Social Icons

Senin, 19 Juni 2017

PROSES PENCERNAAN PADA HEWAN MEMAMAH BIAK (RUMINANSIA)



Hewan-hewan herbivora (pemakan rumput) seperti domba, sapi, kerbau disebut sebagai hewan memamah biak (ruminansia). Sistem pencernaan makanan pada hewan ini lebih panjang dan kompleks. Makanan hewan ini banyak mengandung selulosa yang sulit dicerna oleh hewan pada umumnya sehingga sistem pencernaannya berbeda dengan sistem pencernaan hewan lain non ruminansia.

Perbedaan sistem pencernaan makanan pada hewan ruminansia, tampak pada struktur gigi, yaitu terdapat geraham belakang (molar) yang besar, berfungsi untuk mengunyah rerumputan yang sulit dicerna. Di samping itu, pada hewan ruminansia terdapat modifikasi lambung yang dibedakan menjadi 4 bagian, yaitu :
1. Rumen (perut besar 80%);
2. Retikulum (perut jala 5%);
3. Omasum (perut kitab 7 – 8%); dan
4. Abomasum (perut masam 7 – 8%).

Dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retlkulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7 - 8%. Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot spincter berkontraksi. Abomasum merupakan lambung yang sesungguhnya pada hewan ruminansia.

Hewan herbivora, seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti halnya pada sapi untuk fermentasi selulosa. Proses fermentasi atau pembusukan yang dilakukan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banyak mengandung bakteri. Proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi di lambung. Akibatnya, kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yaitu di sekum.

Sedangkan pada sapi, proses pencernaan secara fermentasi terjadi dua kali, yaitu pada lambung dan sekum keduanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu.

Adanya bakteri selulolitik di lambung hewan memamah biak merupakan bentuk simbiosis mutualisme yang dapat menghasilkan vitamin B serta asam amino. Di samping itu, bakteri ini dapat menghasilkan gas metan (CH4), sehingga dapat dipakai dalam pembuatan biogas sebagai sumber energi altematif.

ANATOMI DAN FUNGSI SALURAN PENCERNAAN RUMINANSIA

SALURAN PENCERNAAN :
- Mulut;
- Esofagus;
- Lambung : Rumen, Retikulum, Omasum, Abomasum; 
- Usus Halus;
- Usus Besar (kolon);
- Anus.

MULUT
Pencernaan di mulut pertama kali di lakukan oleh gigi molar dilanjutkan oleh mastikasi dan diteruskan ke pencernaan mekanis. Di dalam mulut terdapat saliva.

Pengertian Saliva (Air Liur)
Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar khusus dan disebarkan ke dalam cavitas oral (rongga mulut).

Komposisi Saliva :
Komposisi dari saliva meliputi komponen organik dan anorganik. Namun demikian, kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena pada saliva penyusun utamanya adalah air. Komponen anorganik terbanyak adalah sodium, potassium (sebagai kation), khlorida, dan bikarbonat (sebagai anion-nya).

Sedangkan komponen organik pada saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase, maltase, serum albumin, asam urat, kreatinin, mucin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim, laktat, dan beberapa hormon seperti testosteron dan kortisol.

Selain itu, saliva juga mengandung gas CO₂, O₂, dan N₂. Saliva juga mengandung immunoglobin, seperti IgA dan IgG dengan konsentrasi rata-rata 9,4 dan 0,32 mg%.

Fungsi Saliva :
a. membantu proses penelanan makanan;
b. buffer karena pH-nya alkali (pH 8,4 – 8,5);
c. suplai nutrien mikroba.

Mekanisme Sekresi (Pengeluaran Yang Masih Di Dalam Tubuh) Saliva

Di kelenjar saliva, granula sekretorik (zymogen) yang mengandung enzim-enzim saliva dikeluarkan dari sel-sel asinar ke dalam duktus (saluran). Karakteristik ketiga kelenjar saliva pada mamalia dapat diringkas sebagai berikut:

SALIVA :
SAPI ± 150 liter/hari;
DOMBA ± 10 liter/har;i
Enzim : Pre-gastric esterase.

LAMBUNG RUMINANSIA
1. RUMEN
Rumen merupakan bagian saluran pencernaan vital pada ternak ruminansia. Pada rumen terjadi pencernaan secara fermentatif dan pencernaan secara hidrolitik. Pencernaan fermentatif membutuhkan bantuan mikroba dalam mencerna pakan terutama pakan dengan kandungan selulose, hemi selulose dan lignin yang tinggi. Sedangkan pencernaan hidrolitik membutuhkan bantuan enzim dalam mencerna pakan. Ternak ruminansia besar seperti sapi pedaging dan sapi perah dapat memanfaatkan pakan dengan kandungan nutrisi yang sangat rendah, akan tetapi boros dalam penggunaan energi.

Rumen pada sapi dewasa merupakan bagian yang mempunyai proporsi yang besar dibandingkan dengan proporsi bagian lainnya. Rumen terletak di rongga abdominal (perut) bagian kiri. Rumen sering disebut juga dengan perut beludru. Hal tersebut dikarenakan pada permukaan rumen terdapat papilla dan papillae seperti beludru. Sedangkan substrat pakan yang dimakan akan mengendap di bagian ventral (bawah). Di retikulum dan rumen terjadi pencernaan secara fermentatif, karena pada bagian tersebut terdapat bermilyar-mikyar mikroba.

LETAK : sebelah kiri rongga perut
ANATOMI  :
- Permukaan dilapisi papila (papila lidah) → untuk memperluas permukaan, untuk absorbsi (penyerapan);
- Terdiri 4 kantong (saccus);
- Terbagi menjadi 4 zona.

KONDISI  :
- Bahan kering isi rumen 10 -15%;
- Temperatur : 39 - 40º C;
- pH = 6,7 – 7,0;
- BJ = 1,022 – 1,055;
- Gas: CO2, CH4, N2, O2, H2, H2S;
- mikroba : bakteri, protozoa, jamur, kapang;
- an-aerob.

FUNGSI :
- Tempat fermentasi oleh mikroba rumen;
- Absorbsi : Volatile Fatty Acid (VFA), amonia;
- Lokasi mixing (mencampur);
- Menyimpan bahan makanan → fermentasi;

PEMBAGIAN ZONA DI DALAM RUMEN

PEMBAGIAN MIKRO BIOLOGIS :
1. Zona gas : CO₂, CH₄, H₂, H₂S, N₂, O₂;
2. Zona apung (pad zone) : Ingesta yang mengapung (ingesta baru dan mudah dicerna);
3. Zona cairan (intermediate zone) : cairan dan absorbsi metabolit yang terlarut dalam cairan (>mikroba);
4. Zona endapan (high density zone) : ingesta tidak dapat dicerna dan benda-benda asing.

2. RETIKULUM
Retikulum sering disebut sebagai perut jala atau hardware stomach. Fungsi retikulum adalah sebagai penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen. Retikulum berbatasan langsung dengan rumen, akan tetapi di antara keduanya tidak ada dinding penyekat. Pembatas di antara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan, sehingga partikel pakan menjadi tercampur.
- Secara fisik tidak terpisahkan dari rumen;
- Terdapat  lipatan-lipatan esofagus  yang merupakan lipatan jaringan yang  langsung dari esofagus ke omasum;
- Permukaan dalam : papila → sarang laba-laba (honey comb) perut jala;

Fungsi:
- tempat fermentasi;
- membantu proses ruminasi;
- mengatur arus ingesta ke omasum;
- absorpsi hasil fermentasi;
- tempat berkumpulnya benda-benda asing;

3. OMASUM
Omasum sering juga disebut dengan perut buku, karena permukaannya berbuku-buku. pH omasum berkisar antara 5,2 sampai 6,5. Antara omasum dan abomasums terdapat lubang yang disebut omaso abomasal orifice.
-  Letak : sebelah kanan (retikulum) garis median (di sebelah rusuk 7-11);
-  Bentuk : ellips;
-  Permukaan dalam berbentuk laminae → perut buku (pada lamina terdapat papila untuk absorpsi);
-  Fungsi: grinder, filtering, fermentasi, absorpsi.

4. ABOMASUM
Abomasum sering juga disebut dengan perut sejati. Fungsi omaso abomasal orifice adalah untuk mencegah digesta yang ada di abomasum kembali ke omasum. pH pada abomasum asam yaitu berkisar antara 2,0 - 4,1. Abomasum terletak di bagian kanan bawah dan jika kondisi tiba-tiba menjadi sangat asam, maka abomasum dapat berpindah ke sebelah kiri. Permukaan abomasum dilapisi oleh mukosa dan mukosa ini berfungsi untuk melindungi dinding sel tercerna oleh enzim yang dihasilkan oleh abomasum. Sel-sel mukosa menghasilkan pepsinogen dan sel parietal menghasilkan HCl. Pepsinogen bereaksi dengan HCl membentuk pepsin. Pada saat terbentuk pepsin reaksi terus berjalan secara otokatalitik.

Letak : dasar perut (kanan bawah)
- Bentuk : memanjang;
- Bagian dalam terdapat tonjolan : fold → absorpsi;
- Terdiri 3 bagian :
    - kardia  : sekresi mucus (lendir);
    - Fundika: pepsinogen, renin, HCl, mucus;   
    - Pilorika : sekresi mucus;
- Fungsi: - tempat permulaan pencernaan enzimatis (perut sejati) → Pencernaan protein;
- mengatur arus digesta dari abomasum ke duodenum.

PENCERNAAN FERMENTATIF MIKROBA (RUMEN, RETIKULUM, OMASUM)

PENCERNAAN ENZIMATIS ABOMASUM

KEUNTUNGAN PENCERNAAN FERMENTATIF :
• Dapat makan cepat dan menampung pakan banyak;
• Dapat mencerna pakan kasar : sumber energi (VFA);
• Dapat menggunakan Non Protein Nitrogen (NPN) : sumber protein.

KERUGIAN PENCERNAAN FERMENTATIF :
• Banyak energi terbuang sebagai gas metan;
• Protein nilai hayati tinggi didegradasi : ammonia;

USUS HALUS (INTESTINUM TENUE)
Fungsi : pencernaan enzimatis dan absorpsi
Ke dalam usus halus masuk 4 sekresi :
- cairan duodenum: alkalis, fosfor, buffer;
- cairan empedu: dihasilkan hati, K dan Na (mengemulsikan lemak), mengaktifkan lipase pankreas, zat warna;
- cairan pankreas: ion bikarbonat untuk menetralisir asam lambung;
- cairan usus;

PANKREAS
Letak : di dalam lengkungan duodenum;
Men-sekresikan enzim :
• Amilase  : alfa amilase, maltase, sukrase;
• Protease : tripsinogen,  kemotripsinogen,prokarboksi, peptidase;
• Lipase    : lipase, lesitinase, fosfolapase, kolesterol, esterase;
• Nuklease: ribonuklease, deoksi ribonuklease.

SEKUM DAN KOLON
• Bentuk: tabung berstruktur sederhana,  kondisi = rumen;
• Fungsi: fermentasi oleh mikroba;
• Absorpsi VFA dan air → kolon;
• Konsentrasi VFA: sekum: 7 mM, kolon: 60 mM (rumen = 100 – 150 mM).

GERAKAN YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN RUMEN
1. Prehensi;
2. Mastikasi : ensalivasi (94 x per menit);
3. Deglutisi;
4. Eruktasi : CO₂ dan CH₄;
5. Rumminasi :
    * Re-gurgitasi;
    * Re-mastikasi (55 x per menit);
    * Re-ensalivasi;
    * Re-deglutisi.



Ini salah satu bagian yang menarik bagi saya, karena ada kaitannya dengan proses pembuatan keju.

Pada hewan ruminansia yang masih sangat muda (0 s.d 3 bulan), partisi perut yang berupa ABOMASUM sangat berperan dalam pencernaan. Pada usia sangat muda, hewan ruminansia hanya mengkonsumsi susu dari induknya. Proses pencernaan paling banyak terjadi di dalam abomasum. Dinding abomasum mengeluarkan enzim yang disebut RENIN. Enzim renin inilah yang akan mengurai susu menjadi bagian padat dan bagian cair. Bagian padat (protein dan lemak) selanjutnya masuk ke dalam sistem pencernaan dan menjadi makanan pada sistem metabolisme hewan tersebut. Sedangkan bagian cairnya praktis merupakan air yang selanjutnya dibuang sebagai air kencing.

Dalam perkembangan selanjutnya, manusia "memanfaatkan" mekanisme pemisahan susu menjadi dua bagian (padat dan cair) ini untuk membuat keju. Pada awal-awal sejarah pembuatan keju, seorang petani akan menyembelih sapi yang masih sangat muda (pedet), di mana dagingnya dikonsumsi sebagai olahan kuliner dan abomasumnya diambil untuk diekstraksi renin-nya sebagai bahan penggumpal susu.




Enzim renin hanya ditemukan pada hewan ruminansia muda. Seiring dengan bertambahnya usia, enzim renin pada dinding abomasum semakin menipis dan lama-lama hilang. Saat sapi sudah lepas dari induknya dan tidak mengkonsumsi susu lagi, praktis enzim renin tidak diperlukan dalam sistem pencernaan. Tuhan sudah mengatur segalanya.



Bagaimana cara mendapatkan Renin?


Yang pernah saya lakukan sebagai berikut:
- ambil bagian abomasum dari sapi atau kambing yang masih muda (dulu saya pakai abomasum kambing)
- abomasum dibelah dan dibuang kotorannya dengan dialiri air yang mengalir pelan
- abomasum biasanya ditandai dengan dinding bagian dalam yang berlendir, sepertinya renin ini tersimpan dalam lendir ini, makanya air untuk mencucinya harus pelan agar lendiri ini tidak rontok
- setelah bersih, dinding berlendir tadi ditaburi garam secara merata, gunanya untuk mencegah pembusukan pada proses berikutnya (yakni pengeringan)
- berikutnya lembaran abomasum dikeringkan secara dingin, dengan cara ditaruh di chiller yang kelembabannya rendah (kalau dijemur di daerah tropis kadang jadi lonyot, benyek)
- dari pengalaman saya, dalam waktu 4-5 hari, lembaran abomasum yang ditaruh di chiller sudah berubah kering seperti keripik tempe. Maka kita sudah punya stok renin kering. Reninnya sendiri tidak bisa dilihat dengan mata, karena menempel di keripik kering itu tadi.
- cara pemakaiannya: keripik abomasum direndam dalam air hangat maksimal 34 C selama 15 menit agar renin larut ke dalam air, selanjutnya air rendaman ini dicampurkan ke susu yang akan dibuat keju. Normalnya, dalam waktu 15 menit susu akan menggumpal (bagian protein dan lemak terpisah dari bagian air).
-

Menurut sejarah, keju ditemukan para pengembara dari Mesopotamia (sekitar perbatasan Syria, Irak, Turki) secara tidak sengaja. Ribuan tahun lalu, para pengembara punya kebiasaan membawa bekal berupa susu segar yang diwadahi kantong-kantong yang terbuat dari lambung domba. Nah rupanya di kantong tadi masih tertempel sisa-sisa renin, sehingga susu yang ada di dalamnya menggumpal. Gumpalan susu ini ternyata enak dimakan. Selanjutnya mereka berpikir bagaimana proses itu terjadi bla-bla-bla dan sampai pada kesimpulan bahwa penyebab penggumpalan adalah zat yang menempel pada kantong wadah susu. Selanjutnya, susu sengaja digumpalkan...dan mulailah sejarah perkejuan.


Jaman sekarang, dengan kemajuan teknologi, enzim renin sudah bisa diekstraksi dari tumbuhan sejenis jamu. Salah satu yang populer adalah jamur Rhyzomucor miehei. Enzim renin dari jamur ini ternyata jauh lebih murah biaya produksinya. Produksi renin nabati ini juga sekaligus menjadi solusi bagi concern perihal "peri-kehewanan" (karena tidak ada anak sapi yang dikorbankan) serta concern perihal status "halal-haramnya" keju. Keju yang dibuat dengan bantuan renin nabati ini sudah pasti halalnya, karena tidak melibatkan penyembelihan hewan apa pun. (Kecuali bila susunya haram, misal susu babi atau susu hasil nyolong...hahaha).



Jumat, 16 Juni 2017

KEFIR PERTOLONGAN AMPUH PADA FLU

**

Kalau kita kena flu dan sejenisnya, umumnya dokter selain memberikan analgetik & antipiretik, juga memberikan Szczesny antibiotik.
Padahal flu itu akibat virus, dan antibiotik tidak bisa membunuh virus.
Memang kenyataannya kalau flu, dengan minum antibiotik, penderita lebih cepat sembuh.

Inilah analisisnya.

Pada saat kondisi tubuh menurun, artinya tidak cukup antibody untuk mengatasi berbagai infeksi, maka yang berkembang tidak cuma virus, tapi juga berbagai bakteri patogen lainnya.

Apabila dibiarkan, semuanya berkembang dengan cepat, dan tubuh kewalahan untuk mengatasi semuanya. Antibody yang adapun sibuk mengatasi semua infeksi tersebut.
Untuk meringankan beban antibody, maka digunakan antibiotik yang membunuh bakteri patogen, sehingga sisa antibody yang ada dapat lebih fokus hanya untuk melawan virus.
Dengan demikian, komplikasi akibat bakteri dapat dihindarkan.

Tentu saja, dokter juga memberikan vitamin,  yang bertujuan agar pembentukan antibody yang digunakan untuk melawan virus dapat tumbuh lebih cepat, agar tidak kalah dengan cepatnya pertumbuhan virus.

Tapi vitamin juga hanya bermanfaat kalau penderita memperoleh asupan makan yang cukup sebagai bahan baku pembuatan antibody. Karenanya kadang diberikan atau disarankan mengonsumsi suplemen, salah satunya madu.

Karenanya di masa lalu, sup ayam yang panas, cukup efektif sebagai "obat" flu, karena menyediakan nutrisi yang penting untuk membuat antibody.

Tindakan yang lebih "pas" adalah dengan meminum Kefir yang dicampur dengan kolostrum. Kolostrum mengandung antibody siap pakai, yang akan langsung menyerang semua infeksi, baik virus maupun bakteri patogen.
Hebatnya, antibody ini berbeda dengan antibiotik, karena tidak membunuh bakteri yang bermanfaat, sementara antibiotik menumpas segala macam bakteri, baik yang baik maupun yang jahat.
Sementara itu, nutrisi yang terkandung dalam susu kefir, merupakan bahan baku yang baik untuk membentuk antibody. Konsumsi vitamin juga akan mempercepat proses pembentukan antibody.

Ketika flu mulai menyerang, minum sekaligus Kolostrum (sesuai porsi yang bergantung pada ukuran tubuh), bisa meredakan flu hanya dalam hitungan jam. Konsumsi susu Kefir yang dicampur dengan Kefir Kolostrum memberikan efek yang lebih signifikan.

Dan praktis tanpa efek samping, karena pada dasarnya kefir susu dan Kefir Kolostrum adalah makanan, bukan obat, tapi akan berfungsi menyembuhkan flu jauh lebih efektif dari obat.

_Catatan_:
Penyakit akibat virus yang populer antara lain flu, campak/cacar, DBD, Chikungunya, hepatitis, kutil (papilloma), tahi lalat.
Salep Kolosrum juga lebih efektif untuk menanggulangi gangguan infeksi pada kulit dibandingkan dengan hanya minum Kefir saja.

Selasa, 13 Juni 2017

*CARA MENANGANI KERACUNAN PADA SAPI*



Sapi adalah hewan ruminansia yang mempunyai perut ganda, berbeda dengan manusia (mamalia) yang mempunyai perut tunggal. Sehingga penanganan keracunan pada sapi agak berbeda dengan yang terjadi pada manusia. Lambung ganda sapi terdiri dari rumen, retikulum, omasum, dan abomasum.

Di dalam lambung sapi mempunyai berbagai macam bakteri yang menguntungkan karena berfungsi untuk membantu fermentasi makanan sapi yang terdiri dari rumput dan hijauan yang lainnya.

Sehingga pada sapi dewasa, tidak dianjurkan pemberian obat secara oral (lewat mulut) karena akan membunuh bakteri yang ada di dalam lambung sapi. Langkah-langkah yang dapat diambil peternak sapi yang menemukan ternaknya terkena racun adalah sebagai berikut :

Pastikan dahulu bahwa sapi tersebut memang keracunan dan bukan disebabkan oleh penyakit yang lainnya, sapi yang keracunan biasanya dapat menunjukkan tanda-tanda klinis berupa : hipersalivasi (keluarnya banyak air liur / busa), inkoordinasi gerak (kejang-kejang), perutnya kadang-kadang kembung (membesar) pada kasus keracunan urea misalnya;

Memberikan pertolongan pertama dengan memberikan minum air kelapa hijau sebanyak 3 s/d 5 butir, yang berfungsi untuk menetralisir racun secara cepat;

Memberikan gerusan arang yang dicampur dengan air, diminumkan dan diulang setiap 3 jam sekali sampai sapi dapat mengeluarkan kotoran dan urinasi (kencing);

Bisa juga dengan menambahkan minum air es yang dingin, tujuannya adalah untuk memperlambat gerak rumen sehingga proses penyebaran racun dapat ditunda;

Mengembalikan flora normal bakteri yang berada di dalam perut sapi dengan cara membuatkan minuman yang banyak mengandung bakteri, cara membuatnya dengan menyiapkan ember yang diisi sepertiga kotoran sapi yang berasal dari sapi yang sehat, sepertiga berisi air yang dicampur gula dengan konsentrasi (25 s/d 30) %.

Setelah dicampur diaduk rata kemudian didiamkan selama 24 jam, keesokan harinya air bagian paling atas diminumkan ke ternak sapi yang keracunan tersebut. Adukan tersebut ditambah air lagi lalu diaduk lagi kemudian esok harinya diberikan ke ternak sapi lagi sampai 7 hari.

Apabila kondisi sapi shock dan mengalami Sindrome Sapi Ambruk (SSA) maka diperlukan penambahan cairan lewat infus, hal ini memerlukan bantuan tenaga yang professional, sehingga diperlukan Medik ataupun Paramedik Veteriner. Peternak tetap perlu berdiskusi dengan Dokter Hewan, agar tidak salah dalam mengobati ternak sapi nya.
Viva Veteriner.

Sabtu, 03 Juni 2017

MENGHITUNG KEBUTUHAN PAKAN KOMPLIT PADA SAPI PEDAGING


Menghitung kebutuhan pakan sapi pedaging dewasa, misal bobot badannya 400 kg :
1. Jatah pakannya 2,5% dari BB.

2. Bila pakai patokan 2,5% x 400 kg = 10 kg bahan kering.

3. Kadar air pakan komplit maksimum 20%, maka kadar bahan keringnya 80%.

4. Maka jumlah pakannya = 10 kg x 100/80 = 12,5 kg (dengan kadar air 20%);

5. Pakan komplitnya standar terdiri dari konsentrat kadar protein 14,5% (60%) + rumput Gajah umur 40-50 hari atau tebon jagung umur 80-90 hari atau campiran keduanya (2/3 bagian rumput Gajah + tebon jagung 1/3 bagian karena mahal harganya), sudah dilayukan sampai kadar airnya 30% (40%);

6. Hasilnya, kadar protein pakan komplit lebih dari 12%. Bila difermentasi dulu secara tertutup pakai probiotik, selama minimum 4 minggu, maka kadar proteinnya bisa meningkat 4-5%, menjadi lebih dari 16%;

7. Kebutuhan protein sapi pedaging BB 400 kg minimum 2,1 kg, maka sapi mu pedaging harus makan pakan komplit 2,1 kg x 100/12 = 17,5 kg/ekor/hari x 100/80 = 21,9 kg. Dibulatkan menjadi 22 kg dengan kadar 20% (mamel).

8. Bila pakan komplitnya sudah difermentasi dulu, kadar airnya 30%, maka kebutuhannya atau feed intake-nya :
> 2,1 kg x 100/16 = 13,125 kg x 100/70 = 18,75 kg, dibulatkan menjadi 19 kg/ekor/hari;

> lebih hemat 3 kg dibanding pakan komplit yang tidak difermentasi (22 kg - 19 kg), setara dengan hemat 13,6%. FANTASTIK.

9. Bila dihitung balik dari pakan yang tidak difermwntasi :
> 22 kg x 80/100 = 17,6 kg bahan kering pakan komplit;

> intake protein 12% x 17,6 kg = 2,1 kg, sesuai standar minimum, berdasarkan bahan kering;

10. Bila dihitung balik dari pakan yang difermentasi dulu :
> 19 kg x 70/100 = 13,3 kg bahan kering pakan komplit;

> intake protein 16% x 13,3 kg = 2,13 kg protein, sesuai dwngan standar minimum, berdasarkan bahan kering.
 
Blogger Templates