Untuk Indonesia, Saya Ingin Lapor
============================
Selamat kapan saja dan di mana saja. Ini ditulis oleh satu dari 237.556.363 pendudukmu, yang bermukim tepat di atas satu dari 13.466 pulau-pulaumu. Semoga kamu baik-baik saja disana meski semua orang tahu itu mustahil.
Saya ingin lapor.
Di atas negeri yang tersohor Bhinneka tunggal ika ini, masih banyak orang berkelahi di atas perbedaan. Memuja-muja kebebasan tapi berselisih atas nama ketidaksamaan. Dan perdebatan perihal perkara-perkara kecil ini membuat kita semua buta akan kehidupan yang jauh lebih besar di hadapan. Mengapa berbeda menjadi begitu menakutkan?
Di atas negeri yang pernah dijajah enam bangsa ini, Soekarno pernah sekali berkata "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." Itu tersampaikan lewat rapat-rapat yang ricuh, demonstrasi berdarah, desa yang memburu desa tetangga, polisi dan KPK yang berselisih, dan banyak lagi yang mampu kamu saksikan sendiri. Apakah bangsa ini predator yang mengaku satu tapi saling menyakiti?
Di atas negeri yang pernah dibawa Gajah Mada menuju Zaman Keemasan, apakah zaman ini telah berkarat? Tidak ada lagi gemilang maritim dari Sriwijaya. Tidak ada lagi melesatnya karya sastra di masa Kerajaan Kediri. Tidak ada lagi kuatnya hukum pada kekuasaan Ratu Sima. Tidak ada lagi perkembangan berbasis agrikultur pada wangsa Syailendra dan Sanjaya.
Di atas negeri yang mengorbankan segala-galanya. Penduduknya pernah diwarnai luka-luka akibat cultuurstelstel, merobek bidang biru pada bendera Belanda, memperjuangkan satu proklamasi, dikirimi agresi militer agar kemerdekaannya mampu direbut kembali, mengalami gelombang pemerintahan yang tidak pernah stabil, hingga pembantaian yang menyebabkan banyak nyawa melayang sia-sia.
Setelah semua yang pernah terjadi, pernahkah kamu mendengar orang berkata Aku beruntung negeri ini merdeka?
Di atas negeri yang terbentang dari 6°LU - 11°08'LS dan 95°'BT - 141°45'BT ini, ada banyak tanah untuk tinggal. Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatera dengan luas 473.606 km², Kalimantan dengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Namun, masih banyak penduduk yang tidak punya rumah untuk tempat pulang.
Di atas negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, sumber daya alam melimpah ruah. Meliputi minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak. Tapi lahan-lahan ini dikuasai asing dan uang-uang mengalir ke dompet mereka yang gemuk. Pajak-pajak dan dana raib ke tangan kotor koruptor. Sementara 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari.
Di atas negeri yang ditinggali oleh lebih dari 300 suku bangsa dan memiliki 600 bahasa daerah, masihkah kebudayaan asli dipegang teguh? Mulai dari wayang kulit, seudati, ratéb meuseukat, gurindam, songket, ulos, gamelan, sasando, dan warisan-warisan lain yang patut dijaga eksistensinya. Mengapa harus terus menerus menengok harta tetangga jika kita memiliki segalanya yang belum tentu mereka punyai?
Di atas negeri yang mendapat gelar Mega Biodiversity, 10 % tumbuhan, 12 % mamalia, 16 % reptil, 17 % burung dan 25 % ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia. Padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Bumi. Tapi yang terjadi hanyalah tragedi, 1.800.000 hektar hutan rusak setiap tahunnya. Kemana lagi flora dan fauna harus tinggal?
Di atas negeri yang mengharuskan pemerintah pusat maupun daerah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD, diluar gaji pendidik dan biaya kedinasan. Alokasi yang disediakan baru sekitar 17.2 %, jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara Malaysia, Thailand dan Filipina yang telah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan lebih dari 28 %. Dan pengajaran Karakter Bangsa hanya basa-basi belaka.
Siswa mengejar nilai, bukan ilmu. Dicekoki kurikulum dan batas nilai berupa angka. Inikah pendidikan? Inikah kebebasan? Inikah keikhlasan mencari ilmu? Inikah keharusan menjadi pintar? Inikah pengkotak-kotakkan bakat manusia? Inikah penilaian yang hanya dirangkum lewat dua digit angka?
Di atas negeri yang pernah mengucap Sumpah Pemuda. Kini pemuda-pemuda itu telah terpecah menjadi dua kubu besar. Yang ingin berjuang dan yang berpasrah diri. Yang giat belajar dan yang menghabiskan waktu dengan hal sia-sia. Yang mengejar cita-cita dan yang mengejar kebodohan. Yang mau maju dan yang hanya bisa mengeluh tanpa berusaha mengubah.
Marilah kita berdoa semoga golongan pertama tidak lebih sedikit daripada golongan dua.
Di atas negeri yang berwadahkan trias politika, tiga lembaga bersahut-sahutan menyampaikan pendapat. Menjadi ladang mencari uang dan kekuasaan hingga lupa bahwa politik adalah pengabdian. Bekerja demi sesama, demi masyarakat, demi Sabang hingga Merauke. Kini lahirlah pencitraan bahwa politik itu kotor. Padahal sebetulnya putih, bersih, murni, bermodalkan nurani. Semata-mata karena ingin orang lain bahagia. Masih adakah orang yang memaknai itu kini?
Tapi jangan khawatir, di atas negeri yang dihujat dan digerogoti dunia, bahkan oleh warganya sendiri ini...
Saya ingin lapor bahwa saya masih ada.
Semoga kasih sayang masih jauh lebih banyak dibandingkan peperangan.
Semoga orang baik tidak sedikit, mereka hanya diam, dan kelak berani bicara kebenaran.
Semoga kejujuran dan keadilan akan menjadi juara pada saatnya digiring oleh orang-orang yang berani.
Semoga meskipun pejuang tidak banyak, tapi kuatnya bisa kita percayai.
Semoga akan lebih banyak tangan yang menyalakan lilin daripada terus menerus mengutuk kegelapan.
Mungkin suatu hari nanti Garuda tak hanya diam. Tapi terbang jauh, mengudara ke langit tertinggi.
Karena disanalah tempat yang pantas untuk kita singgahi.
Maka sungguh teman-teman, perubahan Indonesia tidak akan terjadi, tidak akan kemana-mana. Selama hati para pemudanya tidak percaya, selama tidak ada sinergi di antara kita.
Indonesia! Dengan bangga aku katakan, aku masih ada!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar