Social Icons

Senin, 04 Mei 2015

Bukan Soal yang Diberi, tapi Melihat apa yang Diambil

Ini Bukan Soal Kemenangan "Money" atas "Pacman", bukan juga soal kelahiran Anak Kate Middleton, tentunya juga bukan soal Pedrosa yang gagal naik Podium di GP kemarin, dan ini juga bukan soal Inter yang cuman bisa bermain imbang 0-0 melawan Chievo.
Tapi ini soal sesuatu yang mungkin masyarakat dunia tidak menyadarinya, sesuatu hal yang memang hanya aku yang bisa menikmatinya.
Beberapa hari ini, banyak banget orang nge share tentang motivasi, dari ribuan meme ataupun hanya sekedar tulisan hanya satu yang sungguh mengena dalam hati saya.
Yaitu quote "jangan pernah iri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain, karena kita tidak tau apa yang Tuhan ambil dari dia"
Yap itu ngena banget di hati saya.
Inti ceritanya begini, ada temen saya, dia udah deket banget sama saya, tiba-tiba aja dia nyeletuk, enak ya jadi si Pandu, gak kerja aja banyak duit.
Saya sih senyumin aja, dalam hati saya ngomong, yang dia lihat hanya sebuah kesenangan, padahal ada ribuan tetes air mata yang menghiasa semua kebahagiaan ini.
Dia tidak tau bagaimana cara menahan hawa nafsu selama berbulan-bulan untuk saya bisa mencapai sesuatu yang belum besar ini, dia tidak tau ada berapa luka dan tangis dalam perjalanan petualangan ini.

Tapi rasa-rasanya sikap teman saya itu terkadang selalu saya jalani juga, bahkan sering.
Saya terkadang suka ingin menjadi orang lain, saya terkadang suka menyesali perbuatan yang menguntungkan orang lain.
Saya kadang iri sama orang tua yang bisa selalu memberi kepada para buah hatinya tentang hal yang indah.
Saya kadang iri sama orang-orang yang bisa kapan saja liburan dengan orang tersayangnya.
Bahkan iri dengan apa yang dimiliki orang lain.
Tapi sekarang saya sadar semua itu ternyata rencana Allah untuk menghibur hambanya yang Taat.
Karena saya pikir-pikir, sayalah yang sampai saat ini tidak pernah merasakan beban yang sangat sulit.
Dari dulu semenjak kecil saya sudah bisa hidup dengan bahagia, saya diberi Orang Tua yang berkecukupan sama Allah SWT.
Sejak kecil disaat orang lain hanya bisa bermain dan bermain saja, saya dari kelas 3 SD sudah belajar berwirausaha dengan beternak Puyuh, dirawat sendiri, dijual sendiri.
Hidup saya bahagia sedari kecil, karena punya kakak yang sangat menyayangi saya, saya punya adik yang sangat dekat dengan saya. Bahkan pas kuliah kemarin ada teman saya yang nyeletuk, enak ya, kamu mah akur sama adik tuh, saya mah boro-boro, di rumah berantem terus.
Saya pikir cuman berantem biasa aja, ternyata udah sampai berantem yang hebat, yang tidak layak disebut saudara.
Saya bahagia, disaat saya dengar teman-teman saya usaha orang tuanya bangkrut, dia yang tadinya membanggakan diri di depan saya, jadi merasa malu, sedangkan orang tua saya, walaupun sedikit tapi selalu ada peningkatan dalam kehidupannya.
Saya bahagia, orang tua saya masih utuh sampai sekarang, karena ada beberapa teman saya yang sudah yatim dari SD, bahkan ada yang sudah yatim piatu. Saya tidak, bahkan sampai saya punya anak orang neneknya Ibu saya masih ada. Teman saya ada yang cerita : pas mereka mau nikah : coba ayah masih ada, coba ibu bisa liat saya. Saya tidak, waktu saya nikah semuanya ada, semuanya menyaksikan.
Pas temen-temen saya melahirkan anak pertama mereka, mereka ada yang bilang : nak, seandainya nenek (kakek) masih ada, pasti akan seneng banget liat kamu yang cakep kayak gini nak.
Saya bahagia karena saya punya istri yang hebat, semua kekuarangan saya tidak pernah dijadikan masalah baginya, coba temen saya, hanya karena suaminya bangkrut dan nganggur sampe ngambek dan gilanya lagi curhat ke saya, bahkan katanya pengen di cerai sama suaminya, saya tidak tau kelanjutannya seperti apa, yang jelas ada semacam penyesalan dalam hatinya karena bersuamikan "miskin".
Saya bahagia, disaat orang lain menikah sudah bertahun-tahun tapi tidak punya anak juga, saya 3bulan menikah sudah diberikan kehamilan ke istri saya, dan usia 11pernikahan saya sudah dikaruniai anak lelaki yang cakep, dan tidak berlangsung lama anak kedua saya juga lahir.
Saya bahagia karena Allah sudah sangat baik sama saya.
Saya tidak mungkin menulis semua kebahagiaan saya di sini, karena seperti pepatah, walaupun kita jadikan semua pohon di dunia ini sebagai pena dan semua air dijadikan tinta, maka sama sekali itu tidak akan cukup untuk menuliskan semua nikmat yang telah Allah berikan sama kita.
Tulisan ini sengaja saya buat, karena saya sadar kalau hidup saya terlalu banyak kebahagiaannya, jadi saya tidak perlu iri dengan orang lain. Karena walaupun mereka sekarang serba punya, tapi saya tida tau sebanyak apa pula kehilangan yang mereka rasakan.
Saya bersyukur untuk hidup saya yang hebat ini.

* tulisan ini ditujukan untuk saya yang beberapa hari ini, keseringan melihat ke atas dan akhirnya kesandung kemudian jatuh, hehehehe
Padahal dalam hidup itu yang diperlukan hanya fokus untuk melihat ke depan, melihat ke atas dan ke bawah sesekali saja lha, karena kalau kita berjalan terus-terusan melihat kebawah kita akan nabrak dan akhirnya celaka, begitu juga disaat kita berjalan kita selalu melihat ke atas, kita akan kesandung dan akhirnya jatuh.

Terakhir, dengan sepenuh hati saya bisikan Ke Telingan Allah, " Terimaa Kassihh Allah, kamu baik. Mmmuuaaahhhhh"
Sent from BlackBerry® on 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates