Hari ini seperti biasa dari tahun ke tahun, kalau kita masuk ke Mall yang gede gede udah berasa kita lagi di Shanghai, semua dominan merah.
Kalau kita lihat kalender juga hari ini juga hari merah, bukan karena ini hari Minggu, tapi ya hari ini emang hari libur. Tapi saya jujur, saya fokus bukan ke sebab kenapa hari ini merah dan itu berarti libur, saya fokus ke Tanggal yang ada di kalender hari ini.
Yap, hari ini adalah tanggal 28 Januari 2017, dimana tanggal ini saya resmi menjadi seorang ayah, ayah yang saat itu belum punya kebanggaan apapun yang bisa dilihatkan ke anak pertamanya.
Hari ini, anak itu sudah berumur empat tahun, saya bahagia saat pertama kali melihat wajahnya, tapi saat itu juga hati saya menjerit, karena bagi yang tau kondisi saya saat itu begitu tidak layak untuk dibanggakan.
Anak itu sudah empat tahun bersama saya, anak yang baik, anak yang sangat butuh akan kasih sayang, tapi kasih sayang itu mungkin terasa kurang bagi dirinya.
Selalu menetes air mata ini kalau ingat akan dirinya.
Awal kelahiran dia, anak itu saya panggil dengan panggilan Autar, tapi para tetangga manggil dia dengan sebutan Rama, dua bulan dari itu kami ganti memanggil dia dengan Alky.
Masih inget pertama kali dia nangis, masih ingat pertama kali dia dimandikan, masih ingat pertama kali dia datang ke rumah.
Saat itu, dirumah yang kami tinggali belum ada apa-apa, hiburan saya dan istri saya hanya bercanda tawa saja ngobrol yang seru-seru. Tapi dengan kedatangan dia, rumah ini jadi lebih hangat, walau dia gak rewel, walau dia selalu anteng dengan tidurnya, walau Rumah selalu sepi karena itu, tapi bagi kami dia tetap hiburan kami.
Allah menghibur kami dengan adanya dia.
Hari ini di usianya yang ke empat, dia sudah punya dua adik, saya liat cemburunya dia pada dua adiknya, saya liat rindunya dia dengan pelukan ayah dan bundanya, dia udah berani tidur sendiri di kamarnya, walau terkadang di tengah malam dia terbangun dan datang ke kamar saya, di mana di kamar itu ada saya, istri saya dan dua adiknya.
Sekarang dia udah berani main sendiri ke luar rumah, sekarang dia udah bisa bergaul dengan teman-temannya, baik itu di depan rumah atau pergi berkeliling mengitari kampung.
"Abang", ya itulah panggilan dia sekarang, semua orang sekarang manggil dia abang.
Ayah sayang abang, abang yang sabar ya.
Nanti kalau abang udah gede, abang yang bakalan gantiin ayah jagain bunda dan adik-adik.
Maaf ya, ayah ngasih beban yang banyak buat abang. Sekarang abang udah empat tahun, kelak kalau abang udah bisa baca, dan abang baca tulisan ayah ini, maafin ayah ya, karena emang begini kondisi kita sekarang. Bahkan kondisi pas awal abang lahir, tapi terimakasih ya, adanya abang, jadi penguat buat ayah dan bunda.
Saat ini ayah sedang ikut pelatihan IB, Insha Allah nanti ilmunya ayah share ke abang, ayah yakin abang akan cepat bisa, abang kan orangnya pinter, maaf ya, gak ada lagi hadiah ulang tahunnya, tapi yang jelas, ayah bakalan terus berusaha bahagiain abang.
Ayah masih inget, ketika ayah berdoa, abang dateng ke ayah dan nangis, karena saat itu ayah juga sedang nangis, abang gak tega kalau liat ayah nangis. Sampai-sampai abang nyuruh ayah berhenti dari doa ayah, bukan karena do'a itu yang buat abang ngeberhentiin ayah berdoa4, tapi karena ayah sedang nangis.
Malam itu abang langsung peluk ayah, dan abang bilang "abang, sayang ayah".
Sejak itu sampai sekarang setiap abis sholat, abang selalu datang pada ayah, dan meluk ayah, kemudian bilang, abang sayang ayah.
Sekali lagi, terimakasih nak, ayah sayang abang.
Allah selalu menjaga abang, Insha Allah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar