Social Icons

Sabtu, 21 Maret 2015

Melayani dan Dilayani

Udah malam minggu aja nih,
Kalian malam Mingguannya dimana?
Nongkrong sama temen2 jomlo kalian, apa berdua mesra di kamar sama pasangannya masing2? Terserah deh dimanapun juga, yang jelas malam ini saya lagi malam mingguan di Kaliurang Yogyakarta.
Bukan sengaja saya malam Mingguan di sini, tapi emang lagi ada acara khusus petani dan peternak kayak saya ini.
Saya di sini udah dari tadi siang, serentetan acara sudah saya ikutin.
Dari mulai perkenalan sesama peternak petani, saking banyaknya (karena hampir 155orang) saya udah lupa lagi nama2nya, tapi wajahnya masih inget lha dikit2, kemudian lanjut sharing soal peternakan pertanian organik, dan beberapa games.
Dari serentetan acara tadi, ada satu hal yang menarik bagi saya, yaitu pas game terakhir menjelang makan siang.
Nama gamenya adalah Self Service or Not?
Saya gak tau apa artinya itu, cuman saya bakalan mendeskripsikan beberapa point dari permainan tadi.
Jadi ceritanya kita disuruh memilih pasangan diantara 155orang tadi, kita milih secara acak, setelah terpilih, kita tentukan siapa yang A, dan siapa yang B.
Saat itu, saya terpilih menjadi agen A.
Awalnya bingung, hal apa yang harus saya lakukan sebagai agen A, karena panitia pelaksana telah menyiapkan selembar kain dengan panjang 50cm dan lebar 10cm.
Sesuai kesepakatan, agen A menjadi agen yang ditutup matanya.
Kemudian si agen B menjadi sosok yang wajib melayani semua keinginan agen A.
Dari mulai keluar ruangan, kemudian naik tangga menuju kamar hotel, kemudian makan siang, semua itu dilayani oleh agen B.
Kita sudah sepakat, tidak adak kecurangan dari permainan ini, jadi kita dengan sepenuh hati mengikuti game ini dengan baik, tanpa kecurangan.
Kita hanya boleh membuka tutup mata, ketika hendak berwudhu dan solat saja.
Setelah itu keadaan agen A kembali ditutup matanya.
Ada kejanggalan dalam diri saya ini, ketika hidup harus serba dilayani, padahal hidup kita sudah terjamin dengan pelayanan teman saya.
Tapi kok malah jadi gak enak ya, makan susah karena mesti disuapin, kemana-mana tergantung dengan teman saya.
Disitu saya sadar, ternyata melayani dan dilayani itu lebih membahagiakan melayani.
Sama halnya dengan sedekah, yang diberi dan yang memberi akan sama-sama bahagia, tapi diyakini kalau yang memberi itu kebahagiaannya lebih2 dari yang diberi.
Dan itu saya rasakan tadi, hidup dengan pelayanan orang lain, itu sangat menyiksa. Kita tidak bebas membentuk diri kita menjadi apa yang kita mau, semuanya tergantung orang lain.
Makanya saya heran, kenapa ada orang yang begitu nyaman atas pelayanan orang lain, padahal hal itu tidak menjadikan dia pribadi yang baik.
Dari situ saya bertekad, saya akan mengabdikan hidup saya untuk menjadi pelayan Makhluk Tuhan yang lain, tentu setelah menjadi Pelayan Tuhan yang sepenuhnya.
Karena selama ini, saya selalu dilayani oleh yang lain, termasuk Orang Tua, Istri, Saudara, bahkan oleh Hewan Peliharaan saya juga.
Semua pengabdian itu akan saya bayar dengan pelayanan terbaik saya untuk mereka.
Semoga teman-teman juga bisa berpikiran yang sama dengan saya, sehingga kita semua akan saling berlomba-lomba untuk melayani bukan bermalas-malasan hanya karena ingin dilayani.
Insha Allah
Sent from BlackBerry® on 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates