Social Icons

Sabtu, 09 Maret 2013

Mati Demi Inter itu Mustahil, Cinta Inter Sampai Mati itu Prinsip : I love Inter Milan



 Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagi gue, ya mungkin kalian tau semua ini adalah tanggal 09 Maret 2013, tepatnya Sabtu sang Ular merayakan hari ulang tahunnya di tahun Ular, dari 1998 gue udah suka sama dia, mungkin saat itu gue masih SD, dan ketika gue ditanya alasan kenapa gue suka sama dia, mungkin klasik ya, karena Inter Milan bisa menjadi Juara dalam final UEFA Cup tahun 1998 di Paris yang dimenangkan Inter dengan 3-0. Kalau saat itu gue ditanya, siapa yang buat gol, gue pasti gak bakalan jawab, karena emang gue gak terlalu hafal pemaen-pemaen Inter Milan saat itu (bahkan sampai sekarang juga deh), tapi apakah itu membuat gue menjadi fans karbitan, gue akui, gak ada istilah karbitan bagi gue, karena gue bener-bener suka, pas sekarang banyak anak muda yang suka sama Barcelona, MU, Milan, Juve, Bahkan Manchester City mungkin karena pas mereka suka bola, klub-klub itulah yang hebat di mata mereka saat itu, dengan melihat pertandingan yang asyik dan klub itu menjadi juaranya, akhirnya kita mereka nge fans sama klub itu, jadi gak bisa kita menyalahkan mereka, kenapa gue ngomong gitu, karena itulha gue, menjadi fans ketika klub itu juara ( dan jujur aja, itu adalah final sepak bola pertama yang gue lihat : Walaupun gak dari awal, walaupun gak sampai selesai, dan walaupun hanya tau cuplikannya saja dan siapa yang menjadi juara : mungkin kalau saat itu Lazio yang menang gue malah sekarang menjadi Laziale, hehehe).
Tapi gue bersyukur dengan takdir Tuhan yang memilih gue menyukai Klub yang bernama Inter Milan,kenapa? karena bagi gue Dia tidak pernah mempunyai kasus yang memalukan, seperti hal nya Milan yang harus terdegradasi pada musim 1979-1980, Di musim ini, Milan sebenarnya tampil tak terlalu buruk. Berstatus sebagai juara bertahan, Rossoneri mengakhiri musim dengan menempati peringkat 3 dengan 36 poin dari 30 pertandingan. Namun skandal pengaturan skor yang dikenal dengan Skandal Totonero memaksa Milan harus turun kasta. Inilah untuk kali pertama Milan bermain di Serie B.
apakah hanya satu kali, jelas tidak, dia udah dua kali masuk Serie B, yaitu pada musim 1981-1982,
Berstatus sebagai tim promosi rupanya membuat Milan belum siap mengarungi Serie A. Mereka bahkan harus kembali terdegrasi ke Serie B karena menempati peringkat 14 dari 16 tim peserta. Milan hanya mengoleksi 24 poin dari 30 pertandingan, dan menjadi musim terburuk sepanjang sejarah Milan.

Musim selanjutnya, Milan kembali promosi dengan status juara Serie B. Sejak saat itu, Milan selalu bertahan di Serie A hingga saat ini.

terus sekarang Bagaimana dengan Juventus?
jadi Ceritanya bermula dari kepergian Sosok Pelatih yang Bernama Marcello Lippi, dia mendapatkan kesempatan untuk menangani Timnas Italia saat itu, kemudian ada Mantan pemain Juventus era 1970-an, Fabia Capello, diangkat menjadi pelatih Juve pada 2004. Ia membawa timnya menjuarai dua musim Seri-A di musim 2004-05 dan 2005-06. Sayangnya, di Mei 2006 Juve ketahuan menjadi salah satu klub Seri-A yang terlibat skandal pengaturan skor bersama  AC Milan, AS Roma, SS Lazio, dan ACF Fiorentina. Juve terkena sanksi berat, dimana mereka terpaksa di degradasi ke seri-B untuk pertama kali dalam sejarah. Dua gelar yang dibawa Capello juga harus direlakan untuk dicabut.

karena persaingan yang ketat antar supporter, banyak yang iri dari para Milanista dan Juventina, mereka mencari-cari celah soal Inter Milan, karena kami para Interista yakin Kalau Inter Milan tercatat sebagai satu-satunya klub Italia yang tak pernah terdegrasi ke Serie B. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Interisti. Inter selalu bermain di kasta teratas Italia.

Namun ternyata, di zaman nenek moyang kita, Inter pernah mengalami fase yang sangat buruk. Tepatnya pada musim 1921-22. Inter berada di posisi juru kunci klasemen grup B (peringkat 12) dengan 11 poin dari 22 pertandingan. La Beneamata hanya mampu 3 kali menang, 5 imbang, dan 14 kali kalah.
Fakta ini tiba-tiba saja menjadi perbincangan bagi Juventina akhir-akhir ini. Mereka menyebut Inter seharusnya terdegradasi, namun tak jadi karena ditolong oleh Federasi Sepakbola Italia (FIGC). Benarkah demikian?
Mengatakan hal tersebut sepertinya tak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di musim 1921-22 terjadi dualisme di Liga Italia. Bisa dikatakan sama dengan kondisi di Indonesia saat ini, di mana terdapat 2 kompetisi, Indonesia Super League (ISL) dan Indonesian Premier League (IPL).

Pada tahun 1921, Inter termasuk salah satu tim yang keluar dari FIGC dan mengikuti liga yang dibentuk oleh C.C.I (Confederazione Calcistica Italiana). C.C.I merupakan organisasi tandingan FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio) yang dibentuk oleh tim-tim yang meminta rencana pengurangan anggota Liga Italia. Sama seperti KPSI di Indonesia sekarang.

Sejak awal, CCI ini tak jelas format degradasi dan promosinya. Sama halnya saat IPL pertama kali dibentuk, tak jelas apakah ada degradasi. Ingat ini liga tandingan. Tak mungkin langsung ada degradasi.

Nah, meskipun Inter berada di peringkat buncit, memang tak ada degradasi saat itu. Liga CCI ini akhirnya bubar dan dibentuk semacam play-off untuk bermain di musim 1922-23 di kompetisi resmi FIGC.

Inter harus mengikuti fase Spareggi (Babak kualifikasi pen-degradasi-an), dan Inter berhasil lolos kembali bermain di kompetisi teratas Italia setelah mengalahkan SC Italia-Milan 2-0 kemudian Libertas Firenze dengan agregat 4-1 (3-0 & 1-1) di kualifikasi Spareggi tersebut. Inter pun berhak bermain di Primera Divisione 1922-23.

Jadi yang patut digarisbawahi di sini Inter tak pernah degradasi. Di musim tersebut ada dualisme, dan memang pada awalnya tak ada format degradasi-promosi.

Sistem yang digunakan saat itu pun bukan Serie A yang kita kenal sekarang. Ada dua wilayah, utara selatan. Lalu tiap wilayah pun ada beberapa grup. Mungkin mirip dengan sistem Perserikatan dan Galatama di Indonesia dulu.

Serie A dengan format degradasi-promosi baru diperkenalkan di musim 1929-30. Ini format profesional dengan sistem satu wilayah. Dan total Inter telah 96 musim bermain di Serie A tanpa pernah merasakan Serie B.

mungkin masih banyak lagi hal-hal yang membuat gue bangga sama Inter Milan, tapi mungkin akan terlalu panjang kalau aku beberkan semuanya di sini.

kalau ada yang nanya, siapa pemaen favorit gue di Inter Milan, ok gue bakalan Jawab, dia adalah Alvaro Recoba, gak tau kenapa juga gue suka banget sama dia, kalau ada yang nanya posisi dia apa, mungkin gue bakalan searching dulu di google, tapi pokoknya gue suka sama dia, salah satu dari dia yang gue suka adalah larinya yang kenceng dan tendangan bebasnya, hehehehe

Alvaro Recoba sang Burung Unta
dan pemain kedua yang gue suka adalah si Ganteng Kalem : Wesley Sneijder. kenapa gue suka sama dia, disamping dia maennya keren, tanggal lahir dia sama Gue sama cuman beda tahunnya aja kalau dia 09 Juni 1984, kalau Pandu Rahayu (Gue) 09 Juni 1989


Yang Lahir Tanggal 09 Juni pasti Tampan ya


suka duka gue sebagai interista tidak sedikit, ok semenjak kemenangan Inter di Piala eropa 1998 itu, mungkin gue jarang banget melihat kembali Inter menjadi juara, mungkin sebelum 2008 Inter udah dapet Piala serie-A, tapi gue akui itu kurang berkesan bagi gue, karena bagi gue piala Inter yang paling berkesan adalah saat inter menjadi juara pada tahun 2008, tepat ketika Inter Milan genap berusia 100th, dan gue termasuk fans yang sangat menggilai jersey away pada tahun itu, karena bagi gue jersey away centenary itu punya filosopi tersendiri, dan bahkan gue sampai punya dua jersey itu, hehhe (sombong)


Jersey Favorit Gue
semua orang pastinya punya momment berarti ketika seseorang itu mencintai sesuatu, ok yang dari 1998 gue suka Inter, 2008 Gue sayang sama Inter, dan 2010 gue semakin mencintai dan bahkan sampai menggilai Inter Milan, tapi momment yang paling berkesan bagi gue bukanlah momment ketika Inter Milan menjadi Treble Maker pada tahun 2010



Trbele Maker 2010 : sekaligus menobatkan diri sebagai Tim Italia pertama yang Menjuari 3 laga dalam satu Musim


Actor Treble Maker : Opa Mourinho dan Opa Moratti


Foto favorit gue


dan Momment terindah gue bersama Inter adalah ketika mereka datang ke Negara Gue : Indonesia.
ya mereka datang kesini, membawa piala treble mereka, gue bisa langsung bertemu dengan kapten gue, jujur aja, ini adalah pengalaman pertama gue nonton Pertandingan sebuah Klub di Stadion secara langsung,
dan gue bangga 1st Momment gue, gue alami dengan sang tersayang : La Beneamata : Inter Milan


Dua Pertandingan gue saksikan langsung dengan mata kepala gue sendiri
 

disana gue bener-bener exited banget, ketemu dengan saudara-saudara baru, pokoknya semuanya deh, dan yang paling berkesan adalah saat gue melihat langsung senyuman terindah dari kapten Gue : Javier Zanetti 4

I Love You Capt.
masih inget gue ketika dia melambaikan tangan tanda dia mau pulang dari Indonesia, tangis gue mengalir gitu aja, terimakasih Kapten, : kelak ketika kamu pensiun, kau akan tetap ada ingatan kami, kau akan selalu menjadi bagian dalam hidup kami, : tanpamu kami bisa, denganmu kami sempurna.



Mejeng dengan gaya khas Gue di Depan Pintu Inter Museum
.com/watch?v=Z8HAS6pGRYc

Hasil Akhir Pertandingan Pertama Inter di InterTour2012





foto bersama piala kebanggan

sebagai Interista Sejati, rasanya gak afdol, kalau gak daftar di booth ini
masih banyak kebanggann gue buat Inter Milan, pokoknya apapun kondisinya, gue tetap Interista, hari ini tepat Sang Tersayang, Si Ular Besar, Si Treble Maker, Si DNA Serie-A, si Pemilik Gelar : "Scudetto of Honesty" (juara dari kejujuran), dan masih banyak lagi nama kebanggan untukmu, dan aku akan selalu menyanyikan lagu kebangsaan Kita : C'e solo l'Inter (hanya ada Inter satu-satunya).
selamat ulang Tahun sayang, aku mencintaimu, dan semua orang tahu itu.


Happy 105th Interku sayang






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates