Social Icons

Kamis, 30 Mei 2013

Kisah Rabi'ah al-Adawiyah

Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah termasuk wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam, dilahirkan sekitar awal abad kedua Hijrah di kawasan Kota Basrah Irak. Rabi’ah hidup dalam sebuah keluarga miskin dari segi harta, namun kaya dengan peribadatan kepada Allah, karena begitu miskinnya, pada malam Rabi’ah dilahirkan, tidak satu pun barang berharga yang dapat ditemukan orang tuanya di rumah. Ayahnya bahkan tidak mempunyai setetes minyak pun untuk memoleh pusar putrinya, tidak punya lampu dan tidak memiliki kain untuk selimut Rabi’ah. Ayahnya berkerja sebagai pengangkut penumpang dengan sampan di penyeberangan Sungai Dijlah.

Walaupun pada akhir abad pertama Hijrah kondisi umat Islam yang waktu itu dalam pemerintahan Bani Umayah sudah mulai meninggalkan nilai-nilai ketaqwaan, pergaulan semakin bebas dan orang-orang berlomba-lomba mencari kekayaan. Namun Allah tetap memelihara hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak terjerumus ke dalam fitnah dan kekufuran itu.

Dalam keadaan yang hiruk-pikuk dengan kemungkaran waktu itu, muncullah satu gerakan baru yang dinamakan dengan Tasawuf Islami di bawah pimpinan Hasan al-Bashri. Pengikutnya juga terdiri dari kaum wanita, Hasan al-Bashri mencurahkan waktu dan tenaganya untuk mendidik jiwa dan rohani, mengatasi segala tuntutan hawa nafsu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ayah Rabi’ah adalah salah seorang hamba yang sangat menjaga nilai-nilai ketaqwaan, terasing dari kemewahan dunia, tapi tidak pernah lelah bersyukur kepada Allah, dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih, pendidikan yang diberikan kepada Rabi’ah bersumber dari al-Qur’an semata.


Rabi’ah yang sejak kecil memiliki jiwa yang halus, memiliki keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam sangat gemar membaca dan menghayati isi al-Qur’an, sehingga dia berhasil menghafal kandungan al-Qur’an. Di usia remaja kehidupan Rabi’ah dalam keadaan serba sulit dan semakin sulit setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Hal ini dianggapnya sebagai ujian dan bertujuan untuk membuktikan keteguhan imannya. Keadaan sulit ini dipergunakan oleh Rabi’ah untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.


Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya  tidak pernah menikah dianggap mempunyai saham besar dalam memperkenalkan cinta Allah ke dalam mistisme Islam, kecintaannya kepada Allah mampu menutup kecintaannya kepada yang lain. Rabi'ah mengatakan "Kekasihku tiada yang bisa menyamai-Nya, tidak satu pun yang ada dalam hatiku kecuali Dia, ada dimanapun, tiada mengenal tempat. Kekasihku gaib dari penglihatan dan pribadiku sendiri, akan tetapi Dia tidak pernah gaib dari hatiku sedikitpun".

Suatu hari di musim semi, Rabi’ah hendak masuk rumahnya, kemudia menoleh keluar karena pelayannya berseru “Ibu, keluarlah dan saksikan apa yang telah dilakukan oleh Sang Pencipta”. Kemudian Rabi’ah menjawab “Lebih baik engkau yang masuk kemari, saksikanlah Sang Pencipta itu sendiri, aku sedemikian asyik menatap Sang Pencipta, sehingga membuatku tidak peduli lagi terhadap ciptaan-Nya”.

Rabi'ah telah membentuk suatu cara yang luar biasa untuk mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan kepada Allah sebagai alat untuk membersihkan jiwa, dia mengawali kehidupan sufi-nya dengan menanamkan rasa takut atas kemurkaan Allah. Dalam kesendiriannya dimalam yang sunyi Rabi’ah selalu bermunajat kepada Allah dengan do’a-do’a yang melantun dari mulutnya, di antaranya :
Wahai Tuhanku, apakah engkau akan membakar hati yang mencintai-Mu, lisan yang selalu menyebut nama-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?
Ya Allah, ya Tuhanku, aku berlindung diri kepada Engkau dari segala yang bisa membuat aku berpaling dari-Mu, dari segala yang menghalangi dan membatasi antara aku dengan Engkau.
Tuhanku, bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.
Tuhanku, tiada ku dengar suara binatang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya tempat berteduh, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan, melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti ke-Esa-an-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.
Sekalian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik-masyuk. Yang tinggal hanya Rabi’ah yang banyak kesalahan kepada-Mu, maka semoga Engkau berikan suatu petunjuk kepadanya, yang akan menahannya dari tidur, supaya bisa khusyuk terhadap-Mu.

Itulah di antara do’a-do’a Rabi’ah kalau sedang bermesraan dengan Allah. Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya  tidak pernah menikah dianggap mempunyai saham besar dalam memperkenalkan cinta Allah ke dalam mistisme Islam, kecintaannya kepada Allah mampu menutup kecintaannya kepada yang lain.

Rabu, 29 Mei 2013

Kisah Salman al-Farisi dalam Mencari Tuhan


Salman al-Farisi dilahirkan di desa Jayyan suatu kawasan di Persia Irak. Ayahnya seorang pemimpin dan tokoh yang paling kaya serta memiliki kedudukan yang tinggi di Jayyan. Sejak lahir Salman adalah seorang anak yang paling disayangi oleh ayahnya, karena saking sayangnya, Salman tidak dibolehkan keluar rumah oleh ayahnya, bagaikan gadis pingitan saja, karena khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan dengan anaknya. Salman berasal dari keluarga dan masyarakat yang taat kepada agama Majusi, karena ketaatannya itu, Salman diangkat menjadi pemimpin untuk mengurus soal “api” yang akan disembah oleh kaumnya. Kepada Salman diserahkan tanggung jawab untuk menjaga agar nyala api tidak padam di sepanjang waktu.

Pada suatu ketika ayahnya yang punya kebun luas dan mengurus kebunnya sendiri, berhalangan untuk ke kebun, kemudian menugaskan Salman untuk menggantikannya dan berkata :
“Wahai Salman, anakku. Sebagaimana engkau ketahui, karena ada sesuatu masalah, ayah hari ini tidak bisa mengurus kebun. Gantikanlah ayah kali ini dan pergilah engkau ke kebun untuk mengurus segala sesuatunya di kebun”. Lalu Salman keluar menuju kebun. Dalam perjalanan Salman melewati sebuah gereja dan dia mendengar suara-suara orang Nasrani itu sedang melakukan ibadah, hal ini menarik perhatiannya. Setelah memperhatikan rangkaian ibadah Nasrani itu, Salman tertarik dengan cara ibadahnya, sampai akhirnya Salman suka kepada agama itu dan bergumam “Demi Allah, ini jauh lebih baik dari agama yang aku ikuti selama ini! Dan Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai matahari hampir tenggelam. Aku tidak akan pergi ke kebun ayahku”. Kemudian dia bertanya kepada orang-orang Nasrani itu  “Dari mana agama ini?”. Mereka menjawab “Dari Negeri Syam”.

Setelah menjelang malam Salman sampai di rumah dan ayahnya menyambutnya dan menanyakan apa yang telah dikerjakannya di kebun, Salman menjawab “Ayah, di perjalanan aku melewati orang-orang yang sedang beribadah di suatu gereja, aku tertarik pada apa yang ku lihat, yaitu mengenai tata cara agamanya. Aku akhirnya berdiam bersama mereka sampai matahari terbenam”. Ayahnya kaget mendengarkan cerita Salman dan berkata “Wahai anakku, agama itu tidak memiliki kebaikan sama sekali. Agamamu dan agama nenek moyangmu jauh lebih baik dari agama itu!”. Salman menjawab “Tidak mungkin, demi Allah, sungguh agama mereka jauh lebih baik dari agama kita!”. Ayahnya menjadi takut mendengar cerita itu dan khawatir Salman akan keluar dari Majusi. Lalu Salman dikurung dan kakinya dibelenggu di dalam rumah.

Keadaan itu tidak membuat Salman putus asa, suatu ketika dia memperoleh kesempatan untuk menghubungi pimpinan agama Nasrani, Salman berpesan “Bila ada rombongan yang hendak pergi ke negeri Syam dan singgah di tempat kalian, tolong beritahu aku!”. Tak berapa lama berselang, datanglah suatu rombongan yang mau berangkat ke negeri Syam, mereka segera memberitahu Salman. Mendengar itu Salman berusaha melepaskan diri dari pasungannya dan akhirnya berhasil. Dengan sembunyi-sembunyi Salman keluar dan kabur mengikuti rombongan itu sampai ke negeri Syam.

Sesampainya di negeri Syam Salman menuju perkumpulan Nasrani dan bertanya “Siapakah orang terbaik dari penganut agama ini?” Mereka menjawab “Uskup (tingkatan kewalian dalam gereja) dan pemimpin gereja”. Salman lalu menemui Uskup dan berkata “Aku sangat tertarik untuk masuk agama Nasrani, aku ingin selalu dekat denganmu, melayanimu, belajar darimu serta beribadah bersamamu” Uskup menjawab “Silahkan masuk!” selanjutnya Salman menjadi pelayan Uskup tersebut. Tidak berapa lama tinggal bersama di gereja, Salman menyadari bahwa sebenarnya Uskup itu adalah orang yang tidak baik. Dia menyuruh para pengiktunya untuk bersedekah dengan menjanjikan pahala, namun dia memanfaatkan infak itu untuk dirinya sendiri, hingga terkumpul dari hasil infak itu sampai tujun gentong emas.

Salman sangat membenci perbuatan Uskup itu, namun tak lama kemudian Uskup itu meninggal. Waktu pemakamannya Salman berkata kepada kaum Nasrani yang melayat “Sesungguhnya pemimpin kalian ini orang yang tidak baik, dia menyuruh bersedekah dan menjanjikan pahala, namun setelah infak terkumpul dia menyimpannya untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk kaum fakir miskin” Kaum Nasrani itu menjawab “Dari mana engaku mengetahui hal itu?” Salman menambahkan “Aku akan tunjukkan kepada kalian tempat penyimpanannya”. Setelah mengetahui hal sebenarnya mereka berkata “Demi Allah, kita tidak akan mengubur dia”. Akhirnya jenazah Uskup itu disalib dan dilempari dengan batu.


Kemudian pendeta ini digantikan oleh seorang pendeta yang berakhlak baik, figur yang zuhud terhadap dunia, berakhlak mulia, cinta terhadap akhirat dan rajin beribadah siang dan malam. Salman sangat mencintai gurunya yang satu ini. Namun tak lama kemudian pendeta ini pun menemui ajalnya. Sebelum pendeta ini meninggal, Salman bertanya kepadanya, siapa orang orang yang masih berada di atas agama ini? Pendeta itu mengatakan “Anakku, demi Allah, pada hari ini aku tidak mengetahui ada seseorang yang menganut ajaran sepertiku. Orang-orang telah binasa dan merubah ajaran Nasrani, mereka telah meninggalkan banyak ajarannya, kecuali seseorang di daerah Maushil, Fulan, dia menganut ajaran sepertiku. Ikutilah dia”.

Selesai prosesi pemakaman pendeta ini, Salman menuju Maushil dan berguru kepada seorang Nasrani di sana. Lagi-lagi, maut pun menjemput gurunya. Sebelum gurunya meninggal, Salman bertanya pula, Siapa yang masih berada di atas ajaran ini? “Fulan di daerah Nashibin” jawab gurunya. Hal ini berulang kali terjadi pada diri Salman, berpindah dari satu guru ke guru yang lain, dari satu tempat ke tempat lain, demi mencari hidayah ajaran agama yang benar, sehingga suatu ketika Salman pernah berujar “saya berganti guru sebanyak belasan kali, dari satu guru ke guru lainnya”.

Selanjutnya Salman berguru kepada seorang pendeta di kota ‘Ammuriyah, namun tak lama kemudian pendeta itupun meninggal dunia. Sebelum pendeta itu meninggal dunia, Salman bertanya dengan nada yang sama, siapa orang yang masih setia memeluk agama Nasrani yang murni? Pendeta pun menjawab “Anakku, Demi Allah, sekarang ini saya tidak mengetahui siapa yang menganut agama seperti kita ini. Tetapi sudah dekat zaman Nabi yang diutus membawa agama Nabi Ibrahim, tempat hijrahnya banyak pohon kurma dan diapit dua tempat yang banyak batu hitam (Madinah). Dia memiliki tanda yang tidak tersembunyi; mau memakan hadiah, tidak mau memakan sedekah dan antara dua pundaknya ada tanda kenabian. Jika kamu tinggal bersamanya di negeri itu, lakukanlah”.

Selang beberapa lama kemudian, datanglah sekelompok saudagar dari negeri Arab, Salman pun meminta tumpangan kepada mereka dengan bayaran beberapa sapi dan kambing hasil pekerjaannya. Di tengah perjalanan, tepatnya di Wadi al-Qura saudagar tersebut menzalimi Salman. Dia menjual Salman sebagai budak kepada seorang Yahudi. Tak lama tinggal bersama Yahudi itu, Salman dijual lagi kepada seorang Bani Quraizhah dari Madinah, Salman pun dibawa ke sana. Ketika memasuki kota Madinah, Salman paham, inilah kota yang dimaksud oleh gurunya dulu.

Pada masa itu Rasulullah Saw. pun diutus oleh Allah, beliau tinggal di Makkah. Salman tidak mengetahui tentang Rasulullah karena kesibukannya sebagai budak. Namun ketika Nabi Saw. hijrah ke Madinah, seorang sepupu tuannya tergopoh-gopoh mengeluhkan sesuatu “Wahai Fulan, semoga Allah membinasakan Bani Qailah (Anshar), Demi Allah! Hari ini mereka berkumpul di Quba, menemui seseorang di Makkah, dia menyatakan bahwa dirinya Nabi” kata sepupu tuannya.

Salman yang ketika itu sedang berada di atas pohon gemetar mendengar berita ini, sehingga dirinya hampir saja jatuh dan menimpa tuannya. Salman kemudian turun dan bertanya kepada sepupu tuannya “Apa katamu? Apa katamu?”. Tuannya marah dan memukulnya sambil menghardik Salman “Apa urusanmu! Kembali bekerja!” bentaknya. Salman menjawab “Tidak, saya hanya ingin memastikan saja”.

Malamnya Salman mengambil perbekalan yang dia kumpulkan, kemudian pergi menuju Quba untuk menemui Rasulullah. Sesampai di Quba Salman langsung menuju Rasulullah dan mengatakan “Saya diberitahu bahwa tuan adalah seorang yang shaleh dan sahabat tuan adalah orang yang membutuhkan. Inilah milik saya untuk disedekahkan” ujar Salman mengulurkan bekalnya kepada Nabi. Kemudian Rasulullah berkata “Makanlah kalian” sedangkan beliau tidak menyentuhnya sama sekali. “Ini satu tanda” gumam Salman dalam hati. Kemudian Salman pun pulang lagi ke rumah tuannya.

Kemudian ketika Rasulullah hendak berangkat ke Madinah Salman mendatangi beliau lagi, membawa bekal yang lebih banyak dari sebelumnya dan mengatakan “Saya melihat tuan tidak memakan sedekah, ini ada hadiah untuk tuan sebagai bentuk pemuliaan saya kepada tuan”. Rasulullah menyambut dan memakan hadiah itu serta mengajak sahabatnya untuk ikut makan bersama beliau. Salam berguman dalam hati “Dua tanda”.

Hari berikutnya Salman kembali menemui Nabi di pemakaman Baqi’. Ketika itulah Salman melihat punggung Nabi. Untuk memeriksa tanda ketiga yang berupa tanda kenabian di antara pundak beliau. Rasulullah memahami keinginan Salman, kemudian Rasulullah menurunkan pakaian atasnya, yang waktu itu berupa selendang. Waktu Salman melihat tanda kenabian di punggung beliau, dia memeluk Rasulullah, mencium Rasulullah dan menangis. Setelah sekian lama merindukan hidayah, akhirnya Salman pun bertemu dengan pembawa panji hidayah itu. Rasulullah yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam. Makhluk yang pantas dibela sampai titik darah penghabisan. Tak heran, Salman pun kemudian menjadi salah seorang benteng Rasulullah dalam beberapa peperangan.

Demikianlah kisah indah Abu Abdillah Salman al-Farisi, seorang sahabat mencari jati diri. Kesulitan demi kesulitan dialaminya demi mencari kebenaran. Kasih sayang dari ayahnya tak mampu menghentikan langkahnya untuk memburu kebenaran. Begitulah jiwa yang telah dikehendaki Allah, jiwa yang dikehendaki-Nya menerima hidayah. Semoga Allah meridhai dan merahmatinya.

Senin, 27 Mei 2013

Kisah Nabi Ibrahim As. dalam Mencari Tuhan

Nabi Ibrahim As. Khalilullah (Kekasih Allah) termasuk salah seorang keturunan dari Nabi Nuh As. dengan silsilah keturunan sebagai berikut : Ibrahim bin Azhar/Tarah bin Tanur bin Siruj bin Sam bin Nuh As. Dalam al-Qur’an nama ayahnya disebut dengan Azhar, sedangkan dalam Taurat disebut dengan Tarah. Ibrahim As. dilahirkan di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan kemusyrikan dan kekufuran yang dikuasai oleh seorang raja yang bernama Namrudz, seorang raja zalim dan suka bertindak semena-mena, bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Namrudz bersama seluruh rakyatnya menyembah berhala, termasuk Azar ayah Nabi Ibrahim sendiri. Azar ahli dalam membuat patung dan raja Namrudz sangat menyukai patung buatan Azhar.

Sebelum Ibrahim As. dilahirkan raja Namrudz bermimpi bahwa, kelak akan lahir seorang anak laki-laki yang akan menggulingkan kekuasaannya. Sejak mimpi itu Namrudz sangat gelisah dan cemas, takut mimpi itu akan menjadi kenyataan. Berdasarkan kegelisahan itu Namrudz akhirnya mengeluarkan undang-undang kerajaan, yang isinya “setiap bayi laki-laki yang lahir harus dibunuh”. Kemudia Namrudz memerintahkan kepada seluruh bala tentaranya untuk menyebar ke segala penjuru untuk mendata perempuan yang sedang hamil, jika ditemukan wanita yang baru melahirkan bayi laki-laki langsung mereka bunuh tanpa sedikitpun rasa kemanusiaan.

Waktu Nabi Ibrahim dilahirkan, ayahnya tidak sanggup untuk membunuh anaknya. Oleh karena itu ayahnya menyembunyikan Nabi Ibrahim di sebuah goa yang terletak di hutan, dengan pikirian nanti anaknya itu akan mati juga dimakan binatang buas. Namun Allah berkehendak lain, diluar jangkauan akal manusia, Nabi Ibrahim dalam penjagaan Allah, sehingga tidak satupun  binatang buas dalam hutan itu yang mengganggu atau memakannya, bahkan Nabi Ibrahim dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Hal ini bisa terjadi karena Allah telah memberikan jaminan, jika bayi Nabi Ibrahim menghisap jarinya, maka keluarlah madu yang manis dari jarinya, dengan demikian Nabi Ibrahim tidak merasakan haus dan lapar. Subhanallah, Allah berbuat sekehendak-Nya, bahkan diluar logika manusia. Inilah yang disebut dengan ir-hash, yaitu sesuatu keajaiban yang luas biasa yang terdapat pada diri Rasul semasa kecilnya atas izin Allah Swt.

Setelah beberapa lama kemudian, ayah dan ibunya mencoba melihat anaknya di goa tempat Nabi Ibrahim disembunyikan. Awalnya mereka berkeyakinan bahwa anaknya itu pasti telah tiada, namun betapa kagetnya mereka ternyata Ibrahim As. berada dalam keadaan sehat wal’afiat saja dan sejak itu mereka sering menjenguk Nabi Ibrahim kecil secara sembunyi-sembunyi. Setelah Nabi Ibrahim berumur satu tahun, Azhar dan istri membawa anaknya pulang. Dari hari sampai berbulan Nabi Ibrahim semakin beranjak remaja, ia mulai bertanya kepada orang tuanya, siapakah yang menciptakan alam serta isinya.

Pada suatu ketika Nabi Ibrahim bertanya “Wahai ayah dan ibuku, siapakah yang telah menjadikan diriku ini?”. Orang tuanya menjawab “Ayah dan ibu yang menjadikanmu, kamu lahir disebabkan kami”. Ibrahim bertanya lagi “Kalau begitu, siapa pula yang menjadikan ayah dan ibu?” Ayahnya menjawab “kakek dan nenekmu”. Demikianlah seterusnya, sehingga sampai puncaknya Nabi Ibrahim menyatakan “Siapakah orang pertama yang menjadikan semua ini?”. Orang tuanya tidak lagi mampu menjawab, karena mereka tidak mengetahui tentang Tuhan. Kemudian Ibrahim bertanya pula kepada semua orang, merekapun sama seperti orang tuanya, tidak seorangpun di antara mereka yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Keadaan ini membuat Nabi Ibrahim semakin penasaran dan penuh tanya dalam hati, akhirnya dia menggunakan akal dan logika untuk mencari Tuhan Sang Pencipta jagad raya. Namun usahanya selalu gagal, karena memang akal manusia diciptakan sangat terbatas dibandingkan kekuasaan Allah. Hal ini disinyalir oleh Allah Swt. dalam Firman-Nya :

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَباً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ. فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغاً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ. فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـذَا رَبِّي هَـذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ. إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ.

Artinya : Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhan-ku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam”.  Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhan-ku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhan-ku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhan-ku, ini lebih besar”.  Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”. Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang Menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (al-An’am : 76-79)

Begitulah kisah Nabi Ibrahim As. dalam mencari Tuhannya, yaitu dengan menggunakan akal dan logika berawal dari mempertanyakan penciptaan diri, keluarga, masyarakat dan alam semesta. Awwaluddin ma’rifatullah (agama berawal dengan mengenal Allah), siapa yang ingin mengenal Allah, maka kenalilah diri terlebih dahulu. Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu.

Minggu, 26 Mei 2013

Bertauhid

KH.Abdullah Gymnastiar mengutarakan dalam sebuah tausiyahnya tentang  beberapa ciri-ciri orang bertauhid, di antaranya adalah :

1. Ikhlas, yaitu melakukan sesuatu hanya bertujuan untuk mencari keredhaan Allah semata, tidak bertujuan selain hanya ke Allah Swt.

2. Tidak iri dan dengki, maksudnya orang yang bertauhid tidak akan mendengki terhadap orang lain yang memperoleh nikmat dari Allah, karena dia mengetahui Allah Maha Bijaksana dan Adil dalam membagikan rezki, Allah Maha Menentukan setiap takdir dan kejadian, sehingga tidak perlu merasa iri atau dengki kepada orang yang telah ditakdirkan memperoleh nikmat-Nya.

3. Tidak banyak mengeluh, orang yang bertauhid tidak akan suka mengeluh, karena mengetahui setiap peristiwa dan episode hidup adalah atas izin Allah Swt. Jika dia mendapat masalah, dia akan segera mengoreksi diri dan mengevaluasi tauhidnya, apakah selama ini ada yang kurang tepat, sehingga tanpa disadari telah bermaksiat terhadap Allah. Setelah itu dia memperbaiki dirinya.

4. Tidak licik, artinya orang yang bertauhid pasti tidak akan melakukan hal-hal yang licik dalam kegiatan apapun, karena dia menyakini bahwa Allah pasti akan membalas erbuatan sekecil apapun serta Allah lah yang membolak-balik hati dan mengetahui setiap apa saja yang terlintas dalam hati.

Saat Umur Kita di Depan Mata

jika anda tahu sisa umur anda tinggal 1 tahun, apa yg akan anda lakukan untuk mengisi sisa umur itu?

* mungkin sebagian menjawab:
- bersenang-2
- jalan-2 ke tempat indah
- makan sepuasnya
- segera nikah, dll

*mungkin sebagian orang yg lain memilih:

- banyak ibadah shalat& dzikir
- banyak sedekah
- banyak silaturahim
- bekerja lebih giat
- memberikan hak orang lain,dll

kenapa 2 kelompok kegiatan tsb berbeda & seolah bertolak belakang?

Salah satu hikmah besar dirahasiakannya umur kita adalah agar kita tdk tahu kapan kita mati,shng kita akan merasa setiap saat bisa jadi ajal kita, maka kita akan selalu berhati-2 dengan tindakan kita. Kita tidak akan tahu kapan kita akan mati. apakah saat remaja? ataukah saat kita sudah tua? dan kita tidak tahu kapan pastinya kita akan mati. apakah hari ini?besok? dan kita tidak tahu bagaimana kita akan mati. apakah saat tidur? apakah saat berkendaraan? ataukah ketika kita membaca Al Quran?

Seandainya ALLAH menghendaki semua manusia mengetahui kapan ia mati, dimana ia mati& kapan ia mati, akankah kehidupan dunia ini dihiasi kebaikan demi kebaikan? saya rasa tidak.

kemungkinan yg bisa kita bayangkan:
- Sedikit manusia selalu menghiasi umur dgn ibadah
- lebih banyak manusia terus menerus berbuat dosa hingga akhir hayatnya
- jauh lebih banyak lagi manusia terus berbuat dosa hingga sedikit sisa umurnya baru ia bertaubat
- Saya rasa jenis ketiga akan mendominasi isi dunia. orang-2 seperti ini selalu berfikir bhw masih ada - waktu untuk bertaubat. Dalam kondisi seperti ini, bisa jadi dunia ini didominasi kejahatan& -kriminalitas,maksiat, hedonis dsb
 ALLAH sangat memahami betapa manusia senantiasa berada antara kecenderungan yg baik& yg buruk (QS Asy-Syams) maka ia menyelamatkan manusia dari fitrahnya tersebut, dgn jalan menjadikan umur sebagai hal ghaib, untuk apa? agar manusia selalu berhati-hati dalam hidupnya, dan agar manusia selalu berada dalam kebaikan.

Semoga Bermanfaat.

Kamis, 23 Mei 2013

Abraham Lincoln

“Jangan khawatir bila anda tidak diakui, tetapi berusahalah agar anda layak untuk diakui”

“Anda dapat membohongi semua orang dalam satu waktu, dan beberapa orang dalam setiap waktu, tetapi anda tidak dapat membohongi semua orang sepanjang waktu”

“Seorang sahabat adalah orang yang memiliki musuh yang sama seperti yang anda miliki”

“Ingatkan selalu bahwa tekad Anda untuk sukses adalah lebih penting daripada hal lainnya”

“Amerika tidak akan pernah dihancurkan dari luar. Jika kita goyah dan kehilangan kebebasan kita, maka itu dikarenakan kita yang menghancurkannya”

“Pada akhirnya, bukanlah tahun-tahun dalam hidup anda yang dihitung. Tetapi hidup anda dalam tahun-tahun andalah yang dihitung”

“Karakter adalah bagaikan pohon dan reputasi bagaikan sebuah bayangan. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan, dan pohon adalah wujud nyatanya”

“Pemerintahan ialah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, yang tak akan binasa dari muka bumi”

“Ketika saya berbuat baik, saya merasa baik. Ketika saya berbuat buruk, saya merasa buruk. Itulah keyakinan saya”
                        *ABRAHAM LINCOLN*

Selasa, 21 Mei 2013

Kisah di balik turunnya ayat 135 - 136 surat Ali Imran

[3.135] Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

[3.136] Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

Asbabun Nuzul :

Abdurrahman bin Ghannam Al-Daws mengisahkan bahwa sahabat Mu'adz bin Jabal mendatangi Rasulullah dengan mengatakan ada seorang pemuda tampan sedang menangis seperti anak kehilangan ibunya. Pemuda itu lalu dipanggil masuk menghadap Rasulullah.
 "Apa yang membuatmu menangis wahai pemuda?" tanya Rasulullah.
 "Bagaimana aku tidak menangis ya Rasulullah, aku telah melakukan dosa besar yang kurasa tidak mungkin diampuni Allah!"
 Rasulullah pun langsung bertanya, "Apakah engkau mempersekutukanNya?"
 Pemuda itu serta merta menjawab, "Aku berlindung kepada Allah supaya aku tidak pernah menyekutukanNya"
 "Apakah engkau membunuh seseorang yang diharamkan Allah untuk membunuhnya?" tanya Rasulullah selanjutnya.
 "Tidak ya Rasulullah!"
 "Kalau begitu Allah akan mengampuni dosa-dosamu meskipun dosamu itu sebesar gunung yang menjulang tinggi ke langit" kata Rasulullah.
 Namun dengan tangis yang demikian keras pemuda itu berkata, "Dosaku lebih besar dari gunung itu!"
 "Allah akan mengampuni dosamu meski sebesar tujuh bumi berikut lautan dan segala yang ada padanya" hibur Rasulullah sambil tersenyum.
 "Namun ya Rasulullah dosaku lebih besar dari itu!"
 Dengan sabar Rasulullah bersabda "Allah tetap akan mengampuni dosamu meski dosamu sebesar langit berikut bintang gemintang dan singasanaNya"
 Kembali pemuda itu dengan memelas berkata, "Dosaku lebih besar dari itu ya Rasulullah!"
 "Wahai pemuda! Apakah dosa-dosamu yang lebih besar ataukah Tuhanmu?"
 Maka tersungkurlah pemuda itu dengan mengatakan, "Subhanallah, tidak ada yang lebih besar daripada Tuhanku!"
 "Kalau begitu, dosa apa yang telah engkau perbuat?" sergah Rasulullah.
 Lalu dengan berlinang air mata, pemuda itu
 berkisah, "Sudah tujuh tahun ini pekerjaanku mencuri kain kafan mayat yang baru meninggal untuk dijual di pasar. Pada suatu hari ada seorang anak gadis Anshar meninggal dunia. Setelah dikubur dan ditinggalkan keluarganya, kuburnya kugali dan kulucuti kain kafannya. Kutinggalkan mayat itu dalam keadaan telanjang di bibir kuburan dan lalu aku bergegas pulang membawa jarahanku. Di rumah aku membayangkan betapa mulusnya mayat itu, sampai aku tergoda melihatnya kembali. Ketika melihat mayat telanjang itu aku tidak dapat menguasai diriku sehingga aku menggaulinya. Ketika itu seolah aku mendengar suara yang mengatakan, 'Wahai pemuda, celakalah engkau di hadapan penghisab pada hari kiamat kelak, tempatmu adalah di neraka…' Aku sangat terkejut dan takut sekali. Bagaimana pendapatmu ya Rasulullah."
 Dengan terkejut Rasulullah berkata, "Enyahlah engkau dari sisiku. Aku takut akan terbakar bersama apimu!"
 Pemuda itu segera pergi meninggalkan Rasulullah
 dengan wajah sangat memelas. Ia pergi ke mengasingkan diri di suatu tempat. Selama empat puluh hari ia menangis terus menerus memohon ampun kepada Allah, "Ya Allah, ampunilah segala kesalahanku dan berilah wahyu kepada nabiMu.
Jika Engkau tidak mengampuniku, maka berikanlah segera aku siksaan yang menghancurkanku di dunia ini, tetapi selamatkan aku dari siksaMu di hari kiamat nanti…"
 Rupaya tobat pemuda itu diterima Allah dengan turunnya ayat 135-136 Surat Ali Imran diatas. Setelah menerima wahyu itu, Rasulullah bersama para sahabat berangkat mencari pemuda itu. Akhirnya pemuda itu ditemukan di antara dua batu besar dalam keadaan lemah dengan mata sembab karena banyak menangis. Rasulullah yang mulia kemudian menghampiri pemuda itu dan membersihkan debu-debu yang menempel di kepalanya sambil bersabda, "Aku ingin memberi kabar gembira kepadamu bahwa engkau kini adalah orang yang dibebaskan Allah dari api neraka." Kemudian Rasulullah berpaling kepada para sahabat yang mengikutinya seraya berkata, "Beginilah seharusnya kalian menyertai dosa yang
kalian lakukan: seperti yang dilakukan oleh pemuda ini."
******
Sahabat sekalian, kisah ini tidak mungkin kalau tidak ada apa-apanya kan,
Cuman aku yakin,sebanyak apapun dosa yang kita lakukan,setinggi langit,seluas langit dan bumi,percayalah asalkan kita bener-bener taubat sama Allah,dan gak bakalan ngulangin lagi,yakin yakin lha,semua dosamu akan di ampuni Oleh Allah,dan Allah akan menempatkan kita di Syurganya yang luasnya melebihi luasnya langit dan bumi,
Maaf bukannya gue ngajarin, tapi yuk sama-sama memperbaiki diri aja, gak bakalan rugi kok demi Allah deh gak bakalan rugi kalau kita bener-bener ngedeketin Allah, gue ngomong gini,karena gue akui gue juga dosanya banyak banget, tapi Gue Yakin, sebesar apapun dosa gue, Allah lebih besar dari itu semua,
Semoga bermanfaat ya mas bro and mbak sist

Senin, 20 Mei 2013

LELAKI SEBENARNYA JAUH LEBIH SERING MENANGIS

Itulah mengapa Allah menyebutkan pada lelaki lebih kuat akalnya berbanding seorang wanita. Dan itulah sebabnya mengapa tiada yang kau lihat melainkan selain kedegilan mereka.

Lelaki menangis karena tanggung jawabnya di hadapan Allah.
Dia menjadi tonggak penyangga dalam rumah tangga.
Menjadi pengawal Tuhan bagi Ibu, saudara perempuan, isteri dan anak-anaknya.
Maka, tangisnya pun tidak pernah nampak dimatanya.

Tangisan lelaki adalah pada keringat yang bercucuran demi menafkahi keluarganya.
Tidak dapat kau lihat tangisnya pada keluh kesah di lisannya??

Lelaki “menangis” dalam letih dan lelahnya menjaga keluarganya dari kelaparan.
Tidak dapat kau dengar tangisnya pada omelan-omelan di bibirnya.

Lelaki menangis dalam tegak dan teguhnya dalam melindungi keluarganya dari terik matahari, deras hujan serta dinginnya angin malam.
Tidak nampak tangisnya pada peristiwa kecil dan remeh.

Lelaki menangis dalam kemarahannya, bila kehormatan diri dan keluarganya digugat.
Lelaki menangis dengan sigap bangunnya di kegelapan dini hari.
Lelaki menangis dengan bercucuran peluhnya dalam menjemput rezeki.

Lelaki menangis dengan menjaga serta melindungi orang tua, anak dan istri.
Lelaki menangis dengan tenaga dan darahnya menjadi garda bagi agamanya.

Namun…
Lelaki pun sungguh-sungguh­ menangis dengan air matanya di kesendiriannya,­ menyadari tanggung jawabnya yg besar dihadapan Allah!

Sabtu, 11 Mei 2013

Istriku Sayang, Istri Idaman

selamat malem om sa tante 
Tapi lebih tepatnya selamat pagi deh ya, hehehe
Setelah beberapa minggu gue gak nge update blog gue tercinta ini,rasa-rasanya bego banget kalau hari ini gue sama sekali gak mosting satu narasi di blog gue ini.
Apakah ada yang special di hari ini?
Apakah ada yang gue rayakan di hari ini?
Apakah ada yang gue nantikan di hari ini?
Jelaslah ada,kalau gak ada ya ngapain juga kan gue bela-belain mosting hari ini,sampe bela-belain ngerental warnet pagi-pagi gini?hahahaha
Apakah gue mau ngerayain anniversary nya Pernikahan Habibie-Ainun, bukan,bukan sama sekali,ya walaupun tanggalnya sama sih? Tapi gue pastiin bukan itu om tante,
Terus apakah hari ini hari penerimaan hadiah satu milyar dari kuis-kuis supermarket gitu,tetep, bukan om bukan,
Terus apakah hari ini,ada momment special yang gue pernah alamin di taun-taun sebelumnya,terus tanggal ini mau gue rayain lagi,tetep bukan om bukan,
Tapi hari ini, ya hari ini Tanggal 12 Mei 2013, tanggal yang special buat seseorang yang special buat gue,orang special yang mungkin gue belum pernah melakukan dia secara special,sedih sih,tapi sesuatu yang special apa harus selalu dipaksakan,gue yakin kalian setuju kan,ya walaupun sebagian ada yang kurang setuju,tapi gue emang begini adanya.
Ya,seorang yang special laksana martabak yang sepcial,dinantikan,diidamkan,diinginkan,karena cita rasanya yang tinggi,karena tekstur rasanya yang mantap dan tentunya lezat,tapi kualitas yang sejuta itu ya tentunya punya harga yang sejuta juga,kasarnya ada kuantitas ada kualitas,walaupun terkadang yang berkualitas tidak selalu mahal,dan yang mahal tidak selalu berkualitas, tapi bagi gue,dia bukan hanya berkelas di hati gue,tapi emang di kehidupan gue juga.
Seorang yang setahun lebih ini udah menjadi sosok andalan bagi gue,seorang yang rela meninggalkan keindahan hidup bebasnya hanya demi menjalani sisa umurnya ama gue,
Ya,dia istri gue, sekarang dia udah genap 23th, gak ada kado special dari gue buat dia,gak ada tiupan lilin sureprise di jam 00.00 dari gue buat dia,gak ada ucapan romantis yang sengaja gue susun buat dia di hari ulang tahunnya ini,ntahlah,mungkin emang gue orangnya seperti ini,
Gak ada yang perlu dipaksakan untuknya,karena dia juga hidup sama gue tanpa keterpaksaan,
Menjalani hidup yang apa adanya,kebahagiaan yang selalu kita ciptakan berdua, kesenangan yang kita raih bersama,
Menyicil perabot rumah dari gak ada sesuatu sampai ya seperti ini,walaupun masih banyak yang harus dipenuhi untuk bisa disebut selayaknya rumah-rumah seperti biasanya,tapi gue suatu saat nanti semuanya pasti terwujud.
Sabar ya sayang, hehehhee
Makasih kamu masih mau bertahan sama aku sampai saat ini, 
Kamu yang rela ninggalin kebebasanmu di luar sana,demi untuk hidup bersama aku,
Walaupun ini bukan ulang tahunmu yang paling indah, pokoknya percaya sama aku,taun depan kita rayain ulang tahun kamu dengan meriah ya sayang,
I Love You Bunda,
Selamat Ulang Tahun sayang,
Semoga sisa usiamu berkah ya sayang,jadi bunda yang baik buat Alky ya sayang, jadi istri yang sholehah, jadi Umat Nabi Muhammad SAW yang taat,dan Menjadi Hamba yang dinantikan Alloh di Syurga-Nya
Semoga ini baik,Insyaallah
 
Happy 23th Marisa
Istriku sayang Istri Idaman
 
Blogger Templates