Social Icons

Minggu, 30 Agustus 2015

My Baby Harley

Berawal dari cerita teman saya ketika dia ingin merevarasi motor vespa maticnya.
Cuman selalu terkendala dengan budget yang selalu pas2an.
Singkat cerita, ketika dia makan sate di warung pinggir jalan, vespa maticnya ketabrak oleh mobil, seketika dia langsung kaget, karena langsung kepikiran akan berapa rupiah yang harus dia keluarkan untuk ngebenerin vespa maticnya.
Beres dia mikir seperti itu, si penabrak, langsung turun dari mobilnya, minta maaf dan langsung bersedia untuk mengganti rugi semuanya. Seketika teman saya langsung senyum sumringah. Karena rencana dia buat revarasi vespa maticnya bisa terlaksana.
Itulah cara kerja Tuhan.
Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, peristiwa yang tadinya kita anggap musibah padahal Tuhan sedang menyiapkan berkah dibalik itu semua.
Berlanjut ke cerita pribadi saya, satu minggu sebelum hari raya idul fitri kemarin, motor kesayangan yang menemani saya dalam jarak waktu lebih dari sewindu dengan mudahnya dicuri ntah oleh siapa. Saya tidak melaporkan kejadian ini sama polisi, karena emang satu minggu sebelumnya saya berencana ingin beli motor baru.
Awalnya sempat juga saya merasa sesak, karena niat nambah motor eh yang ada malah dicuri. Tapi sekejap kemudian saya sadar, Tuhan ingin saya punya motor baru yang saya impikan dari dulu.
Dari SMP saya sangat ingin punya motor harley Davidson, cuman bagi saya yang berprofesi sebagai petani rasa-rasanya kalau mesti maksain ntah kapan si Harley Davidson bisa saya beli, kecuali saya dapat hadiah dari orang yang kasihan sama saya, hehehehe.
Tapi menjelang 4 hari mau lebaran, saya sama istri jalan2 ke plaza, eh ada pameran motor, saya sama istri langsung lirik2an manja, karena pandangan pertama langsung cinta sama motor tersebut.
Menurut cerita sih, itu motor udah launching dari February 2015, tapi saya baru liat H-4 lebaran, langsung azzam dalam hati, kalau saya harus dapat motor ini.
Dengan kondisi sebagai petani, harga si motor impian itu terhitung tinggi bagi dompet saya. Tiap hari saya do'anya itu terus dari semenjak liat motor itu.
Sampai puncaknya, pada tanggal 25 Agustus 2015, ada teman saya yang borong kambing saya senilai 16 juta, saya langsung cerita ke istri, dan langsung sepakat beli motor itu walaupun secara kredit, karena uang 16juta itu hanya bisa buat dp.
Cuman niat untuk ke dealer waktu itu tertunda karena anak saya harus berobat dulu ke Rumah sakit, rencana ke dealer nanti aja bulan September 2015.
Uang yang 16juta saya simpan dulu.
Ketika, tanggal 28 Agustus 2015, setengah jam sebelum adzan Jum'at, pas saya jalan kaki ke Mesjid Jami As-Salam, tiba2 saya dipanggil oleh seorang ibu, dia dengan penuh harap minta pinjeman uang 300.000 buat ngirim anaknya yang lagi pesantren, tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan, dan dianya langsung senang.
Beberapa langkah kemudian pun saya sampai ke mesjid.
Jam 01:45 WIB, saya sampai di Rumah. Jam satu saya dapat telpon dari ibu saya, dia bilang kalau dia baru dapat rejeki, katanya buat saya, ibu saya yang tidak tau kondisi anaknya, merasa kaget karena tenggorokan saya langsung tercekat, karena uang yang ditawarkan cukup untuk nambahin uang buat beli motor tersebut.
Tanpa pikir panjang, saya langsung jemput ibu, dan saya ajak ibu saya ke dealer, dan hari itu juga si Motor sudah ada di rumah saya.
Itulah keajaiban Tuhan, tidak pernah Tuhan memberikan musibah kepada kita, karena semua itu telah dipaketkan dengan keberkahan yang disiapkan olehNya.
Kemudian yang kedua, disaat kita tanpa berpikir panjang buat meringankan beban orang lain, maka Tuhanpun takkan pernah berpikir panjang untuk memberi apa yang kita mau.
Walaupun impian buat Harley Davidson sudah saya simpan, tapi dengan kehadiran motor ini, sudah mewakilkan si Harley Davidson dengan sangat cukup.
FYI : motor yang saya beli di tanggal 28 Maret 2015 itu yaitu Motor Yamaha N Max 155cc.
Berikut saya sampaikan kesan saya dengan si N Max ini.
First Riding Impression bersama yamaha N-Max.
Setelah unit dateng ke rumah hari Jum'at tanggal 28 Agustus 2016 kemarin, cuma dipake test ride jarak deket aja muter2 kampung dan ke pom bensin R.E Marthadinata dan langsung isi v-power full tank, krn pas diisi pertamax dari dealer cuma seliter doang..
Setelah pesan ompang ke dealer, dan si plat nopol motor sudah terpasang ke N-Max, baru deh hari Sabtunya test ride single jarak agak jauh ke tengah kota..
Dan impresi pribadi dari saya....
- Handling ringan banget, padahal body gaban, sampe grogi karena sebelumnya terbiasa pake motor yg handlingnya berat.
- Posisi berkendara rileks bgt, hal yg gak akan didapat di matic lokal pada umumnya.
- Speedometer jelas banget terbaca di kondisi siang terik, mata dipaksa ngelirik angka speedo karena sudut mata nangkep gerakan angka di layar.
- Shock depan pas meredam hentakan ketika hantem lubang di jalan dengan kecepatan sedang, tapi shock belakangnya ampunn kerass bingit , kena speedtrap aja ngelawan banget shock belakangnya.
- Tapi kondisi shock belakang yg agak stiff gini pas buat saya yang sering riding tandem, dipake buat belok parabolic anteb banget sampe keenakan hampir body gesrek aspal.
- Jok keras pas didudukin menurut saya, tapi anehnya kalau ditekan pake jari rasanya empuk.
- Bagasi lumayan besar.
- Dan yang paling bikin saya ngerasa puas, akselerasi N-Max luar biasa buat saya yang sebelumnya pernah pake beberapa motor matic berbeda, saya tes puter gas diurut sampe pol. - Saking antengnya ini motor, saya kaget pas liat speedometer angkanya 108 kmpj, padahal jarak pendek.

Kurang lebih begitu impresi awal saya pake N-mAx hari ini..
Walaupun ada beberapa hal yang minus menurut saya, tapi ga nyesel dan puas banget sama N-Max..
Worthed to buy kalau menilai dari segi price to value.. It's my Harley


Senin, 17 Agustus 2015

Indonesia, Aku masih ada..

Untuk Indonesia, Saya Ingin Lapor
============================

Selamat kapan saja dan di mana saja. Ini ditulis oleh satu dari 237.556.363 pendudukmu, yang bermukim tepat di atas satu dari 13.466 pulau-pulaumu. Semoga kamu baik-baik saja disana meski semua orang tahu itu mustahil.

Saya ingin lapor.

Di atas negeri yang tersohor Bhinneka tunggal ika ini, masih banyak orang berkelahi di atas perbedaan. Memuja-muja kebebasan tapi berselisih atas nama ketidaksamaan. Dan perdebatan perihal perkara-perkara kecil ini membuat kita semua buta akan kehidupan yang jauh lebih besar di hadapan. Mengapa berbeda menjadi begitu menakutkan?

Di atas negeri yang pernah dijajah enam bangsa ini, Soekarno pernah sekali berkata "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." Itu tersampaikan lewat rapat-rapat yang ricuh, demonstrasi berdarah, desa yang memburu desa tetangga, polisi dan KPK yang berselisih, dan banyak lagi yang mampu kamu saksikan sendiri. Apakah bangsa ini predator yang mengaku satu tapi saling menyakiti?

Di atas negeri yang pernah dibawa Gajah Mada menuju Zaman Keemasan, apakah zaman ini telah berkarat? Tidak ada lagi gemilang maritim dari Sriwijaya. Tidak ada lagi melesatnya karya sastra di masa Kerajaan Kediri. Tidak ada lagi kuatnya hukum pada kekuasaan Ratu Sima. Tidak ada lagi perkembangan berbasis agrikultur pada wangsa Syailendra dan Sanjaya.

Di atas negeri yang mengorbankan segala-galanya. Penduduknya pernah diwarnai luka-luka akibat cultuurstelstel, merobek bidang biru pada bendera Belanda, memperjuangkan satu proklamasi, dikirimi agresi militer agar kemerdekaannya mampu direbut kembali, mengalami gelombang pemerintahan yang tidak pernah stabil, hingga pembantaian yang menyebabkan banyak nyawa melayang sia-sia.

Setelah semua yang pernah terjadi, pernahkah kamu mendengar orang berkata Aku beruntung negeri ini merdeka?

Di atas negeri yang terbentang dari 6°LU - 11°08'LS dan 95°'BT - 141°45'BT ini, ada banyak tanah untuk tinggal. Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatera dengan luas 473.606 km², Kalimantan dengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Namun, masih banyak penduduk yang tidak punya rumah untuk tempat pulang.

Di atas negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, sumber daya alam melimpah ruah. Meliputi  minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak. Tapi lahan-lahan ini dikuasai asing dan uang-uang mengalir ke dompet mereka yang gemuk. Pajak-pajak dan dana raib ke tangan kotor koruptor. Sementara 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari.

Di atas negeri yang ditinggali oleh lebih dari 300 suku bangsa dan memiliki 600 bahasa daerah, masihkah kebudayaan asli dipegang teguh? Mulai dari wayang kulit, seudati, ratéb meuseukat, gurindam, songket, ulos, gamelan, sasando, dan warisan-warisan lain yang patut dijaga eksistensinya. Mengapa harus terus menerus menengok harta tetangga jika kita memiliki segalanya yang belum tentu mereka punyai?

Di atas negeri yang mendapat gelar Mega Biodiversity, 10 % tumbuhan, 12 % mamalia, 16 % reptil, 17 % burung dan 25 % ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia. Padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Bumi. Tapi yang terjadi hanyalah tragedi, 1.800.000 hektar hutan rusak setiap tahunnya. Kemana lagi flora dan fauna harus tinggal?

Di atas negeri yang mengharuskan pemerintah pusat maupun daerah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD, diluar gaji pendidik dan biaya kedinasan. Alokasi yang disediakan baru sekitar 17.2 %, jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara Malaysia, Thailand dan Filipina yang telah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan lebih dari 28 %. Dan pengajaran Karakter Bangsa hanya basa-basi belaka.

Siswa mengejar nilai, bukan ilmu. Dicekoki kurikulum dan batas nilai berupa angka. Inikah pendidikan? Inikah kebebasan? Inikah keikhlasan mencari ilmu? Inikah keharusan menjadi pintar? Inikah pengkotak-kotakkan bakat manusia? Inikah penilaian yang hanya dirangkum lewat dua digit angka?

Di atas negeri yang pernah mengucap Sumpah Pemuda. Kini pemuda-pemuda itu telah terpecah menjadi dua kubu besar. Yang ingin berjuang dan yang berpasrah diri. Yang giat belajar dan yang menghabiskan waktu dengan hal sia-sia. Yang mengejar cita-cita dan yang mengejar kebodohan. Yang mau maju dan yang hanya bisa mengeluh tanpa berusaha mengubah.
Marilah kita berdoa semoga golongan pertama tidak lebih sedikit daripada golongan dua.

Di atas negeri yang berwadahkan trias politika, tiga lembaga bersahut-sahutan menyampaikan pendapat. Menjadi ladang mencari uang dan kekuasaan hingga lupa bahwa politik adalah pengabdian. Bekerja demi sesama, demi masyarakat, demi Sabang hingga Merauke. Kini lahirlah pencitraan bahwa politik itu kotor. Padahal sebetulnya putih, bersih, murni, bermodalkan nurani. Semata-mata karena ingin orang lain bahagia. Masih adakah orang yang memaknai itu kini?

Tapi jangan khawatir, di atas negeri yang dihujat dan digerogoti dunia, bahkan oleh warganya sendiri ini...

Saya ingin lapor bahwa saya masih ada.

Semoga kasih sayang masih jauh lebih banyak dibandingkan peperangan.

Semoga orang baik tidak sedikit, mereka hanya diam, dan kelak berani bicara kebenaran.

Semoga kejujuran dan keadilan akan menjadi juara pada saatnya digiring oleh orang-orang yang berani.

Semoga meskipun pejuang tidak banyak, tapi kuatnya bisa kita percayai.

Semoga akan lebih banyak tangan yang menyalakan lilin daripada terus menerus mengutuk kegelapan.

Mungkin suatu hari nanti Garuda tak hanya diam. Tapi terbang jauh, mengudara ke langit tertinggi.

Karena disanalah tempat yang pantas untuk kita singgahi.

Maka sungguh teman-teman, perubahan Indonesia tidak akan terjadi, tidak akan kemana-mana. Selama hati para pemudanya tidak percaya, selama tidak ada sinergi di antara kita.

Indonesia! Dengan bangga aku katakan, aku masih ada!
 
Blogger Templates