Social Icons

Senin, 07 Januari 2013

Ketika Cinta itu Ada Part.3


Sahabat adalah Setia

-ujian itu selalu ada, apapun bentuknya-




Galan merasa pusing dengan semua kegiatannya akhir-akhir ini, ditambah dengan tumpukan kerjaan yang tiap hari makin numpuk aza, kerjaan yang mesti dikerjain dalam waktu tidak banyak, karena waktu magang di perusahaan itu sebentar lagi akan berakhir, selain itu tugas kuliah yang juga tidak sedikit, itu semua membuat Galan seperti akan bermetamorfosis menjadi sebuah mesin berkekuatan tinggi (ok, ini lebay!). Tapi tidak bisa di pungkiri, kalau semua itu benar-benar akan menyita tenaga extra dan pemikiran yang lebih, Galan si pemeran utama tidak akan mengenal nyerah, dia akan berani dan siap menghadapinya, (ok, ini juga lebay!).
***
“Galan laporan waktu di Jakarta ibu tunggu lima belas menit lagi di ruang kerja ibu,” kata Bu Yani, selaku manager Galan di perusahan tempat Galan magang. Galan langsung mendongak kaget, karena dia sadar kalau laporan yang harusnya dia kerjakan dua minggu yang lalu sampai saat ini masih belum dia kerjakan sama sekali. Mata Galan melirik lirih ke arah Rangga, dan Rangga hanya bisa mengangkat bahu, tanda dia tidak bisa membantu.
“iya bu, Insyaalloh, tapi bagaimana kalau pas pulang kerja aja bu, soalnya masih banyak revisian yang belum di perbaiki.” Jawab Galan sambil meminta toleransi dari Bu Yani.
“oh, begitu ya, ya sudah, tapi benar ya, pas pulang kerja semuanya harus sudah beres, karena itu akan menjadi bahan rapat kita minggu depan, dan ibu ingin mempelajarinya dulu.” Dengan penuh pengertian Bu Yani mengizinkan Galan.
Selain dikenal dengan orang yang tegas dan cerdas, Bu Yani juga di pandang sebagai manager yang penuh dengan ketelitian dan toleransi yang baik, dan tentunya di sesuaikan dengan dedikasi terbaik dari setiap bawahannya, karena semua itu akan berdampak pada kemajuan perusahaan sendiri.
“siap bu, saya laksanakan, hehehehe” semangat Galan kembali muncul.
“kamu, kayak prajurit perang saja, ya sudah sana kerja lagi” riang Bu Yani, yang memang kagum pada mahasiswa magangnya itu.
Jari Galan kembali menari indah di keyboard laptop kesayangan itu, laporan yang dia janjikan selesai di akhir jam kerja pada hari itu juga dia kerjakan dengan penuh tanggung jawab, karena memang sudah cita-citanya untuk mengabdi sebaik mungkin kepada perusahaan yang telah menerimanya magang, sikap Reyhan dan Rangga juga tidak kalah seperti Galan, mereka bertiga dengan penuh dedikasi tinggi mempersembahkan yang terbaik buat perusahaan itu, mereka sadar bahwa mereka bekerja disana hanyalah sementara waktu, dan itu hanyalah beberapa bulan saja, maka dari itu mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sedikit itu hanya dengan predikat nilai kuantitas saja, tapi mereka ingin nilai yang diberikan kepada mereka juga mempunyai kualitas yang tinggi juga, mereka ingin meninggalkan sesuatu yang baik bagi perusahaan itu. Setiap pekerjaan mereka jalani dengan penuh keikhlasan, tanpa memikirkan upah atau pujian bahkan nilai A, tapi hanyalah pengabdian yang luar biasa, pengabdian yang mereka sadari akan berbuah manis, mungkin mereka tidak mendapatkan upah yang tinggi dari magang mereka di perusahaan itu, karena mereka sadar upah yang lebih tinggi akan mereka dapatkan jauh di luar sana, pengabdian yang mereka lakukan bukan hanya semata pengabdian kepada sosok manusia seperti Bu Yani, tapi pengabdian yang tinggi pada sang Pencipta, mereka sadar setiap apa yang mereka kerjakan akan selalu dinilai oleh sang Pencipta, dan mereka dedikasikan semua pekerjaan mereka hanya untuk Alloh, perusahaan itu hanyalah sebagai wadah untuk mengabdikan hidup mereka, mereka sadar walaupun mereka disana hanyalah sebagai karyawan sementara, tapi pengabdian yang mereka berikan bukan hanya sebatas pengabdian sementara, tetapi pengabdian yang akan menjadi dampak besar terhadap perusahaan itu, pengabdian yang akan menjadi tolak ukur, apakah mereka orang baik atau orang kurang baik. Dan hal ini pulalah yang membuat mereka di percaya pihak perusahaan untuk mendapatkan tugas pergi ke kantor pusat di Jakarta, walaupun notabene status mereka hanyalah karyawan sementara yang lebih tepatnya mahasiswa magang.
Pengabdian itu juga yang menjadi alasan bagi mereka untuk tetap semangat menjalani hari-hari yang berat di perusahaan itu, hari-hari dimana juga mereka harus kuliah ketika pulang magang, disaat mereka mendapat sindiran yang tidak terlalu enak untuk di dengar, sindirian yang datang dari karyawan tetap di perusahaan itu, mereka menerimanya dengan lapang dada. Bahkan itu semua menjadi peluru semangat untuk mereka berdedikasi semakin baik di perusahaan itu.
Itulah semangat hidup mereka, selalu setia dengan apa yang  dijalani, selalu cerdas dengan apa yang dipikirkan, tidak langsung marah ketika ada orang yang menghina mereka, tidak langsung membenci ketika ada orang yang berbuat tidak menyenangkan kepada mereka, mereka selalu berpikir lebih baik, kenapa mereka mendapatkan perlakuan yang kurang baik itu, karena pada akhirnya mereka sadar, mungkin semua itu terjadi karena sikap mereka sendiri. Itulah mereka,yang tidak pernah berpikir lebih dalam untuk sebuah kebaikan, mereka akan dengan segera tanpa berpikir panjang, seperti memberi pada pengemis bagaimanapun keadaannya, karena mereka berpikir mereka meminta karena butuh, mereka tidak peduli dengan cibiran orang yang berkata “jangan dikasih, nanti hanya akan membuat mereka malas” atau “mereka kan masih kuat bekerja, kenapa mereka tidak bekerja saja, bukan hanya mengemis seperti itu” tapi semua itu tidak membuat Galan, Reyhan, dam Rangga menyerah, mereka hanya ingin selalu berbuat baik, terserah apa kata orang, mereka hanya yakin kalau semua perbuatan mereka akan selalu di lihat oleh Alloh dan Alloh akan selalu memberikan reward yang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh hambanya.
Memang harus seperti itu, kesadaran mereka dalam pengabdian kepada perusahaan itu bukan hanya semata-mata mereka ingin di puji oleh rekan satu ruangan atau manager mereka, bukan, bukan karena itu. Tapi karena mereka sadar akan keterbatasan waktu yang mereka punya. Waktu yang singkat dengan dedikasi yang baik. Itulah landasan hidup yang sesungguhnya, mereka sadar kalau hidup di dunia hanyalah sementara, jadi mereka ingin memberikan yang terbaik kepada siapapun di dunia ini, tanpa membedakan siapa itu yang harus diperlakukan baik, mereka hanya yakin setiap apa yang mereka perbuat akan selalu berbalik kepada mereka. Mereka ingin hidup laksana Bunga Sakura di Jepang sana, yang mekar satu tahun sekali dan mekar hanya selama satu minggu, itulah yang di inginkan mereka, mereka sadar kalau hidup di dunia hanyalah satu kali dan itu sangatlah singkat, mereka ingin seperti bunga sakura yang selalu gugur dalam keindahannya, dalam artian bahwa mereka ingin disaat mereka meninggal nanti mereka meninggal dalam keadaan terhormat keadaan dimana mereka telah membuat hal yang baik dalam waktu yang singkat. Maka dari itu mereka dengan ikhlas mengabdikan segala apa yang mereka kerjakan hanya kepada Alloh, dan biarlah Alloh yang membalas semua apa yang mereka berikan kepadaNya.
***
Setelah selesai, Galan pun langsung menyambar tas nya karena akan langsung pulang, dan janjian sama Reyhan dan Rangga di tempat parkiran, hasil laporan itu langsung dia bawa ke ruang kerja Bu Yani, dan ternyata Bu Yani memang sudah menunggu dari tadi.
“ibu yakin, kamu akan datang sesuai dengan apa yang kamu janjikan, dan ibu harap kamu tidak mengecewakan ibu..” Bu Yani dengan tiba-tiba bicara seperti itu tanpa membiarkan Galan untuk memulai bicara, walaupun sebuah kata permisi.
“akh ibu, bisa aja, terimakasih bu atas kepercayaan ibu, dan semoga laporan ini bisa ibu terima dengan baik,” jawab Galan dengan penuh semangat.
“iya, ibu yakin laporan ini baik, dan kalaupun ada kesalahan nanti akan kita bicarakan dalam rapat nanti, ya sudah saya mau langsung pulang, terimakasih buat laporannya.” Jawab Bu Yani sambil merapikan tas nya.
“saya juga mau pamit pulang bu, selamat sore.”
***
Di tempat parkir Galan masih menunggu Reyhan dan Rangga, karena mereka memang belum datang dan masih diruang kerja, tempat parkir yang mulai sepi karena sebagian karyawan memang sudah pulang pada saat itu. Hanya ada seorang cewek yang tampak sedang mencari-cari sesuatu di tanah.
“hei, cari apa?’ Tanya Galan mengahampiri cewek itu.
Cewek itu terkesiap.” Ga-Galan!”
Sekarang giliran Galan yang kaget. “hah? Kok tahu namaku?” tanyanya heran. “ kita saling kenal?”
“kita sama-sama lagi magang disini, Cuma beda divisi” jawab cewek itu kikuk “Aku Isma.”
“oooo…” Galan manggut-manggut walaupun sebenarnya masih bingung, karena divisi dia sama divisi cewek itu jarak ruangannya lumayan jauh dan dia gak kenal sama cewek ini.
“kamu lagi cari apa?”
“kunci motorku hilang.” Jawab Isma panik. “ Aku udah nyari dari tadi, tapi…”.
“belum ketemu?”
Isma Mengangguk.
Galan mengangkat bahu. “ Gantungan kuncinya bentuknya gimana?”
Isma menatap cowok di depannya tak percaya.
“hei, gantungan kuncinya bentuknya gimana?”
“el-elmo! Bentuknya boneka Elmo” jawabnya. “ Ma-makasi ya Galan.”
Isma tersenyum. “ Galan memang kayak yang dibilang teman-teman.”
Galan menoleh, “ emangnya, apa yang di bilang teman-temanmu tentang aku?”
“pokoknya sesuatu yang baik,” jawab Isma sambil tersenyum.
Galan tidak bertanya lebih lanjut. Tahu bahwa dia dibicarakan atas sesuatu hal yang baik itu sudah cukup baginya, karena dia berpikir kalau sesuatu yang baik di ungkap terus menerus maka akan menjadi sesuatu yang kurang baik.
Sekitar lima menit kemudian, kunci  motor Isma ditemukan tergelatak di dekat tempat sampah, sepertinya terjatuh ketika cewek itu hendak membuang sesuatu. Isma berulang-ulang mengucapkan terimakasih hingga Galan merasa agak risi.
“ kamu orang pertama yang nawarin bantuan setelah hampi satu jam aku nyari-nyari disini,” jelas Isma sebelum menyalakan motornya dan melaju meninggalkan Galan.
***
Reyhan dan Rangga pun datang lima menit dari kejadian tadi. Karena memang mereka sudah tidak ada lagi kegiatan di kantor mereka itu, mereka langsung pulang kerumah Galan, soalnya selama mereka magang mereka sepakat untuk tinggal satu atap (ok, ini kembali lebay),karena mereka berpikir kalau satu rumah akan lebih gampang kordinasinya, dalam hal ini mereka memilih rumah Galan, karena Reyhan dan Rangga memang anak kos di samping itu hanya Galan-lah yang mempunyai Mobil, jadi menurut Reyhan dan Rangga bisa menghemat biaya transportasi.
***
Hubungan Galan dengan Indah (read: pacar Galan di Cirebon yang tidak di restui oleh orang tua Indah) semakin kacau, dan itu menambah kepusingan Galan, hunbungan yang dulunya berjalan dengan baik, tetapi entah kenapa beberapa bulan setelah hubungan itu terjalin, orang tua Indah tiba-tiba menentang hubungan mereka, ibunya Indah dengan tegas kalau anaknya tudak boleh berhubungan dengan Galan, itu terjadi karena ibunya Indah berpikir kalau Galan memang tidak pantas buat Indah, ibunya berpikir kalau Indah tidak boleh pacaran dulu, ibunya takut kuliah Indah akan kacau kalau dijalani dengan pacaran, padahal awal-awalnya tidak seperti itu.
Disamping ibunya tidak setuju dengan hubungan mereka, Indah juga kayaknya mulai mengekang Galan, dan itulah yang membuat Galan berani mengambil tindakan untuk jadian lagi dengan Tania, Galan sadar kalau tindakan itu salah, tapi Galan juga tidak bisa membohongi perasaannya kalau dia memang sayang sama Tania, kasih sayang yang Galan dulu berikan kepada Indah memudar dengan sendirinya karena sikap orang tua Indah dan sikap Indah sendiri, karena Galan akui kalau Galan juga merasakan Indah tidak pernah serius dalam hubungannya dengan Galan. Galan sadar kalau Galan hanya dijadikan pelampiasan oleh Indah, dan itu Galan tau dari teman Indah sendiri. Tapi Galan tidak mengambil pusing masalah ini, yang Galan tau hanyalah dia sekarang mempunyai dua cewek yang memang dia cintai, walaupun perasaan pada Tania lebih besar daripada perasaan dia terhadap Indah.
Galan hanya menyerahkan segalanya kepada waktu, karena saat ini dia belum tau bagaimana cara dia memutuskan hubungan dengan Indah dan hidup bahagia dengan Tania, dari sekian banyak masalah yang Galan hadapi, mungkin inilah yang lebih banyak menguras pikiran Galan, karena Galan tidak mau menyakiti hati siapapun, termasuk Tania dan Indah, Galan sadar  walaupun Tania menerima status Galan, tapi dia tau kalau Tania merasa sakit dengan perasaannya itu, Galan mengerti perasaan Tania, tapi Galan juga tidak mau menyakiti hati Indah, walaupun Galan akan dengan mudah memberi alasan kepada Indah kalau dia ingin putus dengan Indah, tapi Galan merasa itu cara yang salah, dengan menjadikan alasan kalau ketidak sukaannya orang tua Indah terhadap hubungan meraka. Galan tidak mau memanfaatkan alasan itu.
***
Reyhan merasakan kebingungan yang di hadapi oleh Galan akhir-akhir ini, dia mencari cara bagaimana membantu sahabatnya itu, Rangga pun mempunyai perasaan yang sama dengan Reyhan, mereka berdua sepakat untuk menanyakan perihal masalah Galan saat ini, namun mereka bingung harus dimulai darimana untuk menanyakan semua ini?
Galan yang luar biasa di mata kedua temannya itu ternyata memang selalu rapuh dengan kondisinya, Galan yang selalu Nampak gagah dan berani di pikiran mereka ternyata memang selalu takut, rapuh apabila harus melihat wanita nangis di hadapannya dan takut apabila harus menyakiti perasaan hati seorang wanita, dan Galan memang tidak punya keberanian untuk itu semua.
Reyhan dan Rangga semakin tidak tega melihat keadaan sahabatnya itu, sahabat yang selalu memberikan pinjaman uang ketika kiriman uang saku mereka telat mereka dapatkan, sahabat yang tidak pernah lupa dengan tanggal ulang tahun mereka, sahabat yang tidak pernah mengeluh dimata mereka, dan sahabat yang selalu menjadi pemimpin bagi mereka. Dan sekarang sahabat yang mereka sayangi itu sedang ada dalam keadaan psikis yang kurang baik, mungkin ini sepele bagi yang lain, tapi bagi Galan ini adalah sesuatu hal yang serius, dan mereka sadar kalau Galan sama sekali tidak akan pernah bercerita tentang semua kondisi buruknya itu kepada mereka, karena bukanlah tipe Galan untuk menyusahkan kedua sahabatnya itu walaupun masalah itu hanyalah sebuah cerita cinta seorang mahasiswa, yang mungkin konyol tapi memang berat keadaannya.
Dengan tanpa pikir panjang lagi, akhirnya Reyhan yang mengambil keputusan,.
“ngga, kayaknya kita harus mencoba bicara sama Galan, karena bagaimanapun juga, dia pasti ingin membicarakan hal ini, kita tau sikap dia, dan kita harus memulai ini ngga, bagaimana menurutmu?
“ya, kalau gw sich, okay-okay aza, tapi apa lo yakin, si Galan mau cerita sama kita, “ jawab Rangga kurang yakin.
“ ya, kita coba aza, ntar pas kita dirumahnya kita coba Tanya ke dia,”
“ ya, lo atur aza dech ya, gw ngikut lo aza…”
***
RUMAH GALAN – TEPATNYA KAMAR GALAN – LEBIH TEPAT LAGI KASURNYA GALAN
Reyhan ngebuka obrolan :
“Lan, gw,ya tepatnya gw sama Rangga pengen banget ngobrol sama lo”
Galan masih dengan muka polos tapi tetap dengan senyum yang menampakan kalau dia memang berwibawa.
Reyhan lagi :
“lo, kenapa sich Lan, akhir-akhir ini lo kok kayak ngehindar gitu dari gw sama Rangga? Lo ada masalah ya Lan, cerita lah sama kita! “
Galan masih tersenyum dan pastinya masih bingung dengan obrolan teman sekasurnya ini (tepatnya teman yang ada satu kasur pada saat ini).
Reyhan lagi :
“Lan, kok malah  nyengir sich, kenapa lo?”
Galan siap-siap ngebuka obrolan.
“ emang gw kenapa? Perasaan gw baik-baik aza tuh, ada yang salah dari gw! Apaan?”
Rangga mengambil ancang-ancang untuk masuk arena ( dibaca: nimbrung dalam pembicaraan)
“ya, gw kenal sama lo bukan sehari, atau sebulan ini aja Lan, gw ma Reyhan udah lama kenal sama lo, dan gw yakin saat ini lo sedang dalam kondisi yang menurut gw sich bukan lo yang setiap hari gw kenal, gw sich gak mau ikut campur dalam urusan lo, tapi gw harus ngomong ini sama lo, sebagai teman gw ngerasa kalau gw tuh wajib ngomong gini sama lo, sekarang terserah lo mau nyerita atau enggak soal masalah lo ke gw ataupun Reyhan, se enggaknya lo mungkin bisa lebih lega, atau bahkan gw sama Reyhan bisa ngasih saran, gimana Lan?”
Tanpa sadar, Galan mulai tersentuh hatinya, dia gak nyangka kalau kedua sahabatnya itu bisa memperhatikan dia melebihi apa yang dia pikirkan,
“pertama, gw makasih banget sama lo bedua yang udah perhatian sama gw, tapi apa gak malu kalo gw nyeritain ini semua sama lo bedua?” jawab Galan dengan nada kurang yakin.
“kenapa mesti malu, gak ada sejarahnya seorang Galan tau kata malu?” Reyhan menimpali
“sialan lo Han, gw juga masih lah punya rasa malu, gw kan masih hidup, orang hidup pasti punyalah rasa malu” Galan dengan sigap mengelak.
“ya gw juga becanda kali Lan,” Reyhan menjelaskan.
“ya udah, emang lo kenapa Lan, gw sama Reyhan siap jadi pendengar yang baik buat lo” Rangga mengembalikan mereka ke jalan yang benar.(jelasnya ke arah pembicaraan awal, yaitu soal masalah Galan.)
“menurut kalian, salah gak sich gw dengan Tania, lo bedua kan tau gw masih sama Indah, tapi gw jadian juga sama Tania, ya walaupun Tania nganggap ini bukan maslah buat dia tapi gw tetep ngerasa gak enak sama dia, tapi gw juga gak bisa terus sama Indah, karena seperti lo tau kalau Indah emang gak serius sama gw ditambah lagi ibunya Indah gak pernah setuju sama hubungan gw dengan Indah, ya walaupun pada awalnya ibunya biasa-biasa aja sama hubungan kita tapi makin kesini makin keliatan kalau ibunya emang gak setuju sama hubungan kita, menurut lo bedua gw mesti gimana? Apa gw ngomong langsung sama Indah kalau gw udah punya cewek baru yaitu Tania, apa gw simpen dulu aza?” Galan dengan panjang lebar nyeritain semuanya pada kedua temannya itu.
“kalau menurut gw sich, lo jangan dulu ngomong sama Indah, soalnya akan menjadi boomerang yang kurang baik buat lo bedua, lo diem aza dulu.” Saran Reyhan.
“iya Lan, lo jangan buru-buru ngomong ini sama Indah, bahkan sampai kapanpun Lo jangan nyerita ini sama Indah, gw yakin semua orang yang nantinya tau tentang hubungan lo sama Tania akan membela lo bila suatu saat Indah tau soal hubungan lo sama Tania, karena hampir sebagian besar orang yang tau hubungan lo sama Indah ya memang tidak di restui sama ibunya Indah, dan gw yakin, lo bakalan lebih ngerti maksud gw.” Rangga memberi banyak saran sama temannya itu.
“lo sudah dewasa Lan!” Reyhan meyakinkan Galan.
“belum” Galan menggeleng. “ Gw belum dewasa, masih banyak yang enggak gw tau dan gak gw mengerti.”
Reyhan tersenyum. “ itulah yang dinamakan dewasa Lan.”
“bener Lan, itulah dewasa, disaat lo sadar kalau di dunia ini memang masih banyak hal yang belum kita mengerti dan kita pahami, itulah saat kita dewasa, bukan hanya membedakan mana yang baik atau buruk, kalau taraf dewasa hanya terlingkup dari itu anak kecil juga bisa, dan hal dewasa yang lo miliki sekarang jauh dari hanya sekedar membedakan mana yang baik dan yang kurang baik, lo mungkin berpikir kalau diri lo piln-plan karena lo gak bisa memutuskan sesuatu yang menurut orang lain sepele, tapi lo berpikir jauh ke depan, kalau lo hanya berpikir tentang perasaan lo aza, lo pasti sudah dari dulu ninggalin Indah dan ngelanjutin hubungan lo sama Tania, tapi lo masih berpikir kalau itu salah, lo ingin masalah lo sama Indah beres dan lo tidak ada beban buat ke depannya, itulah dewasa Lan, lo sebaik mungkin menjaga perasaan Indah, dan kalau gw di pihak lo, gw belum tentu akan bertindak seperti ini, terus soal lo sama Tania, itu gw gak bisa nyalahin lo, dan gw yakin lo sayang sama Tania, pokoknya saran gw, ya lo tetep aza lanjutin hubungan lo sama Tania juga sma Indah, toh kalian juga belum tentu berjodoh kan, sekarang gini dech, apa lo yakin dengan mutusin Indah lo bakalan berjodoh dengan Tania, kalau menurut gw sich itu masih jadi rahasia Alloh, dan gw yakin lo gak bakalan berani mendahuli kehendak Alloh kan,biarlah Alloh yang memutuskannya, “ Rangga memperjelas statement Reyhan.
“bener apa kata lo Ngga, gw gak selayaknya ngambil keputusan sendiri, gw yakin pasti ada hikmah dari ini semua, gw mau istikhoroh buat ini” jawab Galan mantap.
“inget Lan, lo gak harus merasa salah dengan hubungan lo sama Tania dan juga lo gak harus mutusin Indah, kalaupun ini salah Alloh akan menjawabnya lewat Istikhoroh yang lo lakuin, dan Alloh pasti ngasih jawaban buat maslah lo ini. Inget Lan, lo udah dewasa,..” Reyhan kembali ngomong.
“Lan, pantes lo bisa disukai banyak orang, karena lo emang terlalu baik Lan,” tegas Rangga.
“hah..” Galan bingung.
“ lo gak tau ya…”
“enggak pernah ada yang bilang suka sama gw tuh…” jawab Galan.
Rangga memutar bola matanya, “ya iyalah, tentu aja mereka malu”
“ tapi, gw kan, gak cakep, nggak pinter, nggak keren, di kampus juga gw biasa aja kan, di tempat magang apalagi,” ujar Galan masih gak percaya dan sedikit minder. “Apa yang bisa disukai?”
“ karena lo gak sadar kalo lo tuh keren jadi karena itulah kamu jadi sangat keren,” jawab Reyhan. “ orang yang menyukai dirinya sendiri apa adanya dan gak pernah berusaha jadi orang lain adalah orang yang sangat keren,” jelas Reyhan panjang lebar. “ sama kayak orang yang gak malu ngaku bahwa dia suka music India dan Film India walaupun dia tahu beberapa orang akan ngejek dia,” tambahnya.
“iya Lan, lo memang seperti itu kok, lo memang baik Lan, sampai-sampai gw malu sendiri sama lo..” Rangga ngebuka omongan lagi.
“lho, malu kenapa lo Ngga…?” Galan bingung.
“pokoknya, lo memang baik kok”, “aku lihat waktu kamu sama Isma”
Galan mengangkat alis, “Isma”
“cewek yang lo bantuin nyari konci motornya itu Lan,” jelas Rangga.
“oh itu, lho kamu lihat.” Galan mulai kembali ingatannya (inget pada kejadian itu)
“he-eh, gw liat pas gw mau jalan ke tempat parkir..” jawab Rangga.
“gw heran,” kata Galan. “dia bilang, dia udah hampir satu jam nyari kuncinya disitu, tapi kenapa nggak ada yang nolongin, sih? Bukannya banyak yang lewat situ.”
“itulah kenapa gw malu sama lo, sebenarnya sebelum lo bantuin tuh si Isma, gw juga sempat Liat si Isma myari kunci motor itu, tapi gw gak kayak lo yang langsung nanya dan nyoba bantuin dia, gw mikir hal itu kurang berarti bagi gw, ya karena gw memang belum bisa kaya lo” sesal Rangga.
“akh, itu kan emang pas gw lagi santai aja, lagian gw juga udah lupa kok,hehehe” tegas Galan, yang memang tidak pernah mengingat hal baik yang dia lakukan, walaupun menurut dia kecil tapi hal kecil itu selalu berdampak besar bagi setiap orang yang di tolongnya.
“kalian bedua lagi ngomongin si Isma yang lagi sama-sama magang di perusahaan itu ya” Tanya Reyhan.
“iya bener Han” jawab Rangga.
“wakh lo emang terlalu baik Lan, kalau gw yang liat mungkin gw juga gak bakalan langsung ngambil sikap kayak lo Lan, gw salut dech sama lo.” Reyhan makin kagum sama temennya itu.
“gw yakin, kalau lo tau dia lagi kesusahan lo juga pasti bantuin dia Han,” jawab Galan.
“ pernah denger kisah tentang ulat dan kupu-kupu?” Tanya Reyhan,
Galan menggeleng.
“kalau ada kupu-kupu yang terperangkap di sarang laba-laba, orang cenderung akan menolong kupu-kupu itu walaupun mungkin si laba-laba belum makan selama berhari-hari,” jelas Reyhan. “Tapi bagaimana kalau yang terperangkap itu adalah ulat yang belum menjadi kupu-kupu? Orang-orang tetap nolong nggak? Padahal, keduanya sama. Di dunia ini, memang harus cantik supaya ditolong.”
“jadi maksudmu, nggak ada yang nolongin Isma gara-gara dia gak cantik?”
“kasar, tapi memang begitulah kenyataannya, coba aja lo Tanya Rangga, kenapa dia lebih milih pura-pura gak liat dibanding nolongin Isma?” ujar Reyhan.
“bener Ngga, lo kayak gitu” Tanya Galan.
“karena itu gw malu sama Lo Lan, gw yang bukan siapa-siapa dan bahkan gak lebih baik dari lo malah ngebiarin kesempatan baik itu pergi. Lo emang keren Lan. Gw bangga punya sahabat kayak lo.” Jelas Rangga.
“suatu saat Alloh akan mengganti kesempatan yang lebih baik buat lo Ngga, dan gw harap lo gak nyia-nyiain lagi, mungkin karena dosa gw lebih banyak dari lo hingga akhirnya Alloh gerakin hati gw buat nolongin Isma.” Kembali Galan Merendah.
“pokoknya gw bangga bisa kenal sama lo, dan gw bersyukur bisa kenal sama lo Lan, sahabat yang gak pernah berpikir nanti untuk sebuah kebaikan.” Kagum Reyhan.
“tapi emang bener ya, kenapa harus kayak gitu? Kenapa harus cantik biar ditolong? Nggak masuk akal? Dangkal banget!” gerutu Galan.
Reyhan tersenyum, “itu yang gw maksud Lan.”
“hah”
“itu yang bikin orang-orang suka sama lo, yang ngebuat cewek-cewek kagum sama lo, yang ngebuat sahabat-sahabat lo makin sayang sama lo,” lanjut Reyhan.
“ kamu gak pernah milih antara ulat dan kupu-kupu”
Mereka bertiga terdiam sesaat, obrolan yang tadinya ngebahas antara Tania dan Indah jadi melebar kemana-mana, tetapi sesaat kemudian Rangga kembali membuat mereka tersadar ke jalur yang benar.
“pokoknya, soal masalah lo sama Indah, gw yakin lo bisa menjalani dengan mudah, karena lo yang lebih dewasa di bandingin gw sama Reyhan,” tegas Rangga.
“bener Ngga, sekarang gw mulai sadar, semua ini adalah cara Alloh buat gw bisa jadi lebih dewasa, makasih buat kalian,” jawab Galan.
Pembicaraan itu pun berakhir, Rangga dan Reyhan mulai beranjak dari kasur Galan, mereka hendak pergi ke kamar mereka, yang memang bertepatan disamping kamar Galan.
Sebelum Galan sempat menutup pintu kamarnya, tiba-tiba Reyhan kembali dan dengan singkat dia ngomong sama Galan,
“inget Lan, ujian itu selalu ada apapun bentuknya!”
“makasih ya Han,” Galan semakin bersyukur dengan adanya kedua sahabatnya itu.

***
Sementara jauh di Jakarta sana Tania mulai takut kalau Galan kembali pada Indah, walaupun ikhlas dia tetep ngerasa sakit, karena dia sadar betul kalau rasa sayang dia ke Galan sudah sangat besar, dia jelas tidak ingin kehilangan Galan. Baginya sekarang hanyalah kebahagiaan untuk kehidupan Galan, apapun itu.
Tania memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal.  Oktober 2008, tepat tiga bulan hari jadian mereka. Dan untuk ketiga kalinya pula Galan lupa untuk memberikan ucapan selamat tanggal jadi. Bulan pertama Galan lupa karena harus pergi ke luar kota karena ada acara dari kampusnya. Sebagai ketua Jurusan Galan memang berkewajiban untuk ikut dalam acara bakti social tersebut. Dan Tania memang memakluminya
Bulan kedua, Galan harus dikejar deadline untuk presentasi di perusahaan tempat Galan magang dan kesibukannya itu membuat Galan lupa. Dan setelah minta maaf, waktu Tania kekesalannya pada Galan via telpon, dengan kalem Galan menyahut,” beb, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang dua bulan ini. Hari ini tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi sekali Tania sudah sangat galau, karena Galan tak kunjung memberi kabar ke Tania, sedangkan Galan ia sudah pergi ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Galan tidak sempat meng-sms atau menelpon Tania sebelum dia berangkat ke kantor. Tania memang sengaja tidak mengingatkannya tentang  tanggal jadian mereka itu. Tania ingin mengujinya, apakah Galan ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Tania hanya bisa menarik napas panjang.
Tania merasa Heran, dia berkata dalam hati “apa sih susahnya mengingat tanggal jadian mereka sendiri?” Tania mendengus kesal. Galan memang berbeda dengan Tania. Galan kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering Tania bayangkan saat sebelum mereka jadian.
Sedangkan Tania, ekspresif dan romantis. Tania selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap ada hari penting seperti hari ulang tahunnya Galan atau tanggal jadian mereka. Tania juga tidak pernah lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagi Tania cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta. Itulah menurut Tania
Tania tahu, kalau Tania mencintai Galan, dia harus menerima Galan apa adanya. Tetapi, Tania berpikir “masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik.” Dan semua itu telah berubah  menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan bagi Tania. Tania semakin uring-uringan. Galan menjadi benar-benar menyebalkan di mata Tania. Tania mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikan Galan kepadanya dalam tiga bulan masa jadian mereka. Tidak ada akhir minggu yang meneyanangkan seperti nonton atau jalan-jalan seperti pasangan yang lain. Jarang sekali merekat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya Galan datang ke Jakarta untuk menjnguk kekasihnya itu. Jadilah Tania manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandang seorang Galan dari fotonya dengan manis di tempat tidur.
Rasa kesal Tania semakin menjadi. Apalagi, hubungan mereka seminggu ini memang sedang tidak baik. mereka berdua sama-sama letih. Pekerjaan Galan yang bertumpuk di tempat dia magang dan tugas Tania yang banyak dari kampusnya, itu membuat masing-masing dari mereka merasa letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali mereka bertengkar minggu ini.
Sebenarnya, hari ini Tania sudah merencanakan untuk mengirimkan kembali hadiah pada Galan sebagai tanda tanggal jadi mereka. Tania ingin Galan mendapatkan sureprise lagi dari Tania tapi sebelumnya dia hanya ingin untuk pertama kali ini Galan yang mengucapkan pertama kali kalau hari ini mereka genap tiga bulan, tapi nyatanya memang tidak. Mestinya, Sabtu ini Galan libur. Tetapi, begitulah Galan. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena mereka berjauhan sehingga Galan tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Tan, lo yakin mau menerima Galan?” Rahma sahabatku menatapku heran. ” Galan itu enggak romantis, lho. Tidak seperti cowok romantis yang sering lo bayangin. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Rahma menyambung panjang lebar. Tania cuma senyum-senyum saja saat itu. Galan memang menanyakan kesediaan Tania untuk menerima Galan jadi cowoknya Tania lewat Rahma.
”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadian sama Galan?” tanya Tania pada Rahma sambil cemberut. Rahma tertawa pada Tania. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama si Galan.” Rahma tertawa geli. ” Lo belum tahu si Galan sich!” kata Rahma yang memang sudah lama kenal sama Galan sebelum Tania, sedangkan Tania sendiri sudah lama temenan sama Rahma karena mereka memang satu kampus.
Tetapi, apapun kata Rahma, Tania telah bertekad untuk menerima Galan jadi cowoknya walaupun Tania tau pada saat itu Galan masih punya cewek di Cirebon, Tania yakin mereka bisa saling menyesuaikan diri. Toh Tania berpikir kalau Galan adalah laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buat Tania.
Minggu-minggu pertama setelah mereka jadian tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pasangan baru, Galan berusaha romantis. Dan Tania senang. Tetapi, semua berakhir saat Galan sudah mulai sibuk lagi di perusahaan tempat dia magang. Galan segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untuk Tania. Cerita-cerita Tania yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk ketika mereka teleponan. Dan, Tania yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… Tania berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalan Tania kepada Galan benar-benar mencapai puncaknya. “Aku mau ke menara 165”. Tania mengirim sms singkat kepada Galan. Tania menunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. “Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk teman-teman di sana ya”. Tania semakin uring-uringan karena Galan membutuhkan waktu satu jam untuk membalas sms darinya. Rapat, presentasi, laporan pekerjaan, itulah saingan yang merebut perhatian kekasih Tania.
Tania langsung pergi ke Menara 165, tempat dimana mereka pertama kali bertemu dan tempat yang menurut Tania sangat bersejarah bagi hubungan mereka, dan Tania sengaja pergi ke Gedung itu bukan karena ada tujuan yang lain kecuali hanya ingin mengingat masa-masa pertama kali dia bertemu Galan, tapi Tania mulai berpikir kalau Galan sudah melupakan kejadian itu, Tania langsung ngasih kabar ke Rahma kalau dia ada di Menara 165, dan dia berharap Rahma datang ketempat itu juga untuk sekedar curhat, dan beruntung Rahma sedang tidak ada jadwal kemana-kemana, jadi dia memutuskan untuk menemui sahabatnya yang sedang galau itu di menara 165. Beberapa menit kemudian Rahma datang, Tania yang sedang duduk di kantin menara dengan muka malas menyambut kedatangan Rahma.
”Kenapa Tan? Ada masalah dengan Galan?” Rahma membuka percakapan tanpa basa-basi. Tania mengangguk. Rahma memang tidak pernah bisa dibohongi. Dia selalu berhasil menebak dengan jitu tentang keadaan sahabatnya itu.
Walau awalnya tersendat, akhirnya Tania bercerita juga kepada Rahma. Mata Tania berkaca-kaca. Tania menumpahkan kekesalannya kepada sahabat tercintanya itu. Rahma tersenyum mendengar cerita Tania. Rahma mengusap rambut Tania. ” Tan, mungkin semua ini salah gw yang terlalu mojokin lo buat jadian sama Galan. Sehingga lo jadi kaya gini sekarang karena sikap Galan. Tapi Coba dech, Lo pikirin baik-baik. Apa kekurangan Galan? Dia cowok yang baik. Walaupun dia disana udah punya cewek, tapi gw yakin dia sayang banget sama lo, dan lagian hubungan Galan sama ceweknya juga udah gak baik, dang w yakin Galan bakalan milih lo, menurut gw sich dia udah cukup setia sama lo, buktinya dia berani jujur sama lo tentang status dia, Galan juga pekerja keras. Galan itu tidak pernah kasar sama lo, rajin ibadah. dia juga baik dan hormat pada gw dan teman-teman yang lainnya. Tidak semua  cowok seperti dia, Tan” kata Rahma.
Tania terdiam. Dan dia merasa kalau omongan Rahma memang benar. ”Tapi Ma, dia itu keterlaluan sekali. Masak tanggal kita jadian aja sampai tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku.  Gw kan ceweknya, apa dia udah baikan lagi sama Indah ya, dan dia mutusin buat ngelupain gw.” Tania masih kesal. Walaupun dalam hati Tania tidak merasa kalau Galan akan balik lagi sama Indah.
Tania mulai berpikir, selain sifat kurang romantisnya Galan sama dia, sebenarnya apa kekurangan Galan bagi Tania? Hampir tidak ada. Sebenarnya, Galan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan Tania dengan caranya sendiri. Galan selalu mendorong Tania untuk menambah ilmu dan memperluas wawasannya. Galan juga selalu menyemangati Tania untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Walaupun Galan masih sama Indah. Galan selalu bercerita pada Tania soal bagaimana dia sekarang dengan Indah, bagaimana Galan bersikap terhadap rekan-rekan wanita yang sama-sama magang di kantor. Galan tidak pernah meladeni ajakan Anita teman dia magang di perusahaan itu yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buat Galan menarik perhatian lawan jenis.
”Tan, kalau lo merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Galan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Rahma berkata tenang.
Tania memandang Rahma. Perkataan Rahma benar-benar menohokku. Tania berpikir, “Ya, Rahma benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Dina, salah seorang sahabatku yang stres karena cowoknya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli cowoknya?”
Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hati Tania. Tania semakin membuka pikirannya, “kalau memang Galan tidak mengingat bahwa tanggal ini adalah tanggal jadian kita, mengapa tidak akau aja mengingatkannya ya.” Pikir Tania dalam hati.
Tania hanya takut kalau sebenarnya dia tidak lagi dicintai? Padahal itu sama sekali tidak terjadi. Karena Galan memang semakin hari semakin mencintai kekasihnya itu.
Tania segera mengajak pergi Rahma untuk membeli sesuatu pada Galan, dia ingin memberi kejutan pada Galan, ya walaupun hanya bisa dikirim lewat Tiki atau JNE, tapi se enggaknya setiap bulan kejutan itu selalu berhasil membuat Galan tersenyu,m manis.
Hadiah sudah siap dikirimkan ke Galan, sebuah jam tangan indah yang sangat Galan inginkan selama ini, dan memang Tania sudah dari satu bulan yang lalu mempersiapkan kejutan hadiah itu buat Galan.. Jam sudah menunjukan jam tujuh malam, dan pada jam segitu paket pengiriman barang memang sudah tutup, akhirnya Tania memtuskan untguk mengirimkannya pada keesokan harinya, Tania pun pamitan pulang sama Rahma, dn memang Rahma juga sudah siap pulang, mereka berpisah di jalan, karena arah rumah mereka berbeda.
Setibanya dirumah, Tania kaget karena tiba-tiba mamahnya memberikan sebuah paket pada Tania, dengan terheran-heran dia membuka Paket tersebut, dan Paket itu memang dari Galan, sebuah boneka Teddy bear lucu lengkap dengan sebuah catatan kecil, “Maaf kalau aku tidak pernah menjadi sesuatu yang membuatmu bahagia sampai saat ini!” dengan mata berkaca dia memeluk boneka beruang tersebut. Tidak lama dari itu sebuah sms masuk ke inboxnya Tania,
“selamat tanggal jadi ya beb…”. Tulis Galan di dalam smsnya, karena sebelumnya dia berpesan sama mamahnya Tania, kalau Tania sudah menerima paketnya harap mamahnya ngasih kabar ke Galan. Supaya Galan bisa langsung nge- sms Tania.
“sama-sama beb, kau memang selalu membuat hidupku indah, I Love You.” Balas Tania.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates