Perjalanan pertama saya di pagi tadi adalah ke kandang puyuh, sudah 5 hari ini mereka tidak saya jenguk. Ternyata telurnya udah nambah.
Ada perasaan yang beda pada hari ini, saya kayak orang yang pertama lihat situasi kandang peternakan saya, padahal mereka saya tinggal ke luar kota bukan hanya hari ini saja, melainkan hampir tiap minggu. Tapi pagi tadi semuanya terasa beda.
Jam 8. Pagi saya pulang lagi ke rumah, karena terlanjur janji sama keluarga kalau hari ini kami mau liat air show dan expo di Pangkalan Udara TNI AU Tasikmalaya.
Anak saya yang ke dua ditinggal sama bibinya di rumah, saya berangkat sama istri dan ponakan, ditambah anak saya yang gede.
Sampai di Lanud, udaranya cerah banget, sampai-sampai saking cerahnya, saya sampai harus sedia payung guna berteduh.
Dari tahun ke tahun acaranya selalu sama, adegan "pura-pura" penyelamatan pangkalan udara dari teroris, kalau untuk yang pertama kali lihat mungkin itu keren, cuman bagi saya yang dari tahun-tahun kemarin juga sudah lihat, rasanya adegan itu mulai garing dan basi.
Sama persis dengan hari ini, ya tanggal ini, yang ngeramein postingan medsoc bukan hanya warga Tasikmalaya saja, hampir seluruh warga Indonesia, khususnya yang punya "jiwa nasionalisme" yang tinggi.
Mereka beramai-beramai mosting soal Hari Kebangkitan Nasional yang ke 107, beda dua bulan sama lahirnya Inter Milan.
Hari ini seperti biasa, tanggal 20 Mei, selalu dijadikan jadwal seremonial untuk acara Hari Kebankitan Nasional. Padahal bagi saya acara ini sudah cukup memuakan.
Sayangnya para pemuda nasionalis, dan para mahasiswa yang keren dan hebat juga ikutan latah dalam seremonial ini. Setelah seremonial selesai, maka nasionalisme nya bubar. Nunggu event selanjutnya lagi guna numbuhin jiwa nasionalisnya itu.
Ada yang nanya sama saya, emang bagi saya apa sih hari kebangkitan nasional itu? Gampang aja!
Saya jawab dengan sesimple mungkin.
Disaat kita sudah bisa berkarya dengan passion kita, disaat kita sudah mulai berhasil menunjukan kalau passion kita berguna bagi Indonesia, disaat Passion kita telah menjadi kendaraan dimana kita akan berjuang. Disitulah kebangkitan itu akan terjadi.
Dari 2004 saya menggeluti bidang peternakan, karena disamping menjaga ternak asli Indonesia, hal ini juga bisa menjadi tolak ukur untuk ketahanan pangan Indonesia.
Beberapa teman saya mungkin sudah tau akan kinerja saya.
Saya bergerak bukan cuman dibidang peternakan saja, melainkan Perikanan, Pertanian, dan Perkebunan.
Saya berusaha mengsinergiskan semua hal itu, 4 pilar ketahanan pangan Nasional bagi saya.
Saya selalu yakin dan bahkan keyakinan saya semakin bertambah, dulu saya belum sanggup mengsinergiskan ke empat hal tersebut, tapi mulai tahun ini, saya sudah mencoba melakukan itu, dan ternyata saya bisa.
Mulai Januari 2015, saya dengan modal sendiri keliling Pulau Jawa, untuk mengsosialisasikan apa yang saya bisa, ke kelompok-kelompok Tani, ke para peternak skala kecil, ke petani yang masih punya lahan sedikit. Saya tebarkan semua yang saya terapkan di Agri Trimurti. Emang sih gerakannya belum mengnasional, tapi seenggaknya, sudah beberapa Desa di Pulau Jawa ini yang mulai faham.
Saya belum bisa menjangkau Untuk Luar Pulau Jawa, disamping waktunya belum ada, dananya juga belum kuat. Saya baru bisa jalan pake Mobil saya saja, karena belum sanggup bayar pesawat untuk kesana-kemari. Saya juga belum mau nyari sponsor, karena emang ilmu saya masih mentah.
Saya belum tega kalau beban operasional saya dibebankan kepada para pengundang saya, karena saya tau keadaan ekonomi mereka.
Kadang saya sedih, ada beberapa orang yang saya kenal, dia ilmunya sudah banyak, dia hidupnya sudah mampu, tapi pas ada undangan untuk ngisi acara, dia tetep harus diberi operasional. Emang sih dia gak dibayar, cuman dengan dia ingin datang kalau ada yang ngongkosin bagi saya sih dia masih termasuk kategoro orang bayaran.
Mungkin benar, ilmu yang dia dapatkan didapatkan dengan cara tidak mudah, atau bahkan tidak gratis. Tapi kalau emang belum merasa mampu jangan sekali-kali menjual ilmu yang ada, walaupun dengan embel-embel "ongkos jalan".
Di sini saya tidak sendiri, tapi saya gabung dengan yang lain di bidang peternakan yang lain, kalau saya di kambing PE dan Puyuh, yang lain di Unggas lain seperti Ayam Petelur dan Sapi Potong.
Saya terus meyakinkan mereka, untuk memberi arahan kepada para petani, supaya mereka punya "pabrik" pupuk sendiri, dan juga "pabrik" pakan sendiri.
Karena kalau 4 ketahanan pangan tadi sudah bisa disinergiskan, maka kita sudah bisa menjadi Petani Peternak yang berhasil.
Di hari yang tepat ini, saya ingin sedikit ngajak teman-teman, untuk bisa membangkitkan Indonesia seutuhnya, baik dibidang SDM nya, Kesehatan, Pangan, Pendidikan, atau bahkan Infrastruktur. Atau di bidang yang lain.
Saya yakin teman-teman semua bisa, dan punya potensi.
Saya juga gak munafik kalau hidup itu perlu uang, tapi uang bukan segalanya, uang hanyalah objek, tapi cita-cita sesungguhnya adalah subjek dari uang itu, apakah itu berupa Rumah, Mobil, Atau emas, jadi tujuan akhirnya bukan Uang, melainkan Cita-cita.
Kalau cita-cita saya dari dulu menjadi Petani, dan sekarang Impian saya sudah tercapai, jadi uang yang ada bisa saya lempar ke hal yang lain, termasuk datang ke daerah-daerah guna menyebarkan ilmu yang saya punya. Dengan modal sendiri.
Saya bersyukur dengan hidup saya yang sederhana ini, karena toh jadi petani juga bisa bermanfaat.
Mari teman-teman, kita buktikan pada Dunia kalau Indonesia itu beneran sudah bangkit, bukan hanya katanya saja.
Katanya Indonesia sudah bangkit, tapi kok masih banyak anak-anak Indonesia yang tidak sekolah baik formal maupun non formal.
Katanya Indonesia sudah bangkit, tapi kok masih banyak warganya yang ketika sakit susah untuk berobat.
Katanya Indonesia sudah bangkit, tapi kok masih ada warganya yang mau berangkat ke sekolah gak jadi karena jembatannya ambruk, dan tidak ada dana untuk memperbaikinya.
Katanya Indonesia sudah bangkit, tapi kok masih ada anak Balita yang meninggal karena menderita gizi Buruk.
Katanya Indonesia sudah bangkit, tapi kok tiap supporters bolanya masih aja ribut, pemerintahnya masih aja korup, pelajarnya masih aja tawuran, Konflik antar agamanya masih ada.
Katanya Indonesia sudah bangkit, bahkan sudah 107th bangkitnya, tapi kok gerakannya hanya sebatas upacara bendera saja dikalangan PNS.
Kalau emang Hari Kebangkitan Nasional itu seperti itu, berarti ya memang masih katanya dan katanya saja.
Kalau denger kalimat katanya, jadi inget lagunya tri kwek-kwek
Katanya... Katanya...
Hehehehe
Selamat malam, dan jangan lupa cuci kaki, cuci tangan, gosok gigi ya
Sent from BlackBerry® on 3
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus