Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah termasuk wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam, dilahirkan sekitar awal abad kedua Hijrah di kawasan Kota Basrah Irak. Rabi’ah hidup dalam sebuah keluarga miskin dari segi harta, namun kaya dengan peribadatan kepada Allah, karena begitu miskinnya, pada malam Rabi’ah dilahirkan, tidak satu pun barang berharga yang dapat ditemukan orang tuanya di rumah. Ayahnya bahkan tidak mempunyai setetes minyak pun untuk memoleh pusar putrinya, tidak punya lampu dan tidak memiliki kain untuk selimut Rabi’ah. Ayahnya berkerja sebagai pengangkut penumpang dengan sampan di penyeberangan Sungai Dijlah.
Walaupun pada akhir abad pertama Hijrah kondisi umat Islam yang waktu itu dalam pemerintahan Bani Umayah sudah mulai meninggalkan nilai-nilai ketaqwaan, pergaulan semakin bebas dan orang-orang berlomba-lomba mencari kekayaan. Namun Allah tetap memelihara hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak terjerumus ke dalam fitnah dan kekufuran itu.
Dalam keadaan yang hiruk-pikuk dengan kemungkaran waktu itu, muncullah satu gerakan baru yang dinamakan dengan Tasawuf Islami di bawah pimpinan Hasan al-Bashri. Pengikutnya juga terdiri dari kaum wanita, Hasan al-Bashri mencurahkan waktu dan tenaganya untuk mendidik jiwa dan rohani, mengatasi segala tuntutan hawa nafsu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ayah Rabi’ah adalah salah seorang hamba yang sangat menjaga nilai-nilai ketaqwaan, terasing dari kemewahan dunia, tapi tidak pernah lelah bersyukur kepada Allah, dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih, pendidikan yang diberikan kepada Rabi’ah bersumber dari al-Qur’an semata.
Rabi’ah yang sejak kecil memiliki jiwa yang halus, memiliki keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam sangat gemar membaca dan menghayati isi al-Qur’an, sehingga dia berhasil menghafal kandungan al-Qur’an. Di usia remaja kehidupan Rabi’ah dalam keadaan serba sulit dan semakin sulit setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Hal ini dianggapnya sebagai ujian dan bertujuan untuk membuktikan keteguhan imannya. Keadaan sulit ini dipergunakan oleh Rabi’ah untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah menikah dianggap mempunyai saham besar dalam memperkenalkan cinta Allah ke dalam mistisme Islam, kecintaannya kepada Allah mampu menutup kecintaannya kepada yang lain. Rabi'ah mengatakan "Kekasihku tiada yang bisa menyamai-Nya, tidak satu pun yang ada dalam hatiku kecuali Dia, ada dimanapun, tiada mengenal tempat. Kekasihku gaib dari penglihatan dan pribadiku sendiri, akan tetapi Dia tidak pernah gaib dari hatiku sedikitpun".
Suatu hari di musim semi, Rabi’ah hendak masuk rumahnya, kemudia menoleh keluar karena pelayannya berseru “Ibu, keluarlah dan saksikan apa yang telah dilakukan oleh Sang Pencipta”. Kemudian Rabi’ah menjawab “Lebih baik engkau yang masuk kemari, saksikanlah Sang Pencipta itu sendiri, aku sedemikian asyik menatap Sang Pencipta, sehingga membuatku tidak peduli lagi terhadap ciptaan-Nya”.
Rabi'ah telah membentuk suatu cara yang luar biasa untuk mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan kepada Allah sebagai alat untuk membersihkan jiwa, dia mengawali kehidupan sufi-nya dengan menanamkan rasa takut atas kemurkaan Allah. Dalam kesendiriannya dimalam yang sunyi Rabi’ah selalu bermunajat kepada Allah dengan do’a-do’a yang melantun dari mulutnya, di antaranya :
Wahai Tuhanku, apakah engkau akan membakar hati yang mencintai-Mu, lisan yang selalu menyebut nama-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?
Ya Allah, ya Tuhanku, aku berlindung diri kepada Engkau dari segala yang bisa membuat aku berpaling dari-Mu, dari segala yang menghalangi dan membatasi antara aku dengan Engkau.
Tuhanku, bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.
Tuhanku, tiada ku dengar suara binatang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya tempat berteduh, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan, melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti ke-Esa-an-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.
Sekalian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik-masyuk. Yang tinggal hanya Rabi’ah yang banyak kesalahan kepada-Mu, maka semoga Engkau berikan suatu petunjuk kepadanya, yang akan menahannya dari tidur, supaya bisa khusyuk terhadap-Mu.
Itulah di antara do’a-do’a Rabi’ah kalau sedang bermesraan dengan Allah. Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah menikah dianggap mempunyai saham besar dalam memperkenalkan cinta Allah ke dalam mistisme Islam, kecintaannya kepada Allah mampu menutup kecintaannya kepada yang lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar