29 Maret 2010
“
bukakanlah mataku untuk apa yang kau kehendaki agar aku ketahui… ”
1 Tahun 8 bulan bulan
usia hubungan Galan dengan Tania sungguh masa yang
sulit bagi mereka, mereka semakin merasa kalau mereka sudah tidak ada lagi kecocokan, mereka sering bertengkar karena hal-hal yang kecil saja, Galan yang asalnya cuek kalau smsnya lama dibalas sekarang jadi sering marah, pernah Tania membeli hp dengan harga yang cukup mahal, dan Galan tiba-tiba marah karena Tania tidak memberi kabar sebelumnya kalau Tania akan memebli hp baru. Hari ini tepat hubungan mereka berumur Dua puluh bulan, mereka kembali bertengkar, dikarenakan Tania telat membalas sms Galan. Galan kesal dan tak mengucapkan selamat tanggal jadi kepada Tania, kata indah yang biasa Galan kirimkan kepada Tania, hari ini tidak dia lakukan. Malam sekitar pukul 7, Tania sudah tiga kali menghubungi Galan untuk segera pulang dan menelponnya, tentu saja permintaannya tidak Galan hiraukan. Jam menunjukan pukul 10 malam, Galan merapikan meja kerjanya di ruang Himpunan Jurusan Kuliahnya, dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam, tapi jalan ditengah kota Cirebon tidak seperti biasanya macet seperti malam ini, Galan benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan harus nelpon Tania, membuat Galan semakin kesal! Akhirnya Galan sampai juga dirumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan Galan tempuh pada malam itu, yang biasanya Galan hanya membutuhkan waktu satu jam saja untuk bisa sampai dirumah, hal itu di akibatkan karena adanya pohon tumbang karena hujan yang sangat deras dan rubuh ke tengah jalan, sehingga membuat jalanan menjadi macet.
sulit bagi mereka, mereka semakin merasa kalau mereka sudah tidak ada lagi kecocokan, mereka sering bertengkar karena hal-hal yang kecil saja, Galan yang asalnya cuek kalau smsnya lama dibalas sekarang jadi sering marah, pernah Tania membeli hp dengan harga yang cukup mahal, dan Galan tiba-tiba marah karena Tania tidak memberi kabar sebelumnya kalau Tania akan memebli hp baru. Hari ini tepat hubungan mereka berumur Dua puluh bulan, mereka kembali bertengkar, dikarenakan Tania telat membalas sms Galan. Galan kesal dan tak mengucapkan selamat tanggal jadi kepada Tania, kata indah yang biasa Galan kirimkan kepada Tania, hari ini tidak dia lakukan. Malam sekitar pukul 7, Tania sudah tiga kali menghubungi Galan untuk segera pulang dan menelponnya, tentu saja permintaannya tidak Galan hiraukan. Jam menunjukan pukul 10 malam, Galan merapikan meja kerjanya di ruang Himpunan Jurusan Kuliahnya, dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam, tapi jalan ditengah kota Cirebon tidak seperti biasanya macet seperti malam ini, Galan benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan harus nelpon Tania, membuat Galan semakin kesal! Akhirnya Galan sampai juga dirumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan Galan tempuh pada malam itu, yang biasanya Galan hanya membutuhkan waktu satu jam saja untuk bisa sampai dirumah, hal itu di akibatkan karena adanya pohon tumbang karena hujan yang sangat deras dan rubuh ke tengah jalan, sehingga membuat jalanan menjadi macet.
Galan melihat banyak
sms Tania di HP nya, tapi Galan tetap tidak menghiraukan itu sedikitpun. Sempat
Galan berhenti dan melihat foto Tania, cukup lama Galan memandang wajah Tania
dalam foto itu, “ia sungguh cantik” dalam Hati Galan bergumam, wanita yang
sudah Setahun lebih menjalin hubungan dengannya, ya hamper dua tahun yang lalu
yang di awali dari pertemuan di sebuah gedung megah di kota Jakarta, dan Galan
masih merasa kalau Tania memang selalu Cantik dimatanya. Galan menghela Nafas
dan meninggalkan foto Tania begitu saja. Galan kembali ingat kalau dia sedang
kesal dengan kekasihnya itu. Galan langsung masuk ke kamar, sambil bermain
laptop dia teringat tentang blognya Tania, akhirnya dengan ragu-ragu dia
membuka blog itu, blog yang berlatarkan biru yang dimiliki oleh kekasihnya.
Berbulan-bulan Tania menulis cerita hidupnya pada blog biru itu. Sejak sebelum
jadian sama Galan, tak pernah Tania mengijinkan Galan untuk membuka bolgnya
itu. Inilah saatnya! Gumam Galan dalam hati. Galan tidak mempedulikan Tania,
diketiklah alamat blog Tania dan Galan buka halaman demi halaman secara acak.
- 25 Juni 2008.
”Terimakasih Tuhan atas
pemberianMu yang berarti bagiku, Galan, cowok yang ku kenal dua hari lalu dia
meng-sms-ku dan membuatku bahagia.”
Galan tersenyum, dia
berpikir kalau Tania yakin sekali bahwa dia yang akan menjadi pacar pertama
bagi Tania. Dan memang pada saat itu Tania sama sekali belum pernah mempunyai
pacar.
-27Juni 2008.
“Tak sengaja kudengar
kalau Galan udah punya cewek. Tuhan, aku mohon agar Galan tetap memilihku dan
tidak akan pernah berpaling ke lain hati.”
Jantung Galan serasa
mau berhenti, ketika membaca tulisan Tania selanjutnya.
-28 Mei 2008.
“Ketika aku membuka
facebooknya Galan, tanpa sengaja aku membaca wall nya Galan, disana aku membaca
ada ucapan terimakasih untuk Galan, terimakasih atas candle light dinner di
hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Indah. Siapakah dia Tuhan?
Bukakanlah mataku untuk apa yang kau kehendaki agar aku ketahui…”
Jantung Galan benar-benar
mau berhenti. Indah, wanita yang dulu sempat menjadi pacarnya.
Galan sungguh tidak
menduga, kalau saat itu Tania sudah tau soal acara makan malam itu, tapi
hebatnya Tania tidak menunjukan sikap cemburu atau marah pada Galan, bahkan
Galan mengira Tania tidak akan mengetahuinya.
-29 Juli 2008.
“Galan mengungkapkan
perasaannya. Tuhan apa yang harus aku lakukan? Berikan aku tanda untuk
keputusan yang ku ambil.”
“hari yang luar biasa,
aku telah menjadi pacarnya Galan, Terimakasih Tuhan.”
Sambil tersenyum Galan
mengingat ketika dia mengungkapkan perasaannya sama Tania Sepuluh bulan yang
lalu itu.
-21 Agustus 2008.
“Aku di SMS wanita
bernama Indah, dia menghinaku dan berkata kalau Galan sudah menjadi Pacarnya.
Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal dariMu.”
Galan berpikir,
bagaimana mungkin Tania bisa sekuat itu, dia sama sekali tidak pernah
mengatakan kepada Galan kalau dia sering di ancam Indah, karena Galan tahu
Indah, Indah pasti telah membuat hati Tania sangat terluka dengan kata-kata
tajam yang keluar dari mulutnya. Nafas Galan terasa sesak pada saat itu, dia
mulai sadar kenapa dulu ketika awal-awal jadian Tania begitu manja sama Galan,
Tania begitu takut kalau satu hari saja Galan tidak memberi kabar, karena Tania
tahu kalau Galan masih sama Indah, dan Indah memang tahu soal hubungan Galan
sama Tania. Tania begitu kuat menahan hinaan Indah, dan semua itu sama sekali
tidak Tania adukan kepada Galan. Galan hanya berpikir kalau Tania baik-baik
saja, Tania yang setiap tanggal jadian memberikan Galan hadiah ternyata
mengahadapi masalah yang besar ketika awal-awal mereka jadian. Dan malam ini
nafas Galan begitu sesak, dia tidak mampu membayangkan apa yang Tania rasakan
pada saat awal-awal jadian mereka.
-18 Oktober 2008.
“pertengkaran pertama
kami sebagai pacar. Galan marah padaku, walaupun dia tidak membentak tapi aku
tahu kalau dia sedang marah padaku, aku tertidur pulas saat ia menelponku
sehingga ia menelpon dan terus menunggu telponnya ku angkat. Padahal.
Seharian aku berada di
Mall dengan Rahma untuk mencari iPod idaman Galan, aku ingin beli iPod itu
karena bulan Agustus kemaren Galan Ulang Tahun.
Tuhan, Beri kedamaian
di Hati Galan agar dia tidak marah lagi padaku, aku janji aku tidak akan tidur
di sore hari lagi kalau Galan belum menelpon dan membalas sms-nya, walaupun aku
lelah.”
Galan mulai menangis,
dia berpikir kalau Tania mencoba membahagiakannya tetapi dia malah memarahinya
tanpa mau mendengarkan penjelasannya, iPod yang Tania berikan pas kencan
pertama mereka itu sudah menjadi barang kesayangan Galan yang sering Galan
Pakai sampai detik ini, tanpa Galan sadari kalau Tania membelikannya dengan
susah payah.
-27 Oktober 2008.
“ Galan butuh hp untuk
mengecek e-mailnya kapanpun dan dimanapun, dia sangat sibuk dengan kuliah dan
pekerjaann yang lainnya, yang mesti ngebuka e-mail secepatnya. Tuhan, bantu aku
menabung agar akau dapat membelikan sebuah HP, hadiah buat tanggal jadian kita
buat Galan.”
Galan tidak dapat lagi
menahan tangisnya, Tania tidak pernah mengatakan hp itu adalah hadiah tanggal
jadian mereka, yang dia ingat waktu itu dia hanya memberikan sebuah cincin yang
harganya lebih murah dari hp itu, karena Galan tahu harga Hp itu memang mahal.
Galan tidak menyangka kalau Tania bela-belain nabung buat membeli hp itu.
Galan sudah tidak
sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Galan semakin yakin kalau Tania sudah
diberikan kekuatan dari Tuhan untuk mencintainya tanpa syarat. Galan berlari
keluar kamar, dan segera mengambil hp nya yang kebetulan dia sengaja simpan di
ruang tengah. Dia pencet no. hp Tania, Tania yang sudah tertidur lelap dengan
malas membuka matanya, dan menangkat hp nya,…. Jauh di ujung suara sana Tania
dengan jelas mendengar suara yang sudah sering dia dengar hamper dua tahun ini,
suara yang dia nantikan dari tadi pagi, akhirnya menjelang jam tiga pagi dia
dengar juga, walaupun telat Tania tetap bersyukur….
Dengan suara tercekat
Galan sebisa mungkin memperjelas suaranya…
“maafkan aku Tania, Aku
mencintaimu, selamat kita sudah 1 Tahun 8 bulan…”
***
Sementara Tania setelah
menutup telpon dari Galan, dia mulai meneteskan air matanya, dia teringat
ketika masa-masa hubungan mereka baru berjalan lima bulan lebih, dia mengingat
ketika sebelum mereka sering ketemuan, ketika sesuatu itu sekarang menjadi
sebuah keyakinan yang pasti bagi Tania, sebuah alasan kenapa Tania begitu
sayang sama Galan, sebuah alasan yang begitu Tania banggakan dari seorang
Galan, dia ikhlas apapun perlakuan Galan ke dia sekarang, karena bagaimanapun
Galan, Tania akan tetap mempunyai perasaan yang sama, malam itu kembali semua
terlintas dalam pikiran Tania.
Sebuah kejadian yang
memang sampai saat ini sangat berarti buat Tania, sebuah kejadian yang memang menjadikan
Tania pantas untuk terus mencintai Galan, bagaimanapun sikap Galan ke dia.
Beberapa hari sebelum mereka jadian, Tania masih
saja sulit untuk mengungkapkan, alasan apa yang menjadi sebab dia siap menjadi
kekasih Galan bila seandianya memang Galan menyatakan perasaannya pada Tania.
Tania sudah sadar bahwa Galan menyukai dia dari pas mereka bertemu pertama kali
di menara itu, dan tepat di tanggal 29 Juli 2008, Satu Tahun delapan bulan yang
lalu, dan yang mereka akhirnya jadian.
Pada saat itu Tania masih sangat heran, kenapa
dia mau menerima Galan, padahal dia tau kalau Galan pada saat itu sudah
mempunyai cewek. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang di lalui,
gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan
menjadi milik banyak orang; temannya di kampus, temannya di tempat les,
temannya di organisasi. Mereka ternyata sama herannya.
“kenapa?” Tanya teman-teman Tania di hari dia
telah jadian sama Galan.
Saat itu teman-teman baik Tania sedang duduk
dikantin menikmati hari-hari bebas setelah UTS baru saja berlalu beberapa hari
yang lalu. Suasana sore di kampus Tania sepi. Berpasang-pasang mata tertuju
pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Tania bersemu merah, lalu
matanya berpijar bagaikan lampu limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai
kata-kata yang barang kali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Tania
terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Tania hanya
menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tidak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak
jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa dia mau menerima jadi ceweknya Galan
dan bahkan bersedia menjadi yang kedua. Tapi kejadian di kampus adalah kedua
kalinya Tania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi ketika
dua hari yang lalu saat Tania menyampaikan pada teman-teman baiknya itu bahwa
dia menyukai Galan.
“kamu pasti bercanda!”
Tania kaget. Tapi melihat senyum yang tersinggung
di wajah Rahma sahabat terbaik Tania, disusul teman-temannya membuat Tania
menyimpulkan : mereka serius ketika mengira Tania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan
teman-teman yang lain yang tidak ikut ngobrol sama merekapun ikut-ikutan
melongo, mendengar kalau Tania sang bintang kampus menyukai seorang cowok udik
yang bernama Galan.
“gw serius!” tegas Tania sambil menebak-nebak,
apa lucunya jika Galan kelak nyatain perasaannya ke dia, toh dia juga menyukai
Galan.
“gak ada yang lucu”, suara temannya tegas, “gw
cuman gak nyangka aja, kalau si Galan berani buat nyatain perasaannya sama lo!”
Tania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat
temennya barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Tania tidak sepenuhnya benar
sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan
mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
pesakitan.
“tapi lo gak serius suka sama si Galan, kan?”
Rahma mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa,
“maksud gw, siapa aja boleh jadi cowok lo, tapi jawabannya tidak harus iya,
kan?”
Tania
terekesima.
“kenapa?”
“coz, lo sahabat gw yang paling cantik”
“lo, sahabat gw yang paling hebat, prestasi lo
paling keren di bandingin kita-kita, lo juga jago bela diri, bahasa inggris lo
hebat, suaramu bagus!”
“masa depan lo sangat cerah. Bahkan sebentar lagi
lo bakalan dilantik sebagi ketua senat yang baru, lo bisa dapetin cowok manapun
yang lo mau, dan gak harus Galan kan, dia sedang apa sekarang juga lo gak tau
kan, ditambah lagi dia udah punya cewek, emang sich Galan itu baik, soleh, tapi
apa lo yakin bakalan nerima dia bila suatu saat dia nembak lo!” Rahma ngomong
panjang lebar pada Tania pada saat itu, saat dimana hamper dua tahun yang lalu,
saat sebelum Tania jadian sama Galan.
Pada waktu itu Tania memandangi satu-satu dari
wajah temannya itu, Tania takjub dengan rentetan panjang uaraian mereka atau
satu kata “kenapa” yang barusan Tania lontarkan.
“tapi, gw sayang sama Galan, dan gw bakalan
nerima Galan apa adanya.”, sahut Tania pendek dengan air mata mengambang di
kelopak.
Waktu itu Tania sadar, teman-temannya bukan
sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Galan, karena mereka
berpikir kalau Galan berengsek Karena udah punya cewek masih saja deketin cewek
lain, terlebih lagi ceweknya itu adalah teman mereka sendiri. Ketidaksukaan
mereka sudah mencapai stadium empat. Parah. Ya kecuali Rahma, yang memang dia
sahabat Galan juga.
Tania berpikir…
“tapi kenapa?”
“sebab Galan Cuma cowok biasa, dari daerah,
dengan pendidikan yang biasa karena kuliah di universitas yang tidak terkenal,
dengan tampang biasa dan penampilan yang biasa juga, dan bahkan karena Galan
udah punya cewek?”
Bergantian sahabat Tania mencoba membuka matanya.
“tak ada yang bisa diliat dari dia Tan!”
“cukup!”
Tania menajdi marah. Dia bepikir kalau tidak pada
tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi
manusia. Dimana iman, dimana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan
seseorang dengan melihat pencapaiannya pada hari ini?
Sayangnya Tania lag-lagi gagal membuka mulut dan
membela Galan.
Barangkali karena Tania memang tidak tahu
bagaimana harus membelanya. Gadis itu tidak punya fakta dan data konkret yang
bisa membuat Galan tampak “luar biasa”. Tania pada saat itu Cuma punya idealisme
berdasarkan perasaan yang telah menuntun Tania menapaki hidup hingga sekarang
ini. Dan nalurinya menerima Galan. Dia bahagia bila sedang mengobrol atau
sekedar berbalas pesan di hp dengan Galan.
Mereka akhirnya jadian.
***
Satu bulan masa jadian…
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, maih
sering berbisik-bisik di belakang Tania, apa sebenarnya yang Tania liht dari
seorang Galan? Jeleknya, Tania masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Galan agar tampak di mata mereka.
Tania hanya merasakan cinta begitu besar dari
Galan, begitu besar hingga Tania bisa merasakannya walaupun jarak mereka
dipisahkan hampir 150 Km.
“tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar
Galan pada Tania.”
Nada suara Tania tegas, mantap
“gak ada
cowok yang bisa mencintai sebesar cinta Galan sama gw.”
Nada suara Tania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Temen-temennya hanya memandang lekat, mata merka
terlihat tidak percaya.
“Tan, siapapun akan mudah mencintai gadis
secantik lo! Lo temen kita yang gak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Lo
temen kita yang cantik, pintar, dan hidup lo pasti cemerlang!”
Tania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap
memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Tania berpikir kalau
mereka tidak boleh meremehkan Galan.
Beberapa lama empat sahabat itu beradu argument.
“tapi Galan juga gak jelek, kan!”
‘betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?”
“Galan juga pintar!”
“gak sepintar lo, Tania.”
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan
teman-temannya, bahwa Tania beruntung mendapatkan kekasih seperti Galan.
Lagi-lagi percuma.
“lihat hidupmu, Tania. Lalu lihat Galan! Lo
cantik, kaya, bahkan kalau kasarnya lo gak perlu kerja, coz uang lo udah
banyak,”
Teganya teman-teman Tania mengatakan itu semua.
Padahal sahabatnya itu sudah jadian dan bahkan sebentar lagi akan genap satu
bulan.
Ketika hubungan mereka mau menginjak ke umur tiga
bulan, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Tania dan Galan sudah sering jalan
sama mereka. Galan yang pada waktu itu masih magang di perusahaan bekerja
semakin giat.
Tania semakin mencintai Galan, Galan semakin
perhatian sama Tania, Galan selalu menjadi list pertama dalam daftar sms Tania.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang.
Bahagia!
Pertanyaan kenapa Tania memilih jadian dengan
cowok yang kata orang-orang adalah cowok biasa, dari keluarga biasa, dari
universitas yang biasa, berpenampilan biasa, tak lagi mengusik perasaan Tania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak usia hubungan yang ke empat bulan,
Tania semakin menyayangi Galan, begitupun Galan yang selalu mendedikasikan
waktunya buat kebahagiaan Tania.
Bisi-bisik masih terdengar, setiap Tania dan
Galan ketemuan, bisik orang-orang di kampus Tania,
“sungguh beruntung cowoknya, ceweknya cantik.”
“cantik ya? Dan kaya!”
“tak imbang!”
Galan yang jauh-jauh datang dari Cirebon hanya
demi bertemu Tania terkadang merasa kalau kedatangannya itu sungguh sangat
tidak diharapkan, tapi dia tetap sabar menerima dan mendengar ocehan-ocehan
itu.
Dulu bisik-bisik itu membuat Tania dan Galan
frustasi. Sekarang pun masih, tapi Tania belajar bersikap cuek tidak peduli.
Toh Tania merasa hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke
hari.
Hubungan mereka sebentar lagi menginjak usia lima
bulan, selama kurun waktu itu, tak sekalipun Galan melukai hati Tania, atau
membuat Tania merasa menangis. Setiap mereka bertemu pasti menambah semangat
baru bagi Tania dan juga Galan tentunya.
***
Di usia hubungan mereka yang kelima bulan,
tiba-tiba Tania jatuh sakit.
Hal itu berawal ketika Tania hendak keluar dari
WC, tanpa sengaja kakinya terpleset dan akhirnya Tania jatuh, kepalanya
terbentur lantai toilet, kepalanya mengalami pendaharan, orang-orang yang
mengetahui saat Tania jatuh langsung menolong Tania, tidak sadarkan diri dan
langsung dibawa kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit Tania tidak kunjung
sadarkan diri.
Galan yang tahu tentang sakitnya Tania, dia
langsung berangkat ke Jakarta meninggalkan semua pekerjaannya.
Sesampainya di Rumah sakit tempat dimana Tania
dirawat, Galan melihat Mama Tania yang sedang menangis terisak. Papa Tania
Nampak tidak kuat melihat anak gadisnya yang cantik tergelatak lemah di kasur
rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri, teman-temannya sudah dari
kemarin malam duduk menunggu gadis cantik itu.
Galan seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di
pembuluh-pembuluh darahnya dan tidak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat
seperti kanker.
Setelah itu adalah saat-saat penuh do’a bagi
Tania.
***
Sudah tiga hari lebih Tania koma. Selama itu
Galan bolak-balik dari Musholla Rumah Sakit ke kamar dimana Tania dirawat.
Mama, papa, dan teman-teman Tania yang
lainnya ikut menunggui Tania di Rumah sakit, sesekali Kedua orang tua Tania
menitipkan Tania pada Galan karena mereka terkadang harus pulang kerumah.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Dia nyaris tidak
pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali
untuk membeli makanan atau membeli keperluan lainnya. Syukurnya pihak
perusahaan tempat Galan magang mengerti dan memberikan izin penuh. Toh,
dedikasi Galan erhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Galan menjaga Tania siang dan malam. Dibawanya
sebuah Qur’an kecil, dibacakannya dekat telinga Tania yang terbaring di ruang
ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak family
mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
bercanda mesra.
Galan percaya meskipun tidak mendengar, Tania
bisa merasakan kehadirannya.
“Tania, Bangun, cinta?” kata-kata itu dibisikanya
berulang-ulang.
Ketika lima hari berlalu, dan pihak keluarga
mulai pesimis dan berpikir untuk pasrah, Galan masih berjuang. Dia tidak pernah
pulang ke Cirebon, dia setia menunggu Tania di Rumah sakit, mengaji buat Tania.
Kadang-kadang dia membacakan cerita buat Tania walaupun dengan suara pelan.
Sambil tidak bosan-bosannya dia berbisik,
“Tania, Bangun, cinta?” malam-malam penantian
dilewatkan Galan dalam sujud dan permohonan. Asalkan Tania sadar, yang lain tak
jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya dimata kekasihnya, senyum di
bibir Tania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya,
bagi Galan.
Dia ingin melihat Tania lagi dan semua antusias
perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, seta gerakan-gerakan
kecil lain di wajahnya yang cantik. Galan merasa Tania sudah tidur terlalu
lama.
Pada hari ke tujuh do’a Galan terjawab. Tania
sadar dan wajah penat Galan adalah yang pertama di tangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Galan menangis,
mengucapkan syukur berulang-ulang dengan air mata yang meleleh.
“asalkan Tania sadar, semua tak penting lagi.”
Galan membuktikan kata-kata yang di ucapkannya
beratus kali dalam do’a, lelaki biasa itu tidak pernah lelah merawat Tania
selama Sembilan hari terakhir. Dia menyiapkan segala keperluan Tania, dia
selalu mengingatkan Tania untuk meminum obat. Dia tidak peduli kalau dia harus
menambah satu bulan masa magangnya itu. Yang penting sekarang adalah melihat
Tania untuk sembuh total seperti sedia kala.
Awalnya tentu Tania sempat merasa risih dengan
pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka menatapnya iba, lebih-lebih pada
Galan yang lusuh karena demi kesehatan Tania dia lupa untuk merawat diri. Tapi
Galan masih dengan senyum hangat merawat Tania.
Lalu berangsur Tania menyadari, mereka,
teman-teman Tania yang menjenguknya, dan merekapun tak puas bila hanya
memberikan pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua
berbisik-bisik.
“baik banget cowoknya! Lelaki lain mungkin sudah
ninggalin dia!”
Tania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang
menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak Cuma menerima apa adanya, tetapi
para sahabat Tania melihat bagaimana Kekasihnya itu memanadang penuh cinta.
Sedikitpun Galan tidak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari sahabatnya
yang dulu sempat berpikir kalau Galan itu adalah lelaki biasa yang gak pantes
buat Tania. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Tania makin
frustasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Tania menyadari itu
kemudian. Teman-temannya diluar memang tetap berbisik-bisik, barangkali
selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu berbeda
bunyi?
Ya, itulah ketika hubungan mereka menginjak usia
lima bulan, usia yang relatif muda bagi sepasang kekasih.
Kenangan ini kembali hadir pada malam ini, malam
dimana mereka tepat dalam usia satu tahun delapan bulan, kenangan yang membuat
Tania semakin bersyukur kepada Tuhan, dan malam ini Tania merasakan, bahwa
Tuhan sudah terlalu baik padanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar