menikah itu Fitrah

Allah Taala menegakkan sunnah-Nya di alam ini atas dasar berpasang-pasangan. Wa min kulli syai’in khalaqnaa zaujain, dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan (Adz-Dzariyaat: 49). Ada siang ada malam, ada laki ada perempuan. Masing-masing memerankan fungsinya sesuai dengan tujuan utama yang telah Allah rencanakan. Tidak ada dari sunnah tersebut yang Allah ubah, kapanpun dan di manapun berada. Walan tajida lisunnatillah tabdilla, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah (Al-Ahzab: 62). Walan tajida lisunnatillah tahwiila, dan kamu tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan kami itu. (Al-Isra: 77)

Dengan melanggar sunnah itu berarti kita telah meletakkan diri pada posisi bahaya. Karena tidak mungkin Allah meletakkan sebuah sunnah tanpa ada kesatuan dan keterkaitan dengan sIstem lainnya yang bekerja secara sempurna secara universal.

Manusia dengan kecanggihan ilmu dan peradabannya yang dicapai, tidak akan pernah mampu menggantikan sunnah ini dengan cara lain yang dikarang otaknya sendiri. Mengapa? Sebab, Allah swt. telah membekali masing-masing manusia dengan fitrah yang sejalan dengan sunnah tersebut. Melanggar sunnah artinya menentang fitrahnya sendiri.

Bila sikap menentang fitrah ini terus-menerus dilakukan, maka yang akan menanggung resikonya adalah manusia itu sendiri. Secara kasat mata, di antara yang paling tampak dari rahasia sunnah berpasang-pasangan ini adalah untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia dari masa ke masa sampai titik waktu yang telah Allah tentukan. Bila institusi pernikahan dihilangkan, bisa dipastikan bahwa mansuia telah musnah sejak ratusan abad yang silam.

Mungkin ada yang nyeletuk, tapi kalau hanya untuk mempertahankan keturunan tidak mesti dengan cara menikah. Dengan pergaulan bebas pun bisa. Anda bisa berkata demikian. Tetapi ada sisi lain dari fitrah yang juga Allah berikan kepada masing-masing manusia, yaitu: cinta dan kasih sayang, mawaddah wa rahmah. Kedua sisi fitrah ini tidak akan pernah mungkin tercapai dengan hanya semata pergaulan bebas. Melainkan harus diikat dengan tali yang Allah ajarkan, yaitu pernikahan. Karena itulah Allah memerintahkan agar kita menikah. Sebab itulah yang paling tepat menurut Allah dalam memenuhi tuntutan fitrah tersebut. Tentu tidak ada bimbingan yang lebih sempurna dan membahagiakan lebih dari daripada bimbingan Allah.

Allah berfirman fankihuu, dengan kata perintah. Ini menunjukan pentingnya hakikat pernikahan bagi manusia. Jika membahayakan, tidak mungkin Allah perintahkan. Malah yang Allah larang adalah perzinaan. Walaa taqrabuzzina, dan janganlah kamu mendekati zina (Al-Israa: 32). Ini menegaskan bahwa setiap yang mendekatkan kepada perzinaan adalah haram, apalagi melakukannya. Mengapa? Sebab Allah menginginkan agar manusia hidup bahagia, aman, dan sentosa sesuai dengan fitrahnya.

Mendekati zina dengan cara apapun, adalah proses penggerogotan terhadap fitrah. Dan sudah terbukti bahwa pergaulan bebas telah melahirkan banyak bencana. Tidak saja pada hancurnya harga diri sebagai manusia, melainkan juga hancurnya kemanusiaan itu sendiri. Tidak jarang kasus seorang ibu yang membuang janinnya ke selokan, ke tong sampah, bahkan dengan sengaja membunuhnya, hanya karena merasa malu menggendong anaknya dari hasil zina.

Perhatikan bagaimanan akibat yang harus diterima ketika institusi pernikahan sebagai fitrah diabaikan. Bisa dibayangkan apa akibat yang akan terjadi jika semua manusia melakukan cara yang sama. Ustadz Fuad Shaleh dalam bukunya liman yuridduz zawaj mengatakan, “Orang yang hidup melajang biasanya sering tidak normal: baik cara berpikir, impian, dan sikapnya. Ia mudah terpedaya oleh syetan, lebih dari mereka yang telah menikah.”

Menikah Itu Ibadah

Dalam surat Ar-Rum: 21, Allah menyebutkan pentingnya mempertahankan hakikat pernikahan dengan sederet bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam semesta. Ini menunjukkan bahwa dengan menikah kita telah menegakkan satu sisi dari bukti kekusaan Allah swt. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah saw. lebih menguatkan makna pernikahan sebagai ibadah, “Bila seorang menikah berarti ia telah melengkapi separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah pada paruh yang tersisa.” (HR. Baihaqi, hadits Hasan)

Belum lagi dari sisi ibadah sosial. Dimana sebelum menikah kita lebih sibuk dengan dirinya, tapi setelah menikah kita bisa saling melengkapi, mendidik istri dan anak. Semua itu merupakan lapangan pahala yang tak terhingga. Bahkan dengan menikah, seseorang akan lebih terjaga moralnya dari hal-hal yang mendekati perzinaan. Alquran menyebut orang yang telah menikah dengan istilah muhshan atau muhshanah (orang yang terbentengi). Istilah ini sangat kuat dan menggambarkan bahwa kepribadian orang yang telah menikah lebih terjaga dari dosa daripada mereka yang belum menikah.

Bila ternyata pernikahan menunjukkan bukti kekuasan Allah, membantu tercapainya sifat takwa. dan menjaga diri dari tindakan amoral, maka tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan merupakan salah satu ibadah yang tidak kalah pahalanya dengan ibadah-ibadah lainnya. Jika ternyata Anda setiap hari bisa menegakkan ibadah shalat, dengan tenang tanpa merasa terbebani, mengapa Anda merasa berat dan selalu menunda untuk menegakkan ibadah pernikahan, wong ini ibadah dan itupun juga ibadah.

Pernikahan dan Penghasilan

Seringkali saya mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba waktu menikah, jika ditanya mengapa tidak menikah, ia menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup. Padahal waktu itu ia sudah bekerja. Bahkan ia mampu membeli motor dan HP. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil. Setiap hari ia harus memengeluarkan biaya yang cukup besar dari penggunakan HP, motor, dan mobil tersebut. Bila setiap orang berpikir demikian apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia?

Saya belum pernah menemukan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melarang seorang sahabatnya yang ingin menikah karena tidak punya penghasilan. Bahkan dalam beberapa riwayat yang pernah saya baca, Rasulullah saw. bila didatangi seorang sahabatnya yang ingin menikah, ia tidak menanyakan berapa penghasilan yang diperoleh perbulan, melainkan apa yang ia punya untuk dijadikan mahar. Mungkin ia mempunyai cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran.

Apa yang tergambar dari kenyatan tersebut adalah bahwa Rasulullah saw. tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai masalah, melainkan sebagai pemecah persoalan. Bahwa pernikahan bukan sebuah beban, melainkan tuntutan fitrah yang harus dipenuhi. Seperti kebutuhan Anda terhadap makan, manusia juga butuh untuk menikah. Memang ada sebagian ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya seperti yang terkumpul dalam buku Al-ulamaul uzzab alladziina aatsarul ilma ‘alaz zawaj. Tetapi, itu bukan untuk diikuti semua orang. Itu adalah perkecualian. Sebab, Rasulullah saw. pernah melarang seorang sahabatanya yang ingin hanya beribadah tanpa menikah, lalu menegaskan bahwa ia juga beribadah tetapi ia juga menikah. Di sini jelas sekali bagaimana Rasulullah saw. selalu menuntun kita agar berjalan dengan fitrah yang telah Allah bekalkan tanpa merasakan beban sedikit pun.

Memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap para jejaka muda maupun tua dalam memasuki wilayah pernikahan. Sebab yang terbayang bagi mereka ketika menikah adalah keharusan membangun rumah, memiliki kendaraan, mendidik anak, dan seterusnya di mana itu semua menuntut biaya yang tidak sedikit. Tetapi kenyataannya telah terbukti dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan tahun yang lalu bahwa banyak dari mereka yang menikah sambil mencari nafkah. Artinya, tidak dengan memapankan diri secara ekonomi terlebih dahulu. Dan ternyata mereka bisa hidup dan beranak-pinak. Dengan demikian kemapanan ekonomi bukan persyaratan utama bagi sesorang untuk memasuki dunia pernikahan.

Mengapa? Sebab, ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan setelah pernikahan. Artinya, untuk meraih jatah rezki tersebut pintu masuknya menikah dulu. Jika tidak, rezki itu tidak akan cair. Inilah pengertian ayat iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha mengetahui (An-Nur: 32). Ini adalah jaminan langsung dari Allah, agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan pernikahan. Artinya, masalah rezki satu hal dan pernikahan hal yang lain lagi.

Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, “Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup.” Al-Qurthubi berkata, “Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan.” (lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut).

Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan.” (HR. Turmudzi dan Nasa’i)

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.” (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian ayat di atas. Di mana Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun pernikahan.

Persoalannya sekarangan, mengapa banyak orang berkeluarga yang hidup melarat? Kenyataan ini mungkin membuat banyak jejaka berpikir dua kali untuk menikah. Dalam masalah nasib kita tidak bisa mengeneralisir apa yang terjadi pada sebagian orang. Sebab, masing-masing ada garis nasibnya. Kalau itu pertanyaanya, kita juga bisa bertanya: mengapa Anda bertanya demikian? Bagaimana kalau Anda melihat fakta yang lain lagi bahwa banyak orang yang tadinya melarat dan ternyata setelah menikah hidupnya lebih makmur? Dari sini bahwa pernikahan bukan hambatan, dan kemapanan penghasilan bukan sebuah persyaratan utama.

Yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal. Saya yakin bahwa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya. Berzina pun bukan berarti setelah itu selesai dan bebas tanggungjawab. Melainkan setelah itu ia harus memikul beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan. Kalau tidak harus mengasuh anak zina, ia harus menanggung dosa zina. Keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang, tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan.

Bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan, karena masing-masing dari suami istri saling melengkapi dan saling menopang. Ditambah lagi bahwa masing-masing ada jatah rezekinya yang Allah sediakan. Tidak jarang seorang suami yang bisa keluar dari kesulitan ekonomi karena jatah rezeki seorang istri. Bahkan ada sebuah rumah tangga yang jatah rezekinya ditopang oleh anaknya. Perhatikan bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling menopang dalam mentaati Allah, melainkan juga dalam sisi ekonomi.

Pernikahan dan Menuntut Ilmu

Seorang kawan pernah mengatakan, ia ingin mencari ilmu terlebih dahulu, baru setelah itu menikah. Anehnya, ia tidak habis-habis mencari ilmu. Hampir semua universitas ia cicipi. Usianya sudah begitu lanjut. Bila ditanya kapan menikah, ia menjawab: saya belum selesai mencari ilmu.

Ada sebuah pepatah diucapkan para ulama dalam hal mencari ilmu: lau anffaqta kullaha lan tashila illa ilaa ba’dhiha, seandainya kau infakkan semua usiamu –untuk mencari ilmu–, kau tidak akan mendapatkannya kecuali hanya sebagiannya. Dunia ilmu sangat luas. Seumur hidup kita tidak akan pernah mampu menelusuri semua ilmu. Sementara menikah adalah tuntutan fitrah. Karenanya, tidak ada aturan dalam Islam agar kita mencari ilmu dulu baru setelah itu menikah.

Banyak para ulama yang menikah juga mencari ilmu. Benar, hubungan mencari ilmu di sini sangat berkait erat dengan penghasilan. Tetapi banyak sarjana yang telah menyelesaikan program studinya bahkan ada yang sudah doktor atau profesor, tetapi masih juga pengangguran dan belum mendapatkan pekerjaan. Artinya, menyelesaikan periode studi juga bukan jaminan untuk mendapatkan penghasilan. Sementara pernikahan selalu mendesak tanpa semuanya itu. Di dalam Alquran maupun Sunnah, tidak ada tuntunan keharusan menunda pernikahan demi mencari ilmu atau mencari harta. Bahkan, banyak ayat dan hadits berupa panggilan untuk segera menikah, terlepas apakah kita sedang mencari ilmu atau belum mempunyai penghasilan.

Berbagai pengalaman membuktikan bahwa menikah tidak menghalangi seorang dalam mencari ilmu. Banyak sarjana yang berhasil dalam mencari ilmu sambil menikah. Begitu juga banyak yang gagal. Artinya, semua itu tergantung kemauan orangnya. Bila ia menikah dan tetap berkemauan tinggi untuk mencari ilmu, ia akan berhasil. Sebaliknya, jika setelah menikah kemauannya mencari ilmu melemah, ia gagal. Pada intinya, pernikahan adalah bagian dari kehidupan yang harus juga mendapatkan porsinya. Perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ia berjuang juga menegakkan rumah tungga yang Islami.

Rasulullah saw. telah memberikan contoh yang sangat mengagumkan dalam masalah pernikahan. Beliau menikah dengan sembilan istri. Padahal beliau secara ekonmi bukan seorang raja atau konglomerat. Tetapi semua itu Rasulullah jalani dengan tenang dan tidak membuat tugas-tugas kerasulannya terbengkalai. Suatu indikasi bahwa pernikahan bukan hal yang harus dipermasalahkan, melainkan harus dipenuhi. Artinya, seorang yang cerdas sebenarnya tidak perlu didorong untuk menikah, sebab Allah telah menciptakan gelora fitrah yang luar biasa dalam dirinya. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Masing-masing orang lebih tahu dari orang lain mengenai gelora ini. Dan ia sendiri yang menanggung perih dan kegelisahan gelora ini jika ia terus ditahan-tahan.

Untuk memenuhi tuntutan gelora itu, tidak mesti harus selesai study dulu. Itu bisa ia lakukan sambil berjalan. Kalaupun Anda ingin mengambil langkah seperti para ulama yang tidak menikah (uzzab) demi ilmu, silahkan saja. Tetapi apakah kualitas ilmu Anda benar-benar seperti para ulama itu? Jika tidak, Anda telah rugi dua kali: ilmu tidak maksimal, menikah juga tidak. Bila para ulama uzzab karena saking sibuknya dengan ilmu sampai tidak sempat menikah, apakah Anda telah mencapai kesibukan para ulama itu sehingga Anda tidak ada waktu untuk menikah? Dari sini jika benar-benar ingin ikut jejak ulama uzzab, yang diikuti jangan hanya tidak menikahnya, melainkan tingkat pencapaian ilmunya juga. Agar seimbang.

Kesimpulan

Sebenarnya pernikahan bukan masalah. Menikah adalah jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah menganjurkan agar berpuasa, itu hanyalah solusi sementara, ketika kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan. Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya tidak ada alasan yang bisa dijadikan pijakan untuk menunda pernikahan.

Agar pernikahan menjadi solusi alternatif, mari kita pindah dari pengertian “pernikahan sebagai beban” ke “pernikahan sebagai ibadah”. Seperti kita merasa senang menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa beban. Apapun kondisi ekonomi kita, bila keharusan menikah telah tiba “jalani saja dengan jiwa tawakkal kepada Allah”. Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil mencari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah tangga sejati.

Perhatikan mereka yang suka berbuat maksiat atau berzina. Mereka begitu berani mengerjakan itu semua padahal perbuatan itu tidak hanya dibenci banyak manusia, melainkan lebih dari itu dibenci Allah. Bahkan Allah mengancam mereka dengan siksaan yang pedih. Melihat kenyataan ini, seharusnya kita lebih berani berlomba menegakkan pernikahan, untuk mengimbangi mereka. Terlebih Allah menjanjikan kekayaan suatu jaminan yang luar biasa bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya dengan membangun pernikahan.

Wallahu a’lam bishshawab.


Oleh: DR. Amir Faishol Fath
 
Blogger Templates