IBADAH HAJI
Sebelum masuk pada ritual haji kita akan kembali mengulas perihal Kabah. Seperti yang telah kita bahas di artikel sebelumnya, bahwa mitos kabah adalah buatan Ibrahim hanyalah dongeng yang dibuat oleh Muhammad untuk mengangkat martabat agama dan bangsanya. Fakta sebenarnya menunjukkan kabah adalah sebuah Kuil Hindu.
Silahkan lihat dilink berikut;
Sejarah Mekah dan Kabah
Istilah Kabah sendiri berasal dari kata Sanskrit Gabha (Garbha + Graha) yang berarti Sanctum (tempat suci).
Pada waktu itu Ka'bah di Mekkah telah merupakan pusat penyembahan berhala antara lain adalah Hajar Aswad, Laata, Manaata, Uzza dan lain-lain. Menurut Hadits Shahih Bukhari 59:843, pada waktu itu bangsa Arab melakukan upacara ibadah haji dalam rangka penyembahan kelompok berhala yang 360 jumlahnya dengan cara melakukan thawaf, yaitu berjalan mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali dalam keadaan telanjang bulat tanpa busana sambil bertepuk tangan.
"Dari Abu Hurairah katanya: Abu Bakar Siddik ditugaskan oleh Rasulullah sebelum haji wada untuk memimpin satu kaum pada hari Nahar melakukan haji, kemudian memberitahukan kepada orang banyak, suatu pemberitahuan: Ketahuilah! Sesudah tahun ini orang-orang Musyrik tidak boleh lagi haji dan tidak boleh thawaf di Ka'bah dalam keadaan telanjang. Sebelum Islam, orang-orang musyrik Arab telah melakukan juga pekerjaan haji menurut cara mereka sendiri. Antara lain ialah thawaf di Ka'bah dalam keadaan telanjang bulat sambil bertepuk tangan." ( Shahih Bukhari 8: 365 , 26:689)
Darimanakah ritual tawaf qudum ini berasal?
Praktek mengambil 7 langkah yang dikenal sebagai Saptapadi diasosiasikan dengan upacara perkawinan Hindu dan pemujaan api. Upacara klimaks dalam perkawinan Hindu yang menggabungkan pasangan pengantin mengelilingi api suci sebanyak empat kali (tapi kemudian disalah artikan nenek moyangnya Muhammad dengan 7 kali). Mengingat "Makha" / Mekah berari API, ketujuh tawaf itu membuktikan bahwa Mekah dahulunya dibangun sebagai pusat pemujaan dewa api.
Dalam melaksanakan ritual tersebut para penyembah berhala memakai pakaian yang disebut Ihram yang dipakai untuk menutup tubuh dengan dua helai kain putih yang tidak dijahit, di mana sehelai diselubungkan di sekeliling bahu dan yang sehelai lagi diselubungkan di sekeliling pinggang. Sedangkan kepala, kedua belah tangan dan kaki tidak boleh tertutup. Pakaian ini jelas sekali adalah pakaian adat umat hindu kuno dalam berziarah ke kuil mereka. Penggunaan pakaian tersebut dimaksudkan agar mereka datang dalam dalam keadaan putih bersih.
Sebelum dilakukan thawaf qudum maka para jamaah ibadah haji harus sampai di muka batu hitam Hajar Aswad lalu membungkuk dan menyembah sambil mencium batu hitam tersebut sambil membaca :
"Ya Allah ku ! aku beriman kepada Mu dan membenarkan kitab Mu, dan memenuhi janji Mu serta mengikuti sunnah nabi Mu, yaitu penghulu kami Muhammad SAW"
( "Allahumma Imaanan Bika Wa Tashdieqan Bikitaabika Wa Wafaaan Bi'ahdika Wattibaa'an Lisunnati nabiyika Sayydinaa Muhammadin Shallalahu Alaihi Wasallam." )
Dari manakah ritual mencium Hajar Aswad, silahkan lihat link berikut:
Sucikah Hajar Aswad
Setelah mencium batu tersebut barulah ia dapat melakukan thawaf qudum (thawaf selamat datang) berjalan keliling Ka'bah sebanyak 7 kali.sambil membaca doa talbiyah yang berbunyi Labbaik alaahumma labbaik dst… Kalimat ini adalah kalimat pemujuaan yang bisa diucapkan para penyembah berhala untuk memuja Tuhan mereka. Silahkan lihat di Sirat Rasul Allah karangan Ibn Ishaq dan diedit oleh Ibn Hisham, edisi Mesir, bagian pertama, hal. 27 dan 28. Di buku itu tertulis bahwa kaum Arab pagan Quraish di jaman pra-Islam, biasa mengadakan ibadah agama yang dinamakan Ihlal dan mereka pun mengucapkan kalimat yang menyatakan keesaan Tuhan yang berbunyi: “Labbaika, Allahumma dst… Darimana kata Allah ini berasal ? Kata Allah adalah bahasa sansekerta yang merujuk pada tuhan, anda dapat menemukan kata ini dalam Kitab Suci Hindu yaitu Rigveda Book 3 Hymn 30 V. 10 dan Rigveda Book 9 Hymn 67 V. 30.
Setelah selesai thawaf qudum dilanjutkan dengan ritual Sa'i, yaitu melakukan perjalanan kaki dari bukit Marwah ke bukit Shafa yang berada dalam lingkungan Masjidil Haram sebanyak 7 kali. Pada jaman sebelum islam ritual Sa’i ini dilakukan dengan berlari diantara dua bukit yang disebut Shafa dan Marwah dimana ditiap bukit dipasang patung laki2 dan perempuan. (Washington Irving, Mahomet and his successors, halaman 31).
Para muslim yang pertama dulu sebenarnya enggan berlari antara Shafa dan Marwah seperti kaum berhala lakukan; tapi Muhammad mengancam mereka untuk tetap melakukan ritual tersebut dengan menurunkan QS 2 :158. (Sahih Bukhari 26: 706,710)
QS 2:158
Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.
Kemudian setelah itu pergi ke padang Arafah melakukan wukuf yaitu berada di padang Arafah mulai jam 12.00 siang sampai matahari terbenam. Selama berada dalam keadaan wukuf diwajibkan memikirkan perkara-perkara rohani dan membaca ayat-ayat Alquran. Di padang Arafah terdapat bukit Jabal Al Rahmat untuk dikunjungi.
Upacara ibadah berikutnya adalah berjalan ke Musdalifa untuk tinggal sepanjang malam, kemudian paginya pergi ke Mina untuk melakukan upacara melontarkan jumrah, yaitu melontarkan batu kerikil kepada si Iblis sebanyak 7 kali. Ada 3 jumrah, yaitu: jumrah ula, jumrah wustha, jumrah aqabah. Dengan demikian upacara melontarkan batu kerikil kepada si Iblis adalah sebanyak 7x3 = 21 kali.
Sementara itu pada tanggal 10 Dzulhijjah dilakukan penyembelihan hewan untuk kurban. Hewan yang dikurbankan pada umumnya adalah kambing, domba, sapi, unta. Selain dari pada itu diadakan upacara mencukur rambut atau menggunting rambut saja. Kemudian kembali ke Masjidil Haram di Mekkah untuk melakukan thawaf wada dan Sa'i antara bukit Shafa dan Marwa. Thawaf wada sebagai thawaf selamat tinggal.
Keseluruhan ritual penyembahan dewa2 diatas diadopsi Muhammad ke dalam Islam, untuk menyenangkan hati orang2 Mekah sekaligus untuk melestarikan pemasukan dari acara haji tersebut. Ingat, orang tua Muhammad dulunya adalah penjaga Kabah yang mendapat penghidupan dari jamaah yang menyembah patung2 di Kabah.
Sungguh tindakan nabi yang mulia, berniat menghancurkan berhala, namun justru jatuh pada upacara penyembahan berhala…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar