Sahabat adalah Setia
-ujian itu selalu
ada, apapun bentuknya-
Galan merasa pusing
dengan semua kegiatannya akhir-akhir ini, ditambah dengan tumpukan kerjaan yang
tiap hari makin numpuk aza, kerjaan yang mesti dikerjain dalam waktu tidak
banyak, karena waktu magang di perusahaan itu sebentar lagi akan berakhir,
selain itu tugas kuliah yang juga tidak sedikit, itu semua membuat Galan
seperti akan bermetamorfosis
menjadi sebuah mesin berkekuatan tinggi (ok, ini lebay!). Tapi tidak bisa di
pungkiri, kalau semua itu benar-benar akan menyita tenaga extra dan pemikiran
yang lebih, Galan si pemeran utama tidak akan mengenal nyerah, dia akan berani
dan siap menghadapinya, (ok, ini juga lebay!).
***
“Galan laporan waktu di
Jakarta ibu tunggu lima belas menit lagi di ruang kerja ibu,” kata Bu Yani,
selaku manager Galan di perusahan tempat Galan magang. Galan langsung mendongak
kaget, karena dia sadar kalau laporan yang harusnya dia kerjakan dua minggu
yang lalu sampai saat ini masih belum dia kerjakan sama sekali. Mata Galan
melirik lirih ke arah Rangga, dan Rangga hanya bisa mengangkat bahu, tanda dia
tidak bisa membantu.
“iya bu, Insyaalloh,
tapi bagaimana kalau pas pulang kerja aja bu, soalnya masih banyak revisian
yang belum di perbaiki.” Jawab Galan sambil meminta toleransi dari Bu Yani.
“oh, begitu ya, ya
sudah, tapi benar ya, pas pulang kerja semuanya harus sudah beres, karena itu
akan menjadi bahan rapat kita minggu depan, dan ibu ingin mempelajarinya dulu.”
Dengan penuh pengertian Bu Yani mengizinkan Galan.
Selain dikenal dengan
orang yang tegas dan cerdas, Bu Yani juga di pandang sebagai manager yang penuh
dengan ketelitian dan toleransi yang baik, dan tentunya di sesuaikan dengan
dedikasi terbaik dari setiap bawahannya, karena semua itu akan berdampak pada
kemajuan perusahaan sendiri.
“siap bu, saya
laksanakan, hehehehe” semangat Galan kembali muncul.
“kamu, kayak prajurit
perang saja, ya sudah sana kerja lagi” riang Bu Yani, yang memang kagum pada
mahasiswa magangnya itu.
Jari Galan kembali
menari indah di keyboard laptop kesayangan itu, laporan yang dia janjikan
selesai di akhir jam kerja pada hari itu juga dia kerjakan dengan penuh
tanggung jawab, karena memang sudah cita-citanya untuk mengabdi sebaik mungkin
kepada perusahaan yang telah menerimanya magang, sikap Reyhan dan Rangga juga
tidak kalah seperti Galan, mereka bertiga dengan penuh dedikasi tinggi
mempersembahkan yang terbaik buat perusahaan itu, mereka sadar bahwa mereka
bekerja disana hanyalah sementara waktu, dan itu hanyalah beberapa bulan saja,
maka dari itu mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sedikit itu hanya
dengan predikat nilai kuantitas saja, tapi mereka ingin nilai yang diberikan
kepada mereka juga mempunyai kualitas yang tinggi juga, mereka ingin
meninggalkan sesuatu yang baik bagi perusahaan itu. Setiap pekerjaan mereka
jalani dengan penuh keikhlasan, tanpa memikirkan upah atau pujian bahkan nilai
A, tapi hanyalah pengabdian yang luar biasa, pengabdian yang mereka sadari akan
berbuah manis, mungkin mereka tidak mendapatkan upah yang tinggi dari magang
mereka di perusahaan itu, karena mereka sadar upah yang lebih tinggi akan mereka
dapatkan jauh di luar sana, pengabdian yang mereka lakukan bukan hanya semata
pengabdian kepada sosok manusia seperti Bu Yani, tapi pengabdian yang tinggi
pada sang Pencipta, mereka sadar setiap apa yang mereka kerjakan akan selalu
dinilai oleh sang Pencipta, dan mereka dedikasikan semua pekerjaan mereka hanya
untuk Alloh, perusahaan itu hanyalah sebagai wadah untuk mengabdikan hidup
mereka, mereka sadar walaupun mereka disana hanyalah sebagai karyawan
sementara, tapi pengabdian yang mereka berikan bukan hanya sebatas pengabdian
sementara, tetapi pengabdian yang akan menjadi dampak besar terhadap perusahaan
itu, pengabdian yang akan menjadi tolak ukur, apakah mereka orang baik atau
orang kurang baik. Dan hal ini pulalah yang membuat mereka di percaya pihak
perusahaan untuk mendapatkan tugas pergi ke kantor pusat di Jakarta, walaupun
notabene status mereka hanyalah karyawan sementara yang lebih tepatnya
mahasiswa magang.
Pengabdian itu juga
yang menjadi alasan bagi mereka untuk tetap semangat menjalani hari-hari yang
berat di perusahaan itu, hari-hari dimana juga mereka harus kuliah ketika
pulang magang, disaat mereka mendapat sindiran yang tidak terlalu enak untuk di
dengar, sindirian yang datang dari karyawan tetap di perusahaan itu, mereka
menerimanya dengan lapang dada. Bahkan itu semua menjadi peluru semangat untuk
mereka berdedikasi semakin baik di perusahaan itu.
Itulah semangat hidup
mereka, selalu setia dengan apa yang
dijalani, selalu cerdas dengan apa yang dipikirkan, tidak langsung marah
ketika ada orang yang menghina mereka, tidak langsung membenci ketika ada orang
yang berbuat tidak menyenangkan kepada mereka, mereka selalu berpikir lebih
baik, kenapa mereka mendapatkan perlakuan yang kurang baik itu, karena pada
akhirnya mereka sadar, mungkin semua itu terjadi karena sikap mereka sendiri.
Itulah mereka,yang tidak pernah berpikir lebih dalam untuk sebuah kebaikan,
mereka akan dengan segera tanpa berpikir panjang, seperti memberi pada pengemis
bagaimanapun keadaannya, karena mereka berpikir mereka meminta karena butuh,
mereka tidak peduli dengan cibiran orang yang berkata “jangan dikasih, nanti
hanya akan membuat mereka malas” atau “mereka kan masih kuat bekerja, kenapa
mereka tidak bekerja saja, bukan hanya mengemis seperti itu” tapi semua itu
tidak membuat Galan, Reyhan, dam Rangga menyerah, mereka hanya ingin selalu
berbuat baik, terserah apa kata orang, mereka hanya yakin kalau semua perbuatan
mereka akan selalu di lihat oleh Alloh dan Alloh akan selalu memberikan reward
yang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh hambanya.
Memang harus seperti
itu, kesadaran mereka dalam pengabdian kepada perusahaan itu bukan hanya
semata-mata mereka ingin di puji oleh rekan satu ruangan atau manager mereka,
bukan, bukan karena itu. Tapi karena mereka sadar akan keterbatasan waktu yang
mereka punya. Waktu yang singkat dengan dedikasi yang baik. Itulah landasan
hidup yang sesungguhnya, mereka sadar kalau hidup di dunia hanyalah sementara,
jadi mereka ingin memberikan yang terbaik kepada siapapun di dunia ini, tanpa
membedakan siapa itu yang harus diperlakukan baik, mereka hanya yakin setiap
apa yang mereka perbuat akan selalu berbalik kepada mereka. Mereka ingin hidup
laksana Bunga Sakura di Jepang sana, yang mekar satu tahun sekali dan mekar
hanya selama satu minggu, itulah yang di inginkan mereka, mereka sadar kalau
hidup di dunia hanyalah satu kali dan itu sangatlah singkat, mereka ingin
seperti bunga sakura yang selalu gugur dalam keindahannya, dalam artian bahwa
mereka ingin disaat mereka meninggal nanti mereka meninggal dalam keadaan
terhormat keadaan dimana mereka telah membuat hal yang baik dalam waktu yang
singkat. Maka dari itu mereka dengan ikhlas mengabdikan segala apa yang mereka
kerjakan hanya kepada Alloh, dan biarlah Alloh yang membalas semua apa yang
mereka berikan kepadaNya.
***
Setelah selesai, Galan
pun langsung menyambar tas nya karena akan langsung pulang, dan janjian sama Reyhan
dan Rangga di tempat parkiran, hasil laporan itu langsung dia bawa ke ruang
kerja Bu Yani, dan ternyata Bu Yani memang sudah menunggu dari tadi.
“ibu yakin, kamu akan
datang sesuai dengan apa yang kamu janjikan, dan ibu harap kamu tidak
mengecewakan ibu..” Bu Yani dengan tiba-tiba bicara seperti itu tanpa
membiarkan Galan untuk memulai bicara, walaupun sebuah kata permisi.
“akh ibu, bisa aja,
terimakasih bu atas kepercayaan ibu, dan semoga laporan ini bisa ibu terima
dengan baik,” jawab Galan dengan penuh semangat.
“iya, ibu yakin laporan
ini baik, dan kalaupun ada kesalahan nanti akan kita bicarakan dalam rapat
nanti, ya sudah saya mau langsung pulang, terimakasih buat laporannya.” Jawab
Bu Yani sambil merapikan tas nya.
“saya juga mau pamit
pulang bu, selamat sore.”
***
Di tempat parkir Galan
masih menunggu Reyhan dan Rangga, karena mereka memang belum datang dan masih
diruang kerja, tempat parkir yang mulai sepi karena sebagian karyawan memang
sudah pulang pada saat itu. Hanya ada seorang cewek yang tampak sedang
mencari-cari sesuatu di tanah.
“hei, cari apa?’ Tanya
Galan mengahampiri cewek itu.
Cewek itu terkesiap.” Ga-Galan!”
Sekarang giliran Galan
yang kaget. “hah? Kok tahu namaku?” tanyanya heran. “ kita saling kenal?”
“kita sama-sama lagi
magang disini, Cuma beda divisi” jawab cewek itu kikuk “Aku Isma.”
“oooo…” Galan
manggut-manggut walaupun sebenarnya masih bingung, karena divisi dia sama
divisi cewek itu jarak ruangannya lumayan jauh dan dia gak kenal sama cewek
ini.
“kamu lagi cari apa?”
“kunci motorku hilang.”
Jawab Isma panik. “ Aku udah nyari dari tadi, tapi…”.
“belum ketemu?”
Isma Mengangguk.
Galan mengangkat bahu.
“ Gantungan kuncinya bentuknya gimana?”
Isma menatap cowok di
depannya tak percaya.
“hei, gantungan
kuncinya bentuknya gimana?”
“el-elmo! Bentuknya
boneka Elmo” jawabnya. “ Ma-makasi ya Galan.”
Isma tersenyum. “ Galan
memang kayak yang dibilang teman-teman.”
Galan menoleh, “
emangnya, apa yang di bilang teman-temanmu tentang aku?”
“pokoknya sesuatu yang
baik,” jawab Isma sambil tersenyum.
Galan tidak bertanya
lebih lanjut. Tahu bahwa dia dibicarakan atas sesuatu hal yang baik itu sudah
cukup baginya, karena dia berpikir kalau sesuatu yang baik di ungkap terus
menerus maka akan menjadi sesuatu yang kurang baik.
Sekitar lima menit
kemudian, kunci motor Isma ditemukan
tergelatak di dekat tempat sampah, sepertinya terjatuh ketika cewek itu hendak
membuang sesuatu. Isma berulang-ulang mengucapkan terimakasih hingga Galan
merasa agak risi.
“ kamu orang pertama
yang nawarin bantuan setelah hampi satu jam aku nyari-nyari disini,” jelas Isma
sebelum menyalakan motornya dan melaju meninggalkan Galan.
***
Reyhan dan Rangga pun
datang lima menit dari kejadian tadi. Karena memang mereka sudah tidak ada lagi
kegiatan di kantor mereka itu, mereka langsung pulang kerumah Galan, soalnya
selama mereka magang mereka sepakat untuk tinggal satu atap (ok, ini kembali
lebay),karena mereka berpikir kalau satu rumah akan lebih gampang kordinasinya,
dalam hal ini mereka memilih rumah Galan, karena Reyhan dan Rangga memang anak
kos di samping itu hanya Galan-lah yang mempunyai Mobil, jadi menurut Reyhan
dan Rangga bisa menghemat biaya transportasi.
***
Hubungan Galan dengan
Indah (read: pacar Galan di Cirebon yang tidak di restui oleh orang tua Indah)
semakin kacau, dan itu menambah kepusingan Galan, hunbungan yang dulunya
berjalan dengan baik, tetapi entah kenapa beberapa bulan setelah hubungan itu
terjalin, orang tua Indah tiba-tiba menentang hubungan mereka, ibunya Indah
dengan tegas kalau anaknya tudak boleh berhubungan dengan Galan, itu terjadi
karena ibunya Indah berpikir kalau Galan memang tidak pantas buat Indah, ibunya
berpikir kalau Indah tidak boleh pacaran dulu, ibunya takut kuliah Indah akan
kacau kalau dijalani dengan pacaran, padahal awal-awalnya tidak seperti itu.
Disamping ibunya tidak
setuju dengan hubungan mereka, Indah juga kayaknya mulai mengekang Galan, dan
itulah yang membuat Galan berani mengambil tindakan untuk jadian lagi dengan
Tania, Galan sadar kalau tindakan itu salah, tapi Galan juga tidak bisa
membohongi perasaannya kalau dia memang sayang sama Tania, kasih sayang yang
Galan dulu berikan kepada Indah memudar dengan sendirinya karena sikap orang
tua Indah dan sikap Indah sendiri, karena Galan akui kalau Galan juga merasakan
Indah tidak pernah serius dalam hubungannya dengan Galan. Galan sadar kalau
Galan hanya dijadikan pelampiasan oleh Indah, dan itu Galan tau dari teman
Indah sendiri. Tapi Galan tidak mengambil pusing masalah ini, yang Galan tau
hanyalah dia sekarang mempunyai dua cewek yang memang dia cintai, walaupun
perasaan pada Tania lebih besar daripada perasaan dia terhadap Indah.
Galan hanya menyerahkan
segalanya kepada waktu, karena saat ini dia belum tau bagaimana cara dia
memutuskan hubungan dengan Indah dan hidup bahagia dengan Tania, dari sekian
banyak masalah yang Galan hadapi, mungkin inilah yang lebih banyak menguras
pikiran Galan, karena Galan tidak mau menyakiti hati siapapun, termasuk Tania
dan Indah, Galan sadar walaupun Tania
menerima status Galan, tapi dia tau kalau Tania merasa sakit dengan perasaannya
itu, Galan mengerti perasaan Tania, tapi Galan juga tidak mau menyakiti hati
Indah, walaupun Galan akan dengan mudah memberi alasan kepada Indah kalau dia
ingin putus dengan Indah, tapi Galan merasa itu cara yang salah, dengan
menjadikan alasan kalau ketidak sukaannya orang tua Indah terhadap hubungan
meraka. Galan tidak mau memanfaatkan alasan itu.
***
Reyhan merasakan
kebingungan yang di hadapi oleh Galan akhir-akhir ini, dia mencari cara
bagaimana membantu sahabatnya itu, Rangga pun mempunyai perasaan yang sama
dengan Reyhan, mereka berdua sepakat untuk menanyakan perihal masalah Galan
saat ini, namun mereka bingung harus dimulai darimana untuk menanyakan semua
ini?
Galan yang luar biasa
di mata kedua temannya itu ternyata memang selalu rapuh dengan kondisinya,
Galan yang selalu Nampak gagah dan berani di pikiran mereka ternyata memang
selalu takut, rapuh apabila harus melihat wanita nangis di hadapannya dan takut
apabila harus menyakiti perasaan hati seorang wanita, dan Galan memang tidak
punya keberanian untuk itu semua.
Reyhan dan Rangga
semakin tidak tega melihat keadaan sahabatnya itu, sahabat yang selalu
memberikan pinjaman uang ketika kiriman uang saku mereka telat mereka dapatkan,
sahabat yang tidak pernah lupa dengan tanggal ulang tahun mereka, sahabat yang
tidak pernah mengeluh dimata mereka, dan sahabat yang selalu menjadi pemimpin
bagi mereka. Dan sekarang sahabat yang mereka sayangi itu sedang ada dalam
keadaan psikis yang kurang baik, mungkin ini sepele bagi yang lain, tapi bagi
Galan ini adalah sesuatu hal yang serius, dan mereka sadar kalau Galan sama
sekali tidak akan pernah bercerita tentang semua kondisi buruknya itu kepada
mereka, karena bukanlah tipe Galan untuk menyusahkan kedua sahabatnya itu
walaupun masalah itu hanyalah sebuah cerita cinta seorang mahasiswa, yang
mungkin konyol tapi memang berat keadaannya.
Dengan tanpa pikir
panjang lagi, akhirnya Reyhan yang mengambil keputusan,.
“ngga, kayaknya kita
harus mencoba bicara sama Galan, karena bagaimanapun juga, dia pasti ingin
membicarakan hal ini, kita tau sikap dia, dan kita harus memulai ini ngga,
bagaimana menurutmu?
“ya, kalau gw sich,
okay-okay aza, tapi apa lo yakin, si Galan mau cerita sama kita, “ jawab Rangga
kurang yakin.
“ ya, kita coba aza,
ntar pas kita dirumahnya kita coba Tanya ke dia,”
“ ya, lo atur aza dech
ya, gw ngikut lo aza…”
***
RUMAH GALAN – TEPATNYA
KAMAR GALAN – LEBIH TEPAT LAGI KASURNYA GALAN
Reyhan ngebuka obrolan
:
“Lan, gw,ya tepatnya gw
sama Rangga pengen banget ngobrol sama lo”
Galan masih dengan muka
polos tapi tetap dengan senyum yang menampakan kalau dia memang berwibawa.
Reyhan lagi :
“lo, kenapa sich Lan,
akhir-akhir ini lo kok kayak ngehindar gitu dari gw sama Rangga? Lo ada masalah
ya Lan, cerita lah sama kita! “
Galan masih tersenyum
dan pastinya masih bingung dengan obrolan teman sekasurnya ini (tepatnya teman
yang ada satu kasur pada saat ini).
Reyhan lagi :
“Lan, kok malah nyengir sich, kenapa lo?”
Galan siap-siap ngebuka
obrolan.
“ emang gw kenapa?
Perasaan gw baik-baik aza tuh, ada yang salah dari gw! Apaan?”
Rangga mengambil
ancang-ancang untuk masuk arena ( dibaca: nimbrung dalam pembicaraan)
“ya, gw kenal sama lo
bukan sehari, atau sebulan ini aja Lan, gw ma Reyhan udah lama kenal sama lo,
dan gw yakin saat ini lo sedang dalam kondisi yang menurut gw sich bukan lo
yang setiap hari gw kenal, gw sich gak mau ikut campur dalam urusan lo, tapi gw
harus ngomong ini sama lo, sebagai teman gw ngerasa kalau gw tuh wajib ngomong
gini sama lo, sekarang terserah lo mau nyerita atau enggak soal masalah lo ke
gw ataupun Reyhan, se enggaknya lo mungkin bisa lebih lega, atau bahkan gw sama
Reyhan bisa ngasih saran, gimana Lan?”
Tanpa sadar, Galan
mulai tersentuh hatinya, dia gak nyangka kalau kedua sahabatnya itu bisa
memperhatikan dia melebihi apa yang dia pikirkan,
“pertama, gw makasih
banget sama lo bedua yang udah perhatian sama gw, tapi apa gak malu kalo gw
nyeritain ini semua sama lo bedua?” jawab Galan dengan nada kurang yakin.
“kenapa mesti malu, gak
ada sejarahnya seorang Galan tau kata malu?” Reyhan menimpali
“sialan lo Han, gw juga
masih lah punya rasa malu, gw kan masih hidup, orang hidup pasti punyalah rasa
malu” Galan dengan sigap mengelak.
“ya gw juga becanda
kali Lan,” Reyhan menjelaskan.
“ya udah, emang lo
kenapa Lan, gw sama Reyhan siap jadi pendengar yang baik buat lo” Rangga
mengembalikan mereka ke jalan yang benar.(jelasnya ke arah pembicaraan awal,
yaitu soal masalah Galan.)
“menurut kalian, salah
gak sich gw dengan Tania, lo bedua kan tau gw masih sama Indah, tapi gw jadian
juga sama Tania, ya walaupun Tania nganggap ini bukan maslah buat dia tapi gw
tetep ngerasa gak enak sama dia, tapi gw juga gak bisa terus sama Indah, karena
seperti lo tau kalau Indah emang gak serius sama gw ditambah lagi ibunya Indah
gak pernah setuju sama hubungan gw dengan Indah, ya walaupun pada awalnya
ibunya biasa-biasa aja sama hubungan kita tapi makin kesini makin keliatan
kalau ibunya emang gak setuju sama hubungan kita, menurut lo bedua gw mesti
gimana? Apa gw ngomong langsung sama Indah kalau gw udah punya cewek baru yaitu
Tania, apa gw simpen dulu aza?” Galan dengan panjang lebar nyeritain semuanya
pada kedua temannya itu.
“kalau menurut gw sich,
lo jangan dulu ngomong sama Indah, soalnya akan menjadi boomerang yang kurang
baik buat lo bedua, lo diem aza dulu.” Saran Reyhan.
“iya Lan, lo jangan
buru-buru ngomong ini sama Indah, bahkan sampai kapanpun Lo jangan nyerita ini
sama Indah, gw yakin semua orang yang nantinya tau tentang hubungan lo sama
Tania akan membela lo bila suatu saat Indah tau soal hubungan lo sama Tania,
karena hampir sebagian besar orang yang tau hubungan lo sama Indah ya memang
tidak di restui sama ibunya Indah, dan gw yakin, lo bakalan lebih ngerti maksud
gw.” Rangga memberi banyak saran sama temannya itu.
“lo sudah dewasa Lan!” Reyhan
meyakinkan Galan.
“belum” Galan
menggeleng. “ Gw belum dewasa, masih banyak yang enggak gw tau dan gak gw
mengerti.”
Reyhan tersenyum. “
itulah yang dinamakan dewasa Lan.”
“bener Lan, itulah
dewasa, disaat lo sadar kalau di dunia ini memang masih banyak hal yang belum
kita mengerti dan kita pahami, itulah saat kita dewasa, bukan hanya membedakan
mana yang baik atau buruk, kalau taraf dewasa hanya terlingkup dari itu anak
kecil juga bisa, dan hal dewasa yang lo miliki sekarang jauh dari hanya sekedar
membedakan mana yang baik dan yang kurang baik, lo mungkin berpikir kalau diri lo
piln-plan karena lo gak bisa memutuskan sesuatu yang menurut orang lain sepele,
tapi lo berpikir jauh ke depan, kalau lo hanya berpikir tentang perasaan lo
aza, lo pasti sudah dari dulu ninggalin Indah dan ngelanjutin hubungan lo sama
Tania, tapi lo masih berpikir kalau itu salah, lo ingin masalah lo sama Indah
beres dan lo tidak ada beban buat ke depannya, itulah dewasa Lan, lo sebaik
mungkin menjaga perasaan Indah, dan kalau gw di pihak lo, gw belum tentu akan
bertindak seperti ini, terus soal lo sama Tania, itu gw gak bisa nyalahin lo,
dan gw yakin lo sayang sama Tania, pokoknya saran gw, ya lo tetep aza lanjutin
hubungan lo sama Tania juga sma Indah, toh kalian juga belum tentu berjodoh
kan, sekarang gini dech, apa lo yakin dengan mutusin Indah lo bakalan berjodoh
dengan Tania, kalau menurut gw sich itu masih jadi rahasia Alloh, dan gw yakin
lo gak bakalan berani mendahuli kehendak Alloh kan,biarlah Alloh yang
memutuskannya, “ Rangga memperjelas statement Reyhan.
“bener apa kata lo Ngga,
gw gak selayaknya ngambil keputusan sendiri, gw yakin pasti ada hikmah dari ini
semua, gw mau istikhoroh buat ini” jawab Galan mantap.
“inget Lan, lo gak
harus merasa salah dengan hubungan lo sama Tania dan juga lo gak harus mutusin
Indah, kalaupun ini salah Alloh akan menjawabnya lewat Istikhoroh yang lo
lakuin, dan Alloh pasti ngasih jawaban buat maslah lo ini. Inget Lan, lo udah
dewasa,..” Reyhan kembali ngomong.
“Lan, pantes lo bisa
disukai banyak orang, karena lo emang terlalu baik Lan,” tegas Rangga.
“hah..” Galan bingung.
“ lo gak tau ya…”
“enggak pernah ada yang
bilang suka sama gw tuh…” jawab Galan.
Rangga memutar bola
matanya, “ya iyalah, tentu aja mereka malu”
“ tapi, gw kan, gak
cakep, nggak pinter, nggak keren, di kampus juga gw biasa aja kan, di tempat
magang apalagi,” ujar Galan masih gak percaya dan sedikit minder. “Apa yang
bisa disukai?”
“ karena lo gak sadar
kalo lo tuh keren jadi karena itulah kamu jadi sangat keren,” jawab Reyhan. “
orang yang menyukai dirinya sendiri apa adanya dan gak pernah berusaha jadi
orang lain adalah orang yang sangat keren,” jelas Reyhan panjang lebar. “ sama
kayak orang yang gak malu ngaku bahwa dia suka music India dan Film India
walaupun dia tahu beberapa orang akan ngejek dia,” tambahnya.
“iya Lan, lo memang
seperti itu kok, lo memang baik Lan, sampai-sampai gw malu sendiri sama lo..” Rangga
ngebuka omongan lagi.
“lho, malu kenapa lo
Ngga…?” Galan bingung.
“pokoknya, lo memang
baik kok”, “aku lihat waktu kamu sama Isma”
Galan mengangkat alis,
“Isma”
“cewek yang lo bantuin
nyari konci motornya itu Lan,” jelas Rangga.
“oh itu, lho kamu
lihat.” Galan mulai kembali ingatannya (inget pada kejadian itu)
“he-eh, gw liat pas gw
mau jalan ke tempat parkir..” jawab Rangga.
“gw heran,” kata Galan.
“dia bilang, dia udah hampir satu jam nyari kuncinya disitu, tapi kenapa nggak
ada yang nolongin, sih? Bukannya banyak yang lewat situ.”
“itulah kenapa gw malu
sama lo, sebenarnya sebelum lo bantuin tuh si Isma, gw juga sempat Liat si Isma
myari kunci motor itu, tapi gw gak kayak lo yang langsung nanya dan nyoba
bantuin dia, gw mikir hal itu kurang berarti bagi gw, ya karena gw memang belum
bisa kaya lo” sesal Rangga.
“akh, itu kan emang pas
gw lagi santai aja, lagian gw juga udah lupa kok,hehehe” tegas Galan, yang
memang tidak pernah mengingat hal baik yang dia lakukan, walaupun menurut dia
kecil tapi hal kecil itu selalu berdampak besar bagi setiap orang yang di
tolongnya.
“kalian bedua lagi
ngomongin si Isma yang lagi sama-sama magang di perusahaan itu ya” Tanya Reyhan.
“iya bener Han” jawab Rangga.
“wakh lo emang terlalu
baik Lan, kalau gw yang liat mungkin gw juga gak bakalan langsung ngambil sikap
kayak lo Lan, gw salut dech sama lo.” Reyhan makin kagum sama temennya itu.
“gw yakin, kalau lo tau
dia lagi kesusahan lo juga pasti bantuin dia Han,” jawab Galan.
“ pernah denger kisah
tentang ulat dan kupu-kupu?” Tanya Reyhan,
Galan menggeleng.
“kalau ada kupu-kupu
yang terperangkap di sarang laba-laba, orang cenderung akan menolong kupu-kupu
itu walaupun mungkin si laba-laba belum makan selama berhari-hari,” jelas Reyhan.
“Tapi bagaimana kalau yang terperangkap itu adalah ulat yang belum menjadi
kupu-kupu? Orang-orang tetap nolong nggak? Padahal, keduanya sama. Di dunia
ini, memang harus cantik supaya ditolong.”
“jadi maksudmu, nggak
ada yang nolongin Isma gara-gara dia gak cantik?”
“kasar, tapi memang
begitulah kenyataannya, coba aja lo Tanya Rangga, kenapa dia lebih milih
pura-pura gak liat dibanding nolongin Isma?” ujar Reyhan.
“bener Ngga, lo kayak
gitu” Tanya Galan.
“karena itu gw malu
sama Lo Lan, gw yang bukan siapa-siapa dan bahkan gak lebih baik dari lo malah
ngebiarin kesempatan baik itu pergi. Lo emang keren Lan. Gw bangga punya
sahabat kayak lo.” Jelas Rangga.
“suatu saat Alloh akan
mengganti kesempatan yang lebih baik buat lo Ngga, dan gw harap lo gak
nyia-nyiain lagi, mungkin karena dosa gw lebih banyak dari lo hingga akhirnya
Alloh gerakin hati gw buat nolongin Isma.” Kembali Galan Merendah.
“pokoknya gw bangga
bisa kenal sama lo, dan gw bersyukur bisa kenal sama lo Lan, sahabat yang gak
pernah berpikir nanti untuk sebuah kebaikan.” Kagum Reyhan.
“tapi emang bener ya,
kenapa harus kayak gitu? Kenapa harus cantik biar ditolong? Nggak masuk akal?
Dangkal banget!” gerutu Galan.
Reyhan tersenyum, “itu
yang gw maksud Lan.”
“hah”
“itu yang bikin
orang-orang suka sama lo, yang ngebuat cewek-cewek kagum sama lo, yang ngebuat
sahabat-sahabat lo makin sayang sama lo,” lanjut Reyhan.
“ kamu gak pernah milih
antara ulat dan kupu-kupu”
Mereka bertiga terdiam
sesaat, obrolan yang tadinya ngebahas antara Tania dan Indah jadi melebar
kemana-mana, tetapi sesaat kemudian Rangga kembali membuat mereka tersadar ke
jalur yang benar.
“pokoknya, soal masalah
lo sama Indah, gw yakin lo bisa menjalani dengan mudah, karena lo yang lebih
dewasa di bandingin gw sama Reyhan,” tegas Rangga.
“bener Ngga, sekarang
gw mulai sadar, semua ini adalah cara Alloh buat gw bisa jadi lebih dewasa,
makasih buat kalian,” jawab Galan.
Pembicaraan itu pun
berakhir, Rangga dan Reyhan mulai beranjak dari kasur Galan, mereka hendak
pergi ke kamar mereka, yang memang bertepatan disamping kamar Galan.
Sebelum Galan sempat
menutup pintu kamarnya, tiba-tiba Reyhan kembali dan dengan singkat dia ngomong
sama Galan,
“inget Lan, ujian itu
selalu ada apapun bentuknya!”
“makasih ya Han,” Galan
semakin bersyukur dengan adanya kedua sahabatnya itu.
***
Sementara jauh di
Jakarta sana Tania mulai takut kalau Galan kembali pada Indah, walaupun ikhlas
dia tetep ngerasa sakit, karena dia sadar betul kalau rasa sayang dia ke Galan
sudah sangat besar, dia jelas tidak ingin kehilangan Galan. Baginya sekarang
hanyalah kebahagiaan untuk kehidupan Galan, apapun itu.
Tania
memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Oktober 2008, tepat tiga bulan hari jadian
mereka. Dan untuk ketiga kalinya pula Galan lupa untuk memberikan ucapan
selamat tanggal jadi. Bulan pertama Galan lupa karena harus pergi ke luar kota
karena ada acara dari kampusnya. Sebagai ketua Jurusan Galan memang
berkewajiban untuk ikut dalam acara bakti social tersebut. Dan Tania memang
memakluminya
Bulan
kedua, Galan harus dikejar deadline untuk presentasi di perusahaan tempat Galan
magang dan kesibukannya itu membuat Galan lupa. Dan setelah minta maaf, waktu Tania
kekesalannya pada Galan via telpon, dengan kalem Galan menyahut,” beb, toh aku
sudah membuktikan cintaku sepanjang dua bulan ini. Hari ini tidak dirayakan kan
tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang,
pagi-pagi sekali Tania sudah sangat galau, karena Galan tak kunjung memberi
kabar ke Tania, sedangkan Galan ia sudah pergi ke kantor karena harus
menyiapkan beberapa dokumen rapat. Galan tidak sempat meng-sms atau menelpon
Tania sebelum dia berangkat ke kantor. Tania memang sengaja tidak
mengingatkannya tentang tanggal jadian
mereka itu. Tania ingin mengujinya, apakah Galan ingat atau tidak kali ini.
Nyatanya? Tania hanya bisa menarik napas panjang.
Tania
merasa Heran, dia berkata dalam hati “apa sih susahnya mengingat tanggal jadian
mereka sendiri?” Tania mendengus kesal. Galan memang berbeda dengan Tania. Galan
kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada
momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda
seperti yang sering Tania bayangkan saat sebelum mereka jadian.
Sedangkan
Tania, ekspresif dan romantis. Tania selalu memberinya hadiah dengan kata-kata
manis setiap ada hari penting seperti hari ulang tahunnya Galan atau tanggal
jadian mereka. Tania juga tidak pernah lupa mengucapkan berpuluh kali kata I
love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar
kota. Pokoknya, bagi Tania cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena
kejelasan juga bagian dari cinta. Itulah menurut Tania
Tania
tahu, kalau Tania mencintai Galan, dia harus menerima Galan apa adanya. Tetapi,
Tania berpikir “masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku
sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik.”
Dan semua itu telah berubah menjadi
sesuatu yang tidak menyenangkan bagi Tania. Tania semakin uring-uringan. Galan menjadi
benar-benar menyebalkan di mata Tania. Tania mulai menghitung-hitung waktu dan
perhatian yang diberikan Galan kepadanya dalam tiga bulan masa jadian mereka.
Tidak ada akhir minggu yang meneyanangkan seperti nonton atau jalan-jalan
seperti pasangan yang lain. Jarang sekali merekat pergi berdua untuk makan
malam di luar. Waktu luang biasanya Galan datang ke Jakarta untuk menjnguk
kekasihnya itu. Jadilah Tania manyun sendiri hampir setiap hari minggu
dan cuma bisa memandang seorang Galan dari fotonya dengan manis di tempat
tidur.
Rasa
kesal Tania semakin menjadi. Apalagi, hubungan mereka seminggu ini memang
sedang tidak baik. mereka berdua sama-sama letih. Pekerjaan Galan yang
bertumpuk di tempat dia magang dan tugas Tania yang banyak dari kampusnya, itu
membuat masing-masing dari mereka merasa letih dan mudah tersinggung satu sama
lain. Jadilah, beberapa kali mereka bertengkar minggu ini.
Sebenarnya,
hari ini Tania sudah merencanakan untuk mengirimkan kembali hadiah pada Galan
sebagai tanda tanggal jadi mereka. Tania ingin Galan mendapatkan sureprise lagi
dari Tania tapi sebelumnya dia hanya ingin untuk pertama kali ini Galan yang
mengucapkan pertama kali kalau hari ini mereka genap tiga bulan, tapi nyatanya
memang tidak. Mestinya, Sabtu ini Galan libur. Tetapi, begitulah Galan. Sulit
sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini.
Mungkin, karena mereka berjauhan sehingga Galan tidak merasa perlu untuk
meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Tan, lo
yakin mau menerima Galan?” Rahma sahabatku menatapku heran. ” Galan itu enggak
romantis, lho. Tidak seperti cowok romantis yang sering lo bayangin. Dia itu
tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi
enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan.
Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Rahma menyambung panjang lebar. Tania cuma
senyum-senyum saja saat itu. Galan memang menanyakan kesediaan Tania untuk
menerima Galan jadi cowoknya Tania lewat Rahma.
”Kamu kok
gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadian sama Galan?” tanya Tania pada
Rahma sambil cemberut. Rahma tertawa pada Tania. ”Yah, yang seperti ini mah
tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama si Galan.” Rahma tertawa geli.
” Lo belum tahu si Galan sich!” kata Rahma yang memang sudah lama kenal sama
Galan sebelum Tania, sedangkan Tania sendiri sudah lama temenan sama Rahma
karena mereka memang satu kampus.
Tetapi,
apapun kata Rahma, Tania telah bertekad untuk menerima Galan jadi cowoknya
walaupun Tania tau pada saat itu Galan masih punya cewek di Cirebon, Tania
yakin mereka bisa saling menyesuaikan diri. Toh Tania berpikir kalau Galan
adalah laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buat Tania.
Minggu-minggu
pertama setelah mereka jadian tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya
pasangan baru, Galan berusaha romantis. Dan Tania senang. Tetapi, semua
berakhir saat Galan sudah mulai sibuk lagi di perusahaan tempat dia magang.
Galan segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu.
Hampir tidak ada waktu yang tersisa untuk Tania. Cerita-cerita Tania yang
antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun
sambil terkantuk-kantuk ketika mereka teleponan. Dan, Tania yang telah
berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk
melanjutkan cerita.
Begitulah…
Tania berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalan Tania
kepada Galan benar-benar mencapai puncaknya. “Aku mau ke menara 165”. Tania
mengirim sms singkat kepada Galan. Tania menunggu. Satu jam kemudian baru
kuterima jawabannya. “Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk teman-teman
di sana ya”. Tania semakin uring-uringan karena Galan membutuhkan waktu
satu jam untuk membalas sms darinya. Rapat, presentasi, laporan pekerjaan,
itulah saingan yang merebut perhatian kekasih Tania.
Tania
langsung pergi ke Menara 165, tempat dimana mereka pertama kali bertemu dan
tempat yang menurut Tania sangat bersejarah bagi hubungan mereka, dan Tania
sengaja pergi ke Gedung itu bukan karena ada tujuan yang lain kecuali hanya
ingin mengingat masa-masa pertama kali dia bertemu Galan, tapi Tania mulai
berpikir kalau Galan sudah melupakan kejadian itu, Tania langsung ngasih kabar
ke Rahma kalau dia ada di Menara 165, dan dia berharap Rahma datang ketempat
itu juga untuk sekedar curhat, dan beruntung Rahma sedang tidak ada jadwal
kemana-kemana, jadi dia memutuskan untuk menemui sahabatnya yang sedang galau
itu di menara 165. Beberapa menit kemudian Rahma datang, Tania yang sedang
duduk di kantin menara dengan muka malas menyambut kedatangan Rahma.
”Kenapa
Tan? Ada masalah dengan Galan?” Rahma membuka percakapan tanpa basa-basi. Tania
mengangguk. Rahma memang tidak pernah bisa dibohongi. Dia selalu berhasil
menebak dengan jitu tentang keadaan sahabatnya itu.
Walau
awalnya tersendat, akhirnya Tania bercerita juga kepada Rahma. Mata Tania berkaca-kaca.
Tania menumpahkan kekesalannya kepada sahabat tercintanya itu. Rahma tersenyum
mendengar cerita Tania. Rahma mengusap rambut Tania. ” Tan, mungkin semua ini
salah gw yang terlalu mojokin lo buat jadian sama Galan. Sehingga lo jadi kaya
gini sekarang karena sikap Galan. Tapi Coba dech, Lo pikirin baik-baik. Apa
kekurangan Galan? Dia cowok yang baik. Walaupun dia disana udah punya cewek,
tapi gw yakin dia sayang banget sama lo, dan lagian hubungan Galan sama
ceweknya juga udah gak baik, dang w yakin Galan bakalan milih lo, menurut gw
sich dia udah cukup setia sama lo, buktinya dia berani jujur sama lo tentang
status dia, Galan juga pekerja keras. Galan itu tidak pernah kasar sama lo,
rajin ibadah. dia juga baik dan hormat pada gw dan teman-teman yang lainnya.
Tidak semua cowok seperti dia, Tan” kata
Rahma.
Tania
terdiam. Dan dia merasa kalau omongan Rahma memang benar. ”Tapi Ma, dia itu
keterlaluan sekali. Masak tanggal kita jadian aja sampai tiga kali lupa. Lagi
pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Gw kan ceweknya, apa dia udah baikan lagi sama
Indah ya, dan dia mutusin buat ngelupain gw.” Tania masih kesal. Walaupun dalam
hati Tania tidak merasa kalau Galan akan balik lagi sama Indah.
Tania
mulai berpikir, selain sifat kurang romantisnya Galan sama dia, sebenarnya apa
kekurangan Galan bagi Tania? Hampir tidak ada. Sebenarnya, Galan berusaha sekuat
tenaga untuk membahagiakan Tania dengan caranya sendiri. Galan selalu mendorong
Tania untuk menambah ilmu dan memperluas wawasannya. Galan juga selalu
menyemangati Tania untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada
orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Walaupun Galan masih sama Indah.
Galan selalu bercerita pada Tania soal bagaimana dia sekarang dengan Indah, bagaimana
Galan bersikap terhadap rekan-rekan wanita yang sama-sama magang di kantor.
Galan tidak pernah meladeni ajakan Anita teman dia magang di perusahaan itu
yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau,
dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit
buat Galan menarik perhatian lawan jenis.
”Tan,
kalau lo merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Galan yang
bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Rahma berkata
tenang.
Tania
memandang Rahma. Perkataan Rahma benar-benar menohokku. Tania berpikir, “Ya,
Rahma benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku
membujuk Dina, salah seorang sahabatku yang stres karena cowoknya berselingkuh
dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke
dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena
dipukuli cowoknya?”
Pelan-pelan,
rasa bersalah timbul dalam hati Tania. Tania semakin membuka pikirannya, “kalau
memang Galan tidak mengingat bahwa tanggal ini adalah tanggal jadian kita,
mengapa tidak akau aja mengingatkannya ya.” Pikir Tania dalam hati.
Tania
hanya takut kalau sebenarnya dia tidak lagi dicintai? Padahal itu sama sekali
tidak terjadi. Karena Galan memang semakin hari semakin mencintai kekasihnya
itu.
Tania
segera mengajak pergi Rahma untuk membeli sesuatu pada Galan, dia ingin memberi
kejutan pada Galan, ya walaupun hanya bisa dikirim lewat Tiki atau JNE, tapi se
enggaknya setiap bulan kejutan itu selalu berhasil membuat Galan tersenyu,m
manis.
Hadiah
sudah siap dikirimkan ke Galan, sebuah jam tangan indah yang sangat Galan
inginkan selama ini, dan memang Tania sudah dari satu bulan yang lalu
mempersiapkan kejutan hadiah itu buat Galan.. Jam sudah menunjukan jam tujuh
malam, dan pada jam segitu paket pengiriman barang memang sudah tutup, akhirnya
Tania memtuskan untguk mengirimkannya pada keesokan harinya, Tania pun pamitan
pulang sama Rahma, dn memang Rahma juga sudah siap pulang, mereka berpisah di
jalan, karena arah rumah mereka berbeda.
Setibanya
dirumah, Tania kaget karena tiba-tiba mamahnya memberikan sebuah paket pada
Tania, dengan terheran-heran dia membuka Paket tersebut, dan Paket itu memang
dari Galan, sebuah boneka Teddy bear lucu lengkap dengan sebuah catatan kecil,
“Maaf kalau aku tidak pernah menjadi sesuatu yang membuatmu bahagia sampai
saat ini!” dengan mata berkaca dia memeluk boneka beruang tersebut. Tidak
lama dari itu sebuah sms masuk ke inboxnya Tania,
“selamat
tanggal jadi ya beb…”. Tulis Galan di dalam smsnya, karena sebelumnya dia
berpesan sama mamahnya Tania, kalau Tania sudah menerima paketnya harap
mamahnya ngasih kabar ke Galan. Supaya Galan bisa langsung nge- sms Tania.
“sama-sama
beb, kau memang selalu membuat hidupku indah, I Love You.” Balas Tania.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar