Social Icons

Selasa, 27 Agustus 2013

Ketika Cinta Itu Ada : Part 5





29 Maret 2010
bukakanlah mataku untuk apa yang kau kehendaki agar aku ketahui… ”

1 Tahun 8 bulan bulan usia hubungan Galan dengan Tania sungguh masa yang
sulit bagi mereka, mereka semakin merasa kalau mereka sudah tidak ada lagi kecocokan, mereka sering bertengkar karena hal-hal yang kecil saja, Galan yang asalnya cuek kalau smsnya lama dibalas sekarang jadi sering marah, pernah Tania membeli hp dengan harga yang cukup mahal, dan Galan tiba-tiba marah karena Tania tidak memberi kabar sebelumnya kalau Tania akan memebli hp baru. Hari ini tepat hubungan mereka berumur Dua puluh bulan, mereka kembali bertengkar, dikarenakan Tania telat membalas sms Galan. Galan kesal dan tak mengucapkan selamat tanggal jadi kepada Tania, kata indah yang biasa Galan kirimkan kepada Tania, hari ini tidak dia lakukan. Malam sekitar pukul 7, Tania sudah tiga kali menghubungi Galan untuk segera pulang dan menelponnya, tentu saja permintaannya tidak Galan hiraukan. Jam menunjukan pukul 10 malam, Galan merapikan meja kerjanya di ruang Himpunan Jurusan Kuliahnya, dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam, tapi jalan ditengah kota Cirebon tidak seperti biasanya macet seperti malam ini, Galan benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan harus nelpon Tania, membuat Galan semakin kesal! Akhirnya Galan sampai juga dirumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan Galan tempuh pada malam itu, yang biasanya Galan hanya membutuhkan waktu satu jam saja untuk bisa sampai dirumah, hal itu di akibatkan karena adanya pohon tumbang karena hujan yang sangat deras dan rubuh ke tengah jalan, sehingga membuat jalanan menjadi macet.
Galan melihat banyak sms Tania di HP nya, tapi Galan tetap tidak menghiraukan itu sedikitpun. Sempat Galan berhenti dan melihat foto Tania, cukup lama Galan memandang wajah Tania dalam foto itu, “ia sungguh cantik” dalam Hati Galan bergumam, wanita yang sudah Setahun lebih menjalin hubungan dengannya, ya hamper dua tahun yang lalu yang di awali dari pertemuan di sebuah gedung megah di kota Jakarta, dan Galan masih merasa kalau Tania memang selalu Cantik dimatanya. Galan menghela Nafas dan meninggalkan foto Tania begitu saja. Galan kembali ingat kalau dia sedang kesal dengan kekasihnya itu. Galan langsung masuk ke kamar, sambil bermain laptop dia teringat tentang blognya Tania, akhirnya dengan ragu-ragu dia membuka blog itu, blog yang berlatarkan biru yang dimiliki oleh kekasihnya. Berbulan-bulan Tania menulis cerita hidupnya pada blog biru itu. Sejak sebelum jadian sama Galan, tak pernah Tania mengijinkan Galan untuk membuka bolgnya itu. Inilah saatnya! Gumam Galan dalam hati. Galan tidak mempedulikan Tania, diketiklah alamat blog Tania dan Galan buka halaman demi halaman secara acak.

- 25 Juni 2008.
”Terimakasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Galan, cowok yang ku kenal dua hari lalu dia meng-sms-ku dan membuatku bahagia.”
Galan tersenyum, dia berpikir kalau Tania yakin sekali bahwa dia yang akan menjadi pacar pertama bagi Tania. Dan memang pada saat itu Tania sama sekali belum pernah mempunyai pacar.

-27Juni 2008.
“Tak sengaja kudengar kalau Galan udah punya cewek. Tuhan, aku mohon agar Galan tetap memilihku dan tidak akan pernah berpaling ke lain hati.”
Jantung Galan serasa mau berhenti, ketika membaca tulisan Tania selanjutnya.

-28 Mei 2008.
“Ketika aku membuka facebooknya Galan, tanpa sengaja aku membaca wall nya Galan, disana aku membaca ada ucapan terimakasih untuk Galan, terimakasih atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Indah. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang kau kehendaki agar aku ketahui…”
Jantung Galan benar-benar mau berhenti. Indah, wanita yang dulu sempat menjadi pacarnya.
Galan sungguh tidak menduga, kalau saat itu Tania sudah tau soal acara makan malam itu, tapi hebatnya Tania tidak menunjukan sikap cemburu atau marah pada Galan, bahkan Galan mengira Tania tidak akan mengetahuinya.

-29 Juli 2008.
“Galan mengungkapkan perasaannya. Tuhan apa yang harus aku lakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang ku ambil.”
“hari yang luar biasa, aku telah menjadi pacarnya Galan, Terimakasih Tuhan.”
Sambil tersenyum Galan mengingat ketika dia mengungkapkan perasaannya sama Tania Sepuluh bulan yang lalu itu.

-21 Agustus 2008.
“Aku di SMS wanita bernama Indah, dia menghinaku dan berkata kalau Galan sudah menjadi Pacarnya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal dariMu.”
Galan berpikir, bagaimana mungkin Tania bisa sekuat itu, dia sama sekali tidak pernah mengatakan kepada Galan kalau dia sering di ancam Indah, karena Galan tahu Indah, Indah pasti telah membuat hati Tania sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafas Galan terasa sesak pada saat itu, dia mulai sadar kenapa dulu ketika awal-awal jadian Tania begitu manja sama Galan, Tania begitu takut kalau satu hari saja Galan tidak memberi kabar, karena Tania tahu kalau Galan masih sama Indah, dan Indah memang tahu soal hubungan Galan sama Tania. Tania begitu kuat menahan hinaan Indah, dan semua itu sama sekali tidak Tania adukan kepada Galan. Galan hanya berpikir kalau Tania baik-baik saja, Tania yang setiap tanggal jadian memberikan Galan hadiah ternyata mengahadapi masalah yang besar ketika awal-awal mereka jadian. Dan malam ini nafas Galan begitu sesak, dia tidak mampu membayangkan apa yang Tania rasakan pada saat awal-awal jadian mereka.

-18  Oktober 2008.
“pertengkaran pertama kami sebagai pacar. Galan marah padaku, walaupun dia tidak membentak tapi aku tahu kalau dia sedang marah padaku, aku tertidur pulas saat ia menelponku sehingga ia menelpon dan terus menunggu telponnya ku angkat. Padahal.
Seharian aku berada di Mall dengan Rahma untuk mencari iPod idaman Galan, aku ingin beli iPod itu karena bulan Agustus kemaren Galan Ulang Tahun.
Tuhan, Beri kedamaian di Hati Galan agar dia tidak marah lagi padaku, aku janji aku tidak akan tidur di sore hari lagi kalau Galan belum menelpon dan membalas sms-nya, walaupun aku lelah.”
Galan mulai menangis, dia berpikir kalau Tania mencoba membahagiakannya tetapi dia malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya, iPod yang Tania berikan pas kencan pertama mereka itu sudah menjadi barang kesayangan Galan yang sering Galan Pakai sampai detik ini, tanpa Galan sadari kalau Tania membelikannya dengan susah payah.

-27 Oktober 2008.
“ Galan butuh hp untuk mengecek e-mailnya kapanpun dan dimanapun, dia sangat sibuk dengan kuliah dan pekerjaann yang lainnya, yang mesti ngebuka e-mail secepatnya. Tuhan, bantu aku menabung agar akau dapat membelikan sebuah HP, hadiah buat tanggal jadian kita buat Galan.”
Galan tidak dapat lagi menahan tangisnya, Tania tidak pernah mengatakan hp itu adalah hadiah tanggal jadian mereka, yang dia ingat waktu itu dia hanya memberikan sebuah cincin yang harganya lebih murah dari hp itu, karena Galan tahu harga Hp itu memang mahal. Galan tidak menyangka kalau Tania bela-belain nabung buat membeli hp itu.
Galan sudah tidak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Galan semakin yakin kalau Tania sudah diberikan kekuatan dari Tuhan untuk mencintainya tanpa syarat. Galan berlari keluar kamar, dan segera mengambil hp nya yang kebetulan dia sengaja simpan di ruang tengah. Dia pencet no. hp Tania, Tania yang sudah tertidur lelap dengan malas membuka matanya, dan menangkat hp nya,…. Jauh di ujung suara sana Tania dengan jelas mendengar suara yang sudah sering dia dengar hamper dua tahun ini, suara yang dia nantikan dari tadi pagi, akhirnya menjelang jam tiga pagi dia dengar juga, walaupun telat Tania tetap bersyukur….
Dengan suara tercekat Galan sebisa mungkin memperjelas suaranya…
“maafkan aku Tania, Aku mencintaimu, selamat kita sudah 1 Tahun 8 bulan…”
***
Sementara Tania setelah menutup telpon dari Galan, dia mulai meneteskan air matanya, dia teringat ketika masa-masa hubungan mereka baru berjalan lima bulan lebih, dia mengingat ketika sebelum mereka sering ketemuan, ketika sesuatu itu sekarang menjadi sebuah keyakinan yang pasti bagi Tania, sebuah alasan kenapa Tania begitu sayang sama Galan, sebuah alasan yang begitu Tania banggakan dari seorang Galan, dia ikhlas apapun perlakuan Galan ke dia sekarang, karena bagaimanapun Galan, Tania akan tetap mempunyai perasaan yang sama, malam itu kembali semua terlintas dalam pikiran Tania.
Sebuah kejadian yang memang sampai saat ini sangat berarti buat Tania, sebuah kejadian yang memang menjadikan Tania pantas untuk terus mencintai Galan, bagaimanapun sikap Galan ke dia.
Beberapa hari sebelum mereka jadian, Tania masih saja sulit untuk mengungkapkan, alasan apa yang menjadi sebab dia siap menjadi kekasih Galan bila seandianya memang Galan menyatakan perasaannya pada Tania. Tania sudah sadar bahwa Galan menyukai dia dari pas mereka bertemu pertama kali di menara itu, dan tepat di tanggal 29 Juli 2008, Satu Tahun delapan bulan yang lalu, dan yang mereka akhirnya jadian.
Pada saat itu Tania masih sangat heran, kenapa dia mau menerima Galan, padahal dia tau kalau Galan pada saat itu sudah mempunyai cewek. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang di lalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; temannya di kampus, temannya di tempat les, temannya di organisasi. Mereka ternyata sama herannya.
“kenapa?” Tanya teman-teman Tania di hari dia telah jadian sama Galan.
Saat itu teman-teman baik Tania sedang duduk dikantin menikmati hari-hari bebas setelah UTS baru saja berlalu beberapa hari yang lalu. Suasana sore di kampus Tania sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Tania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barang kali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Tania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Tania hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tidak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa dia mau menerima jadi ceweknya Galan dan bahkan bersedia menjadi yang kedua. Tapi kejadian di kampus adalah kedua kalinya Tania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi ketika dua hari yang lalu saat Tania menyampaikan pada teman-teman baiknya itu bahwa dia menyukai Galan.
“kamu pasti bercanda!”
Tania kaget. Tapi melihat senyum yang tersinggung di wajah Rahma sahabat terbaik Tania, disusul teman-temannya membuat Tania menyimpulkan : mereka serius ketika mengira Tania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan teman-teman yang lain yang tidak ikut ngobrol sama merekapun ikut-ikutan melongo, mendengar kalau Tania sang bintang kampus menyukai seorang cowok udik yang bernama Galan.
“gw serius!” tegas Tania sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Galan kelak nyatain perasaannya ke dia, toh dia juga menyukai Galan.
“gak ada yang lucu”, suara temannya tegas, “gw cuman gak nyangka aja, kalau si Galan berani buat nyatain perasaannya sama lo!”
Tania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat temennya barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Tania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
“tapi lo gak serius suka sama si Galan, kan?” Rahma mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud gw, siapa aja boleh jadi cowok lo, tapi jawabannya tidak harus iya, kan?”
Tania  terekesima.
“kenapa?”
“coz, lo sahabat gw yang paling cantik”
“lo, sahabat gw yang paling hebat, prestasi lo paling keren di bandingin kita-kita, lo juga jago bela diri, bahasa inggris lo hebat, suaramu bagus!”
“masa depan lo sangat cerah. Bahkan sebentar lagi lo bakalan dilantik sebagi ketua senat yang baru, lo bisa dapetin cowok manapun yang lo mau, dan gak harus Galan kan, dia sedang apa sekarang juga lo gak tau kan, ditambah lagi dia udah punya cewek, emang sich Galan itu baik, soleh, tapi apa lo yakin bakalan nerima dia bila suatu saat dia nembak lo!” Rahma ngomong panjang lebar pada Tania pada saat itu, saat dimana hamper dua tahun yang lalu, saat sebelum Tania jadian sama Galan.
Pada waktu itu Tania memandangi satu-satu dari wajah temannya itu, Tania takjub dengan rentetan panjang uaraian mereka atau satu kata “kenapa” yang barusan Tania lontarkan.
“tapi, gw sayang sama Galan, dan gw bakalan nerima Galan apa adanya.”, sahut Tania pendek dengan air mata mengambang di kelopak.
Waktu itu Tania sadar, teman-temannya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Galan, karena mereka berpikir kalau Galan berengsek Karena udah punya cewek masih saja deketin cewek lain, terlebih lagi ceweknya itu adalah teman mereka sendiri. Ketidaksukaan mereka sudah mencapai stadium empat. Parah. Ya kecuali Rahma, yang memang dia sahabat Galan juga.
Tania berpikir…
“tapi kenapa?”
“sebab Galan Cuma cowok biasa, dari daerah, dengan pendidikan yang biasa karena kuliah di universitas yang tidak terkenal, dengan tampang biasa dan penampilan yang biasa juga, dan bahkan karena Galan udah punya cewek?”
Bergantian sahabat Tania mencoba membuka matanya.
“tak ada yang bisa diliat dari dia Tan!”
“cukup!”
Tania menajdi marah. Dia bepikir kalau tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Dimana iman, dimana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya pada hari ini?
Sayangnya Tania lag-lagi gagal membuka mulut dan membela Galan.
Barangkali karena Tania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tidak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Galan tampak “luar biasa”. Tania pada saat itu Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Tania menapaki hidup hingga sekarang ini. Dan nalurinya menerima Galan. Dia bahagia bila sedang mengobrol atau sekedar berbalas pesan di hp dengan Galan.
Mereka akhirnya jadian.
***
Satu bulan masa jadian…
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, maih sering berbisik-bisik di belakang Tania, apa sebenarnya yang Tania liht dari seorang Galan? Jeleknya, Tania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Galan agar tampak di mata mereka.
Tania hanya merasakan cinta begitu besar dari Galan, begitu besar hingga Tania bisa merasakannya walaupun jarak mereka dipisahkan hampir 150 Km.
“tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar Galan pada Tania.”
Nada suara Tania tegas, mantap
 “gak ada cowok yang bisa mencintai sebesar cinta Galan sama gw.”
Nada suara Tania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Temen-temennya hanya memandang lekat, mata merka terlihat tidak percaya.
“Tan, siapapun akan mudah mencintai gadis secantik lo! Lo temen kita yang gak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Lo temen kita yang cantik, pintar, dan hidup lo pasti cemerlang!”
Tania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Tania berpikir kalau mereka tidak boleh meremehkan Galan.
Beberapa lama empat sahabat itu beradu argument.
“tapi Galan juga gak jelek, kan!”
‘betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?”
“Galan juga pintar!”
“gak sepintar lo, Tania.”
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan teman-temannya, bahwa Tania beruntung mendapatkan kekasih seperti Galan. Lagi-lagi percuma.
“lihat hidupmu, Tania. Lalu lihat Galan! Lo cantik, kaya, bahkan kalau kasarnya lo gak perlu kerja, coz uang lo udah banyak,”
Teganya teman-teman Tania mengatakan itu semua. Padahal sahabatnya itu sudah jadian dan bahkan sebentar lagi akan genap satu bulan.
Ketika hubungan mereka mau menginjak ke umur tiga bulan, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Tania dan Galan sudah sering jalan sama mereka. Galan yang pada waktu itu masih magang di perusahaan bekerja semakin giat.
Tania semakin mencintai Galan, Galan semakin perhatian sama Tania, Galan selalu menjadi list pertama dalam daftar sms Tania.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa Tania memilih jadian dengan cowok yang kata orang-orang adalah cowok biasa, dari keluarga biasa, dari universitas yang biasa, berpenampilan biasa, tak lagi mengusik perasaan Tania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak usia hubungan yang ke empat bulan, Tania semakin menyayangi Galan, begitupun Galan yang selalu mendedikasikan waktunya buat kebahagiaan Tania.
Bisi-bisik masih terdengar, setiap Tania dan Galan ketemuan, bisik orang-orang di kampus Tania,
“sungguh beruntung cowoknya, ceweknya cantik.”
“cantik ya? Dan kaya!”
“tak imbang!”
Galan yang jauh-jauh datang dari Cirebon hanya demi bertemu Tania terkadang merasa kalau kedatangannya itu sungguh sangat tidak diharapkan, tapi dia tetap sabar menerima dan mendengar ocehan-ocehan itu.
Dulu bisik-bisik itu membuat Tania dan Galan frustasi. Sekarang pun masih, tapi Tania belajar bersikap cuek tidak peduli. Toh Tania merasa hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Hubungan mereka sebentar lagi menginjak usia lima bulan, selama kurun waktu itu, tak sekalipun Galan melukai hati Tania, atau membuat Tania merasa menangis. Setiap mereka bertemu pasti menambah semangat baru bagi Tania dan juga Galan tentunya.
***
Di usia hubungan mereka yang kelima bulan, tiba-tiba Tania jatuh sakit.
Hal itu berawal ketika Tania hendak keluar dari WC, tanpa sengaja kakinya terpleset dan akhirnya Tania jatuh, kepalanya terbentur lantai toilet, kepalanya mengalami pendaharan, orang-orang yang mengetahui saat Tania jatuh langsung menolong Tania, tidak sadarkan diri dan langsung dibawa kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit Tania tidak kunjung sadarkan diri.
Galan yang tahu tentang sakitnya Tania, dia langsung berangkat ke Jakarta meninggalkan semua pekerjaannya.
Sesampainya di Rumah sakit tempat dimana Tania dirawat, Galan melihat Mama Tania yang sedang menangis terisak. Papa Tania Nampak tidak kuat melihat anak gadisnya yang cantik tergelatak lemah di kasur rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri, teman-temannya sudah dari kemarin malam duduk menunggu gadis cantik itu.
Galan seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tidak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah saat-saat penuh do’a bagi Tania.
***
Sudah tiga hari lebih Tania koma. Selama itu Galan bolak-balik dari Musholla Rumah Sakit ke kamar dimana Tania dirawat. Mama, papa, dan teman-teman  Tania yang lainnya ikut menunggui Tania di Rumah sakit, sesekali Kedua orang tua Tania menitipkan Tania pada Galan karena mereka terkadang harus pulang kerumah.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Dia nyaris tidak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali  untuk membeli makanan atau membeli keperluan lainnya. Syukurnya pihak perusahaan tempat Galan magang mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Galan erhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Galan menjaga Tania siang dan malam. Dibawanya sebuah Qur’an kecil, dibacakannya dekat telinga Tania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak family mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.
Galan percaya meskipun tidak mendengar, Tania bisa merasakan kehadirannya.
“Tania, Bangun, cinta?” kata-kata itu dibisikanya berulang-ulang.
Ketika lima hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berpikir untuk pasrah, Galan masih berjuang. Dia tidak pernah pulang ke Cirebon, dia setia menunggu Tania di Rumah sakit, mengaji buat Tania. Kadang-kadang dia membacakan cerita buat Tania walaupun dengan suara pelan.
Sambil tidak bosan-bosannya dia berbisik,
“Tania, Bangun, cinta?” malam-malam penantian dilewatkan Galan dalam sujud dan permohonan. Asalkan Tania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya dimata kekasihnya, senyum di bibir Tania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Galan.
Dia ingin melihat Tania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, seta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Galan merasa Tania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ke tujuh do’a Galan terjawab. Tania sadar dan wajah penat Galan adalah yang pertama di tangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Galan menangis, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan air mata yang meleleh.
“asalkan Tania sadar, semua tak penting lagi.”
Galan membuktikan kata-kata yang di ucapkannya beratus kali dalam do’a, lelaki biasa itu tidak pernah lelah merawat Tania selama Sembilan hari terakhir. Dia menyiapkan segala keperluan Tania, dia selalu mengingatkan Tania untuk meminum obat. Dia tidak peduli kalau dia harus menambah satu bulan masa magangnya itu. Yang penting sekarang adalah melihat Tania untuk sembuh total seperti sedia kala.
Awalnya tentu Tania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka menatapnya iba, lebih-lebih pada Galan yang lusuh karena demi kesehatan Tania dia lupa untuk merawat diri. Tapi Galan masih dengan senyum hangat merawat Tania.
Lalu berangsur Tania menyadari, mereka, teman-teman Tania yang menjenguknya, dan merekapun tak puas bila hanya memberikan pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
“baik banget cowoknya! Lelaki lain mungkin sudah ninggalin dia!”
Tania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak Cuma menerima apa adanya, tetapi para sahabat Tania melihat bagaimana Kekasihnya itu memanadang penuh cinta. Sedikitpun Galan tidak pernah bermuka masam!
Bisik-bisik serupa juga lahir dari sahabatnya yang dulu sempat berpikir kalau Galan itu adalah lelaki biasa yang gak pantes buat Tania. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Tania makin frustasi, merasa tak berani, merasa?
Tapi dia salah. Sangat salah. Tania menyadari itu kemudian. Teman-temannya diluar memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu berbeda bunyi?
Ya, itulah ketika hubungan mereka menginjak usia lima bulan, usia yang relatif muda bagi sepasang kekasih.
Kenangan ini kembali hadir pada malam ini, malam dimana mereka tepat dalam usia satu tahun delapan bulan, kenangan yang membuat Tania semakin bersyukur kepada Tuhan, dan malam ini Tania merasakan, bahwa Tuhan sudah terlalu baik padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates