"Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad SAW, supaya di doakan dimohonkan berkah dan di beri nama. Anak tersebut di pangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak.
Beliau berkata, jangan di putuskan anak yang sedang kencing, biarkanlah dia sampai selesai dahulu kencingnya.
Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya, dan mengingatkan kalau noda kencing di jubahnya bisa dengan segera dihilangkan, tapi noda luka akibat bentakan akan selamanya dia ingat. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi."
Itu sedikit paragraph soal kisah Nabi SAW yang sangat menjaga rasa sayangnya terhadap anak kecil.
Saat ini saya telah menjadi seorang ayah dengan dua anak lelaki, dan beberapa bulan lagi Insha Allah saya akan menjadi ayah dengan 3 anak.
Anak saya yang pertama baru berusia 2,5th, yang ke dua baru 16 bulan. Kebayang mereka sedang lincah2nya saat ini.
Perlu kesabaran extra untuk menangani mereka.
Tapi saya sadar, kalau mereka juga tidak ingin bertingkah "nakal".
Kenapa saya bisa bilang begitu?
Karena dulu saya juga seperti mereka.
Setiap ada tingkah "nakal" yang dilakukan oleh kedua anakku, orang2 pasti bilangnya persis banget sama bapaknya.
Semua itu membuatku tersenyum kecut menanggapinya.
Saya bersyukur karena ketika saya menjadi ayah, sudah banyak ilmu dan banyak hal bagaimana cara mendidik anak tanpa rasa marah yang bisa membekas sampai bertahun2.
Apalagi dengan hadits nabi yang tadi saya tulis di awal postingan ini.
Mereka akan mengingat semua hal yang dilakukan oleh "orang tua" terhadap mereka.
Saya tidak akan bercerita soal orang lain, tapi saya akan bercerita soal diri saya sendiri.
Saya masih ingat ketika sebelum masuk TK saya dibentak oleh ayah saya, sehingga hal itu membuat saya menjadi introvert, saya jadi mencari perhatian ke orang lain, saya disebut nakal oleh semua orang. Padahal saya juga kalau boleh milih saya tidak ingin nakal, saya ingin bersikap baik layaknya anak tetangga. Tapi saya tidak tau kenapa saya di cap menjadi anak nakal.
Apakah saya dendam sama ayah saya, jelas tidak, tapi saya masih ingat semua hal yang terjadi antara saya dan orang tua saya.
Selanjutnya hal yang saya alami dan saya ingay ketika saya kelas 2 sd, saat itu saya berenang di kolam kakek saya, sehingga membuat ikan2 di kolam kakek saya pada mabuk, tante saya tau soal itu, dan mengikat saya di tengah kolam, dalam keadaan menggigil kedinginan. Apakah saya dendam sama tante saya, tidak. Tapi saya masih ingat dengan kejadian itu.
Kalau sekarang Boleh saya milih, saya lebih milih menjadi anak yang tidak berenang di kolam saat itu, tapi saya tidak tau kenapa saya mesti berenang di kolam kakek saya.
Masuk di usia sd kelas 3, saat itu saking "nakal"nya saya, saya sampai di ikat di bangku kelas sama guru saya, saya sempat mikir, kenapa saya di ikat, padahal teman2 yang lain juga nakal, tapi saya tidak bisa berontak, saya hanya pasrah untuk rela di ikat di bangku sekolah. Apakah saya dendam, tidak. Tapi saya masih ingat itu.
Masih banyak hal yang bisa saya tulis di sini, tapi biarlah cukup saya yang mengingat.
Mengingat suatu hal yang katanya salah saya, padahal saya juga tidak ingin menjadi anak yang nakal.
Tapi semua kejadian itu, membuat saya menjadi lebih bisa mandiri.
Dikeluarga, saya termasuk mudah untuk masuk ke sekolah idaman orang tua saya, baik itu masuk smp maupun masuk sma, cukup beda dengan dua sodara saya, yang memerlukan hal extra demi masuk sekolah idaman orang tua saya itu.
Saya mungkin tidak punya banyak prestasi dibandingkan adik dan kakak saya. Tapi seenggaknya saya punya nilai yang lebih bermanfaat, Insha Allah.
Disini saya bukan ingin mencurhatkan segala hal yang terjadi dalam kehidupan saya.
Jauh dari itu semua, saya ingin berbagi, marilah sayangi anak2 kecil yang ada di lingkungan kita, jangan bilang mereka anak nakal karena sikap mereka yang kurang kita sukai, karena saya yakin mereka juga tidak ingin menjadi anak yang nakal seperti yang kita sebutkan pada mereka.
Berikan mereka kelembutan.
Jangan membentak maupun menghardik.
Sejujurnya saya belum pantas menyampaikan ini semua pada temen2 semua, tapi seenggaknya saya saat ini punya dua anak yang setiap orang "melabelli" anak saya dengan sebutan anak nakal. Saya sedih, tapi saya juga tidak bisa berbuat apa2, maafkan ayah nak.
Kita yang saat ini berperan sebagai Kakek, Nenek, Ayah, Bunda, Om, Tante, Uwak, Kakak, Adek, atau sebagai apapun, biarkan anak2 itu bermain sepuasnya, tugas kita hanya mengawasi.
Dan sekali lagi saya katakan, disaat mereka nakal, sesungguhnya mereka juga tidak punya alasan kenapa mereka nakal.
Di hari yang berharga ini, di Tanggal 23 Juli 2015, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, mari kita jaga dan buat mereka merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Sekali lagi....
SELAMAT HARI ANAK INDONESIA Berkibarlah Merah Putihku ditanganmu anak anak Indonesiaku dalam Bhineka tunggal Ika, tanah pusaka Ibu Pertiwi

