Social Icons

Senin, 27 Mei 2013

Kisah Nabi Ibrahim As. dalam Mencari Tuhan

Nabi Ibrahim As. Khalilullah (Kekasih Allah) termasuk salah seorang keturunan dari Nabi Nuh As. dengan silsilah keturunan sebagai berikut : Ibrahim bin Azhar/Tarah bin Tanur bin Siruj bin Sam bin Nuh As. Dalam al-Qur’an nama ayahnya disebut dengan Azhar, sedangkan dalam Taurat disebut dengan Tarah. Ibrahim As. dilahirkan di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan kemusyrikan dan kekufuran yang dikuasai oleh seorang raja yang bernama Namrudz, seorang raja zalim dan suka bertindak semena-mena, bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Namrudz bersama seluruh rakyatnya menyembah berhala, termasuk Azar ayah Nabi Ibrahim sendiri. Azar ahli dalam membuat patung dan raja Namrudz sangat menyukai patung buatan Azhar.

Sebelum Ibrahim As. dilahirkan raja Namrudz bermimpi bahwa, kelak akan lahir seorang anak laki-laki yang akan menggulingkan kekuasaannya. Sejak mimpi itu Namrudz sangat gelisah dan cemas, takut mimpi itu akan menjadi kenyataan. Berdasarkan kegelisahan itu Namrudz akhirnya mengeluarkan undang-undang kerajaan, yang isinya “setiap bayi laki-laki yang lahir harus dibunuh”. Kemudia Namrudz memerintahkan kepada seluruh bala tentaranya untuk menyebar ke segala penjuru untuk mendata perempuan yang sedang hamil, jika ditemukan wanita yang baru melahirkan bayi laki-laki langsung mereka bunuh tanpa sedikitpun rasa kemanusiaan.

Waktu Nabi Ibrahim dilahirkan, ayahnya tidak sanggup untuk membunuh anaknya. Oleh karena itu ayahnya menyembunyikan Nabi Ibrahim di sebuah goa yang terletak di hutan, dengan pikirian nanti anaknya itu akan mati juga dimakan binatang buas. Namun Allah berkehendak lain, diluar jangkauan akal manusia, Nabi Ibrahim dalam penjagaan Allah, sehingga tidak satupun  binatang buas dalam hutan itu yang mengganggu atau memakannya, bahkan Nabi Ibrahim dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Hal ini bisa terjadi karena Allah telah memberikan jaminan, jika bayi Nabi Ibrahim menghisap jarinya, maka keluarlah madu yang manis dari jarinya, dengan demikian Nabi Ibrahim tidak merasakan haus dan lapar. Subhanallah, Allah berbuat sekehendak-Nya, bahkan diluar logika manusia. Inilah yang disebut dengan ir-hash, yaitu sesuatu keajaiban yang luas biasa yang terdapat pada diri Rasul semasa kecilnya atas izin Allah Swt.

Setelah beberapa lama kemudian, ayah dan ibunya mencoba melihat anaknya di goa tempat Nabi Ibrahim disembunyikan. Awalnya mereka berkeyakinan bahwa anaknya itu pasti telah tiada, namun betapa kagetnya mereka ternyata Ibrahim As. berada dalam keadaan sehat wal’afiat saja dan sejak itu mereka sering menjenguk Nabi Ibrahim kecil secara sembunyi-sembunyi. Setelah Nabi Ibrahim berumur satu tahun, Azhar dan istri membawa anaknya pulang. Dari hari sampai berbulan Nabi Ibrahim semakin beranjak remaja, ia mulai bertanya kepada orang tuanya, siapakah yang menciptakan alam serta isinya.

Pada suatu ketika Nabi Ibrahim bertanya “Wahai ayah dan ibuku, siapakah yang telah menjadikan diriku ini?”. Orang tuanya menjawab “Ayah dan ibu yang menjadikanmu, kamu lahir disebabkan kami”. Ibrahim bertanya lagi “Kalau begitu, siapa pula yang menjadikan ayah dan ibu?” Ayahnya menjawab “kakek dan nenekmu”. Demikianlah seterusnya, sehingga sampai puncaknya Nabi Ibrahim menyatakan “Siapakah orang pertama yang menjadikan semua ini?”. Orang tuanya tidak lagi mampu menjawab, karena mereka tidak mengetahui tentang Tuhan. Kemudian Ibrahim bertanya pula kepada semua orang, merekapun sama seperti orang tuanya, tidak seorangpun di antara mereka yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Keadaan ini membuat Nabi Ibrahim semakin penasaran dan penuh tanya dalam hati, akhirnya dia menggunakan akal dan logika untuk mencari Tuhan Sang Pencipta jagad raya. Namun usahanya selalu gagal, karena memang akal manusia diciptakan sangat terbatas dibandingkan kekuasaan Allah. Hal ini disinyalir oleh Allah Swt. dalam Firman-Nya :

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَباً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ. فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغاً قَالَ هَـذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ. فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَـذَا رَبِّي هَـذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ. إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفاً وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ.

Artinya : Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhan-ku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam”.  Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhan-ku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhan-ku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhan-ku, ini lebih besar”.  Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”. Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang Menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (al-An’am : 76-79)

Begitulah kisah Nabi Ibrahim As. dalam mencari Tuhannya, yaitu dengan menggunakan akal dan logika berawal dari mempertanyakan penciptaan diri, keluarga, masyarakat dan alam semesta. Awwaluddin ma’rifatullah (agama berawal dengan mengenal Allah), siapa yang ingin mengenal Allah, maka kenalilah diri terlebih dahulu. Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates