Social Icons

Selasa, 06 November 2012

Pembudidayaan Kambing Peranakan Etawa

ok, postingan nyata saya yang pertama adalah soal Kambing Peranakan Etawa, kenapa saya memilih ini untuk menjadi postingan pertama saya, tidak perlu saya jelaskan disini, kita coba aja dulu baca tentang apa saja yang menjadi daya unggul si Kambing Pernakan Etawa ini :



1. Sejarah Masuknya Kambing Etawa ke Indonesia
Kambing merupakan hewan ruminansia yangh sudah di domestikasi sejak 7000 tahun lalu setelah anjing, kuda dan domba. Kambing berasal dari daerah Asia Barat dan Persia, dan mulai dibudidayakan sejak tahhun 7000 – 8000 SM. Dalam perkembangannya kambing hasil domestikasi ini menyebar ke berbagai pelosok dan beradaptasi menghasilkan nilai fungsional berbeda – beda yaitu ada yang cocok sebagai kambing pedaging, kambing penghasil susu, diambil bulunya maupun kambing penghasil susu sekaligus daging.
Dari hasil adaptasi ini muncullah berbagai species dan karakter spesifik di berbagai daerah, hasilnya kambing Etawa dari Jamnapari India, kambing Apin dari pegunungan Alpen di Swiss, kambing Saanen dari Swiss, kambing Anglo Nubian dari Nubian timur laut Afrika, kambing Beetel dari Rawalpindi dan Lahore, Pakistan serta di Punjab, India. Namun demikian dari banyaknya jenis kambing yang ada di dunia kambing Etawa dari India adalah yang paling terkenal, hal ini disebabkan karena kambing Etawa merupakan kambing unggul dwiguna yang sangat potensial sebagai penghasil daging dan susu.
Kambing Etawa, masuk ke Indonesia pertama kali di bawa oleh orang Belanda pada tahun 1920-an, orang Belanda tersebut membawa banyak kambing Etawa pertama kali ke Pulau Jawa, tepatnya di Jogyakarta. Kambing ini lebih terkenal sebagai kambing perah / penghasil susu, dimana saat itu kambing ini di sebut dengan kambing Benggala / kambing Jamnapari sesuai dengan asalnya di India. Selanjutnya kambing Etawa ini dikembangbiakkan di daerah perbukitan Menoreh sebelah barat Jogyakarta dan di Kaligesing, Purworejo. Seiring dengan perjalanan waktu terjadilah perkawinan silang antara kambing Etawa dengan kambing lokal, ( seperti kambing Jawarandu atau kambing Kacang,) dan ternyata keturunan yang dihasilkan lebih bagus daripada kambing lokal. Keturunan hasil persilangan kambing Etawa dengan kambing Jawarandu atau kambing Kacang oleh masyarakat disebut keturunan Etawa atau Peranakan Etawa. Terkenal dengan sebutan kambing Peranakan Etawa. Daerah Kaligesing di Purworejo, Jawa Tengah hingga saat ini merupakan daerah sentra utama peternakan kambing Peranakan Etawa, karena daerah ini berhawa dingin dan memiliki potensi hijauan melimpah sehingga sangat cocok untuk kambing Peranakan Etawa, jika membicarakan kambing Peranakan Etawa, sebagian besar masyarakat langsung teringat daerah ini, sehingga tidak salah jika kambing Peranakan Etawa menjadi trademark daerah Kaligesing.
Sebagai kambing unggul dwiguna yang potensial kambing Etawa menyebar di beberapa negara dan banyak digunakan untuk memperbaiki kualitas kambing lokal, dengan cara mengawinkan kambing Etawa dengan kambing lokal seperti yang ada di Kaligesing. Namun hingga tahun 2008, populasi kambing Peranakan Etawa terbesar tetap berada di Indonesia. Sentra pengembangan kambing Peranakan Etawa selain di Kaligesing, adalah di Jogyakarta (Bantul, Sleman, Gunungkidul, Kulonprogo) di Jawa Timur (Tulungagung , Blitar, dan Malang), di Jawa Tengah (Pati, Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, Wonosobo dan Jepara) di Jawa Barat (Bogor, Bandung dan Sukabumi) serta Palembang dan Lampung. Namun demikian sentra kambing Peranakan Etawa terbesar selain Kaligesing adalah Bantul dan Sleman. Kedua sentra ini merupakan penghasil susu kambing yang cukup besar, sekaligus tujuan para peternak dan calon peternak untuk mendapatkan bibit Kambing Peranakan Etawa

2. Keunggulan Kambing Etawa
Berbagai penyebab menyerbarnya kambing PE ke berbagai daerah adalah kebutuhan masyarakat terhadap susu kambing untuk pengobatan, digunakan sebagai pejantan untuk memperbaiki kualitas kambing lokal pedaging, dan sebagai kambing hias atau kontes yang memiliki nilai jual tinggi.
Beternak kambing PE lebih menguntungkan bila dibanding dengan memelihara kambing lokal / domba.
Beberapa nilai ekonomis dari berternak kambing PE antara lain :


a.    Penghasil Susu
Di Indonesia susu kambing dikonsumsi sebagai obat alternatif, bukan sebagai pelengkap gizi. Umumnya, orang mengonsumsi susu ini untuk membantu penyembuhan penyakit asma, tuberkolosis ( TBC ), eksim, membantu penyehatan kulit, mencegah penuaan dini dan mencegah osteoporosis. Pada masa laktasi kambing Peranakan Etawa mampu menghasilkan 0,8 – 2,5 liter susu perhari, dengan harga jual antara Rp 20.000 – 25.000 per liter.
Sebagai gambaran jika seorang peternak memelihara 7 -10 ekor, diperkirakan yang laktasi 5 ekor dan rata-rata menghasilkan 1 liter per hari, maka penghasilan peternak tersebut setiap hari adalah sekitar 5 liter susu dengan harga rata-rata Rp. 20.000 perliter, maka pendapatan peternak tersebut adalah sekitar Rp 100.000,-/hari.
b.   Penghasil Daging
Selain menghasilkan susu, kambing Peranakan Etawa juga potensial sebagai penghasil daging. Sehingga pejantan kambing Peranakan Etawa, banyak digunakan oleh peternak untuk memperbaiki kualitas kambing lokal pedaging. Karena perkawinan silang ini menghasilkan kambing dengan sosok badan lebih besar layaknya kambing Peranakan Etawa.
c.    Penghasil Pupuk dan kulit
Kotoran kambing Peranakan Etawa dapat digunakan sebagai pupuk organik, sedangkan kulitnya karena mempunyai ukuran yang lebih besar daripada kulit kambing lokal, maka kulit kambing Peranakan Etawa banyak di cari orang untuk digunakan sebagai bahan kerajinan kulit.
d.   Sebagai Sumber Pendapatan
Beternak kambing Peranakan Etawa, dapat digunakan sebagai sumber pendapatan alternatif di pedesaan yang sangat menjanjikan bila ditekuni secara serius, biaya yang di keluarkan untuk pembuatan kandang dan biaya perawatan relatif sama bila di bandingkan dengan biaya memelihara kambing lokal.
Sebagai gambaran dalam memelihara kambing Peranakan Etawa adalah sebagai berikut :
Seandainya pada awal usaha kita memelihara 5 ekor betina dan 1 ekor kambing pejantan, maka dalam waktu 7 bulan, ternak kita akan bertambah 5 ekor anak (perhitungannya 1 ekor induk minimal beranak 1 ekor, padahal biasanya 1 ekor induk melahirkan 2 atau 3 ekor anak). Dengan demikian setiap 8 bulan berikutnya induk akan kembali melahirkan, sementara anakan pertama semakin besar dan mulai bunting.
Dengan gambaran diatas, beternak kambing Peranakan Etawa dapat digunakan sebagai sumber pendapatan dari penjualan anakan karena harganya cukup tinggi maupun sebagai penghasil susu. Disamping itu, bila kita memelihara pejantan kambing Peranakan Etawa kualitas (great A), maka penghasilan akan bertambah dari banyaknya peternak yang ingin mengawinkan induknya. (biaya mengawinkan kambing betina dengan pejantan unggulan berkisar Rp. 250.000 – 300.000 per kali perkawinan).
Adapun keunggulan lain dari Kambing Peranakan Etawa, adalah karena sosok dan penampilannya, membuat kambing ini layak sebagai hewan Kebanggaan. Bahkan pada awal tahun 2000, marak diadakan kontes kambing Peranakan Etawa. Maraknya kontes kambing Peranakan Etawa di berbagai daerah, memberi dampak positif pada munculnya beberapa kategori atau kelas pada kambing Peranakan Etawa. Misalnya kelas pejantan, kelas calon pejantan, kelas induk, dan kelas calon induk. Selain itu dengan adanya kontes ini seakan membangkitkan kembali roh peternakan kambing Peranakan Etawa, mengenalkan potensi kambing Peranakan Etawa pada masyarakat, meningkatkan pendapatan peternak, meningkatkan minat beternak dan meningkatkan kunjungan wisata. Namun demikian, disinyalir pada akhir-akhir ini diperkirakan sekitar 500 – 1000 ekor per tahun Kambing Peranakan Etawa kualitas A, banyak dikirim keluar dari Jawa Tengah terutama dikirim ke Malaysia. Dengan adanya upaya-upaya pengiriman kambing Peranakan Etawa kualitas A keluar Jawa Tengah, akan memberi dampak yang kurang baik bagi kualitas / keturunan kambing Peranakan Etawa pada masa yang akan datang. Oleh karena itu upaya penghentian pengiriman kambing Peranakan Etawa kualitas A, perlu segera dilakukan dan memberi sanksi yang tegas bagi pelaku. Mengingat Kambing Peranakan Etawa merupakan ternak asli Jawa Tengah, sehingga upaya untuk menjaga kelestarian dan kemurnian genetik ternak tersebut menjadi kewajiban dan tanggung jawab moral kita bersama.

3. Sistem Perkandangan
Kandang di Peternakan Kambing Etawa memiliki beberapa fungsi. Ada yang digunakan sebagai kandang pejantan, kandang induk, kandang pembesaran, dan kandang isolasi atau karantina untuk ternak yang sakit.
Untuk investasi jangka panjang, baik untuk memelihara kambing etawa, kandang harus memenuhi beberapa persyaratan teknis sebagai berikut ;
1)   Konstruksinya kuat dan tahan lama.
2)   Terbuat dari bahan ekonomis yang mudah didapat dan harganya terjangkau.
3)   Memiliki sirkulasi udara dan cahaya matahari yang bagus.
4)   Memiliki drainase dan system pembuangan limbah yang memadai.
5)   Lantai kandang rata, tidak licin, tidak terlalu kasar, mudah kering, dan tahan terhadap pijakan kambing.
6)   Jarak antar kayu atau bambu untuk lantai proporsional (sekitar 1cm) sehingga kotoran dapat langsung jatuh tetapi tidak membuat kaki kambing terperosok atau terjepit.
7)   Tidak menggunakan atap seng atau fiber karena menimbulkan suara gaduh saat hujan sehingga membuat kambing stress. Atap seng dan fiber juga membuat kandang panas pada siang hari sehingga mengurangi kenyamanan kambing. Atap sebaiknya menggunakan genting yang terbuat dari tanah atau asbes.
8)   Luas kandang sesuai dengan populasi kambing.
9)   Memiliki kandang isolasi yang terpisah dari kandang lain.
10)  Tidak mengganggu dan mencemari lingkungan dengan polusi udara dan suara.
 
4. Pemeliharaan Kambing Etawa
1)   Memelihara Bakalan
Pemeliharaan bakalan induk kambing etawa biasanya dilakukan sejak kambing betina lepas sapih atau umurnya mencapai 4-5 bulan. Pemeliharaan sejak lepas sapih ini membutuhkan waktu yang cukup lama hingga kambing beranak. Kebiasaan peternak, kambing dikawinkan ketika berumur sekitar 16-18 bulan. Dengan masa kebuntingan 150 hari (sekitar lima bulan), kambing akan mulai berproduksi pada umur 21-23 bulan. Jika diperhitungkan, pemeliharaan sejak bakalan sampai masa produksi membutuhkan waktu sekitar 18 bulan. 
 2)   Memelihara Kambing Dara
Kambing disebut dalam periode dara jika sudah mengalami siklus birahi. Sebenarnya saat itu kambing sudah bisa dikawinkan, tetapi kondisi tubuhnya belum sepenuhnya mampu menunjang proses pertumbuhan janin di dalam kandungannya. Demikian juga proses pertumbuhan ambing untuk produksi susu. Karena itu, dibutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan. Setelah mengalami dua atau tiga kali siklus birahi maka kambing bisa di kawinkan. Jika tidak terjadi kebuntingan, perkawinan bisa diulangi pada periode birahi berikutnya. Jika terjadi kebuntingan, kambing akan beranak setalah lima bulan (150 hari).

 
5. Kebutuhan dan Pemberian Pakan
Sebagai hewan hebivora, kebutuhan pakan utama kambing adalah hijauan. Kambing biasanya membutuhkan hijauan sekitar 10% dari berat hidupnya. Kambing etawa dengan berat 30kg harus mengonsumsi hijauan sekitar 3kg/hari. Namun, jumlah pakan yang diberikan harus melebihi jumlah minimal. Pasalnya, ada bagian pakan yang tidak akan dikonsumsi. Misalnya batang atau daun tua.
Beberapa hijauan yang bisa diberikan untuk pakan kambing adalah daun nangka, kaliandra, mahoni, singkong (Manihot Utillisima), ubi jalar (Ipomea Batatas), dan rumput gajah.
Hijauan yang diberikan sebaiknya tidak hanya satu jenis, tetapi dicampur. Selain untuk menyeimbangkan asupan gizi juga menghindari kambing bosan.
Hijauan bisa diberikan utuh yang diletakkan ditempat pakan atau digantung. Bisa juga dicincang terlebih dahulu. Agar efektif, hijauan diberikan sedikit demi sedikit beberapa kali. Misalnya 2-3 kali dalam sehari. Cara ini lebih baik daripada membersihkan hijauan sekaligus dalam jumlah banyak..
Selain hijauan segar, kambing memerlukan jenis pakan lain untuk melengkapi kebutuhan nutrsinya. Fungsinya untuk memenuhi kebutuhan protein, vitamin, dan mineral yang tidak di dapat dari hijauan.
Pakan tambahan yang bisa diberikan adalah ampas tahu,bekatul (kulit ari padi), bungkil kedelai,dan bungkil jagung.
Selain pakan hijauan dan tambahan, kambing juga membutuhkan air setiap hari. Kebutuhan normal minum kambing adalah 1-2 liter/hari. Air harus disediakan setiap saat. Kekurangan air dapat menyebabkan dehidrasi dan memengaruhi pertumbuhan.
Kebutuhan air pada kambing etawa muda lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan air kambing etawa tua.
Sebagian asupan air berasal dari hijauan. Selebihnya harus disediakan dalam bentuk air minum. Amannya, air selalu tersedia di tempat minum di kandang. Air yang diberikan harus bersih. Bisa menggunakan sumur atau air PAM yang sudah diendapkan agar kandungan kaporitnya tidak terbawa.

 
6.   Pemerahan Susu
Selain dijual dalam bentuk segar, sama halnya dengan susu sapi, susu kambing bisa diolah menjadi berbagai produk lain, misalnya yoghurt, keju, dan mentega. Berbagai alternatif lain, misalnya upaya mengalengkan susu kambing, sebenarnya bisa dilakukan agar umur produk bisa bertambah lama.
Komposisi kimia susu kambing lebih putih daripda susu sapi karena susu kambing tidak mengandung karoten. Khasiat susu kambing antara lain untuk terapi penyakit TBC, membantu memulihkan kondisi orang yang baru sembuh dari suatu penyakit, dan mampu mengontrol kadar kolestrol dalam darah selain itu susu kambing juga bisa digunaka untuk anak-anak yang menderita penyakit eksim (gatal di kulit).
Susu kambing secara umum tidak berbeda dengan susu sapi atau air susu ibu (ASI). Perbedaannya terletak pada presentasi kandungannya saja. Butiran lemak susu kambing berukuruan antara 1-10 milimikron sama dengan susu sapi. Namun, jumlah butiran lemak yang berdiameter kecil dan homogen lebih banyak terdapat pada susu kambing, sehingga susu kambing lebih mudah dicerna alat pencernaan manusia, serta tidak menimbulkan diare pada orang yang mengomsumsinya.
Secara fisik, perbedaan antara susu sapi dan susu kambing terlihat lebih nyata, yaitu warna susu. Beberapa pakar penyakit kulit juga menganjurkan pasiennya agar mengonsumsi susu kambing untuk meningkatkan kesehatan kulit, terutama bagian wajah. Kandungan gizi dalam susu kambing dapat meningkatkan pertumbuhan bayi dan anak-anak serta membantu menjaga keseimbangan proses metabolisme, mendukung pertumbuhan tulang dan gigi, serta membantu pembentukan sel-sel darah dan jaringan tubuh. Susu kambing juga baik diberikan kepada wanita dewasa untuk mengembalikan zat besi stelah haid, kekurangan darah (anemia), kehamilan, serta perdarahan setelah melahirkan (perdarahan Postpartum). Selain itu, kandungan berbagai mineral dalam susu kambing memperlambat osteoporosis atau kerapuhan tulang.

a.   Kandungan Susu Kambing
Hasil penelitian United States Department of Agriculture (USDA) tentang perbandingan komposisi kimia antara susu sapi, kambing, dan air susu ibu (ASI) dapat dilihat dalam Table1 berikut ini:
Tabel 4.13
Perbandingan komposisi kimia antara susu sapi, susu kambing, dan air susu ibu (ASI)

Komposisi Kimia
Susu Sapi
Susu Kambing
Air Susu Ibu
Protein (g)
3,3
3,6
1,0
Lemak (g)
3,3
4,2
4,4
Karbohidrat (g)
4,7
4,5
6,9
Kalori (kal)
61
69
70
Fosfor (g)
93
111
14
Kalsium (g)
19
134
32
Magnesium (g)
13
14
3
Besi (g)
0,05
0,05
0,03
Natrium (g)
49
50
17
Kalium (g)
152
204
51
Vitamin A (IU)
126
185
241
Thiamin (mg)
0,04
0,05
0,014
Riboflavin (mg)
0,16
0,14
0,04
Niacin (mg)
0,08
0,28
0,18
Vitamin B6 (mg)
0,04
0,05
0,01
Sumber : USDA, 1976.

b.   Faktor yang Membedakan Kuantitas dan Komposisi Susu Kambing
Adanya beberapa perbedaan komposisi kimia tidak hanya terdapat pada ketiga jenis susu tersebut, tetapi juga terjadi pada susu kambing yang dihasilkan oleh kambing yang berbeda. Hal ini bisa dimengerti karena begitu banyak faktor pengontrol susu, baik kualitas maupun kuantitasnya. Diantaranya adalah :
1)   Variasi Antarjenis Kambing
Di dunia ini, berkembang aneka jenis kambing dengan karakteristik yang berbeda. Misalnya, kambing kacang sebagai kambing potong, kambing etawa sebagai kambing tipe dwiguna, kambing toggenburg, sebagai penghasil susu yang baik, atau kambing angora sebagai penghasil kulit bulu berkualitas tinggi. Di antara jenis kambing tipe perah pun terdapat variasi dalam jumlah produksi susunya.
2)   Variasi Interjenis Kambing
Setiap individu dari jenis yang sama memiliki variasi dalam jumlah susu yang dihasilkan. Jenis yang sama, pada umur dan masa laktasi yang berbeda akan memiliki jumlah produksi susu yang berbeda.
3)   Faktor Genetik
Faktor genetik adalah faktor yang diturunkan oleh induk kepada keturunannya. Setiap induk betina atau pejantan memiliki sumbangan yang sama terhadap penampilan produksi keturunannya. Sampai saat ini belum dapat diungkapkan berapa banyak gen yang bekerja mengontrol tingkat produksi susu.
Hampir bisa dipastikan, jika seekor kambing memiliki produksi susu yang tinggi kemudian dikawinkan dengan pejantan yang memiliki induk betina yang juga tinggi produksinya, kemungkinan besar keturunan yang berkelamin betina akan memiliki tingkat produksi yang tinggi pula. Namun, ilmu genetika tidak sesederhana itu. Selalu ada penyimpangan yang terjadi dan apa yang diinginkan tidak pasti selamanya terjadi.
4)   Musim
Hasil penelitian di luar negeri menunjukan bahwa kambing-kambing yang beranak pada musim gugur memiliki tingkat produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kambing-kambing yang beranak pada musim panas. Untuk kondisi di Indonesia, belum banyak dilakukan penelitian, karena perkembangan usaha peternakan kambing perah belum begitu berkembang.
5)   Umur
Produksi susu kambing umumnya meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Produktivitas mencapai puncaknya ketika kambing berumur 5 - 7 tahun, yakni pada masa laktasi ke-3 atau ke-5. Selanjutnya produksi susu menurun. Untuk kambing-kambing perah yang hidup di daerah subtropik, tingkat produksi susu akan memuncak setahun lebih dahulu, dan dapat terus dipertahankan tanpa ada perubahan yang mencolok selama 2 atau 3 kali masa laktasi.
6)   Lama Masa Laktasi
Dalam satu jenis kambing, perbedaan lama masa laktasi akan menyebabkan perbedaan jumlah total produksi susu selama masa laktasi tersebut. Semakin lama masa laktasi, tidak berarti akan semakin tinggi keuntungan yang akan diraih peternak, karena belum tentu produksi hariannya mampu menutup biaya produksi.
7)   Faktor Perawatan dan Perlakuan
Kambing perah, seperti juga hewan ternak yang lain, membutuhkan suasana kandang yang nyaman untuk dapat berproduksi secara optimal. Kandang yang sejuk, tidak gaduh, dan perlakuan yang tidak kasar merupakan syarat agar produksi susu kambing optimal. Sebagai contoh dalam kandang yang gaduh, kambing yang sedang laktasi akan mudah terkejut, dan saat terkejut itu tubuhnya mengeluarkan hormone adrenaline yang mengakibatkan terhambat atau terhentinya sekresi hormon oxytocin yang berfungsi dalam produksi susu kelenjar kambing.
8)      Pengaruh Masa Birahi dan Kebuntingan
Kambing-kambing yang dikawinkan kembali setelah tiga bulan beranak, tingkat produksi susunya akan lebih cepat menurun dibandingkan dengan kambing-kambing yang sedang laktasi, tetapi tidak bunting. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kurangnya kuantitas dan kualitas pakan yang dikonsumsi, serta tingginya kebutuhan kambing akan zat-zat makanan untuk mendukung proses fisiologis di dalam tubuhnya, misalnya untuk hidup pokok, produksi susu, serta pertumbuhan janin.
Pada saat musim birahi (estrus), kambing perah yang sedang laktasi akan mengalami penurunan produksi susu sebagai reaksi dari berbagai proses hormonal di dalam tubuhnya, tetapi setelah masa birahi terlewati, produksi susunya akan normal kembali.
9)      Frekuensi Pemerahan
Berdasarkan beberapa hasil penelitian luar negeri, kambing perah yang diperah dua kali sehari, total produksi susunya lebih tinggi daripada kambing perah yang diperah sekali sehari. Meskipun demikian, tidak selalu total produksi yang lebih tinggi tersebut memberikan keuntungan yang lebih tinggi kepada peternak, karena untuk melakukan pemerahan dibutuhkan biaya, misalnya untuk menggaji pemerah. Jadi, meskipun tingkat produksi susu meningkat dengan menambah frekuensi pemerahan, perhitungan ekonomi harus dilakukan secara matang.
10)   Jumlah Anak dalam Sekali Melahirkan
Produksi susu kambing perah yang beranak dua ekor dalam satu kali melahirkan, biasanya 20 - 30% lebih tinggi daripada kambing perah yang hanya beranak satu ekor. Penyebabnya adalah rangsangan menyusui dari cempe (anak kambing) yang dilahirkan. Dengan demikian, tingkah laku cempe  ketika menyusu bisa dilakukan oleh pemerah, sehingga produksi susunya meningkat, misalnya dengan mengusap-usap bagian atas kambing sambil memijatnya.
11)   Pergantian Pemerah
Kambing perah termasuk hewan yang tidak terlalu mudah beradaptasi pada kondisi lingkungan yang berubah secara drastis. Pergantian pemerah akan menyebabkan kambing perah mengalami stress, sehingga produksi susunya menurun.
12)  Lama Masa Kering
Untuk mendorong produksi cempe dan mencapai target tigak kali beranak setiap dua tahun, biasanya kambing perah dikawinkan kembali setelah beranak tiga bulan, atau saat pertama kali birahinya muncul. Dalam kondisi demikian, kambing perah membutuhkan waktu untuk menjalani masa kering selama dua bulan.
Dengan kondisi pakan yang jumlahnya cukup dan berkualitas baik, organ-organ yang berfungsi untuk memproduksi susu akan memiliki kesempatan yang cukup untuk pulih kembali. Namun, jika kondisi pakan yang diberikan kurang baik, masa pemulihan akan lebih lama. Jika kambing perah kembali beranak pada saat kondisi organ-organ tubuh yang berfungsi memproduksi susu belum pulih, bisa dipastikan produksi susunya akan menurun.
13)Faktor Hormonal
Salah satu hormon yang berperan dalam produksi susu adalah laktogen. Penyuntikan hormone ini terhadap kambing yang sedang laktasi menyebabkan produksi susunya sedikit meningkat. Demikian juga pengaruh penyuntikan hormon tyroxine. Hormon yang menghambat produksi susu adalah adrenalin. Adrenalin bisa menghambat hormon oxytocine , yang berpengaruh terhadap proses keluarnya susu saat pemerahan.
14)Faktor Pakan
Produksi susu kambing perah akan mencapai optimal jika jumlah pakan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan kambing dan kualitasnya baik. Komposisi hijauan dan kosnsentrat pun harus seimbang. Hijauan adalah precursor (pendukung) produksi susu dan konsentrat merupakan sumber protein, yang juga dibutuhkan sebagai komponen penyusun susu.
15)Pengaruh Penyakit
Produksi susu dari kambing perah yang sedang laktasi akan menurun jika terserang penyakit. Bahkan, produksi susu bisa langsung terhenti. Disamping itu, efek dari obat yang diberikan kepada kambing perah akan berpengaruh terhadap kualitas susu. Biasanya, kambing-kambing yang sedang sakit dan diberi obat anibiotika, susunya tidak boleh dikonsumsi.
 
7.   Pemeliharaan Kambing Anakan
Untuk menghasilkan kambing yang berkualitas, pemeliharaan intensif harus dilakukan sejak anak kambing lahir. Bahkan sejak anakan berada dalam kandungan.
Pada saat induk hamil, berikan kalsium secara cukup. Pemberiannya bersamaan dengan pemberian pakan tambahan. Tujuannya agar anakan yang dilahirkan pertumbuhannya cepat serta memiliki tulang yang besar dan kuat. Pemberian kalsium dilanjutkan hingga anakan bisa makan sendiri.
Setelah anakan dapat makan sendiri, berikan pakan yang cukup, baik jumlah maupun gizinya. Jumlah pakan alami lebih dari 10% berat hidup. Pemberian pakan tambahan berupa konsentrat juga sangat diperlukan. Kalsium juga sangat diperlukan untuk pertumbuhan tulang.

8.                     Menangani Serangan Penyakit
Kambing etawa harus dijaga kondisinya agar tidak terkena penyakit. Akibat serangan penyakit yang cukuplama bisa membuat kondisi fisik kambing menjadu rusak bahkan kadang-kadang dapat menyebabkan kematian.
Pencegahan mutlak dilakukan untuk menjaga kondisi kambing. Pengenalan gejala penyakit yang umum menyerang juga harus dipelajari. Tidak hanya itu. Pengendalian atau pengobatan harus dilakukan secara cepat dan tepat.
Berikut beberapa penyakit yang umum menyerang kambing etawa :
1)   Penyakit mulut dan kuku (PMK)
Sesuai namanya, gejala penyakit ini adalah luka di sela-sela kuku dan selaput lender di mulut. Nafsu makan kambing yang terserang akan turun, kondisi tubuhnya kemah, kadang-kadang disertai demam.
Penyakit ini disebabkan oleh rhinovirus atau sering disebut dengan apthae epizootica.
Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan cara pemberian vaksin secara teratur setiap enam bulan sekali.
2)   Cacingan
Cacingan pada kambing disebabkan karena adanya cacing di dalam lambung. Cacing yang menyerang biasanya Haemonchus contours dan  Haemonchorus sheatri. Cacing memenyerang dengan menghisap darah dan sari makanan dalam tubuh kambing.
Gejala serangan antara lain, selaput mata, hidung, dan bibir terlihat pucat. Selain itu kambing juga terlihat pucat dan lemah.
Pencegahan bisa dilakukan dengan cara pembersihan kandang dengan baik dan pemberian obat cacing secara berkala, selama enam bulan sekali.
3)   Kudis
Penyakit ini disebabkan tungau Sacroptes scabiei dan Psorepes ovis. Kebersihan kandang memengaruhi munculnya serangan. Gejala serangan adalah adanya lecet akibat gesekan atau garukan karena terasa gatal yang ditumbulkan oleh tungau. Lecet kemudian berdarah dan berkerak di permukaan.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara selalu menjaga kebersihan pakan dan lingkungan kandang.
4)    Kembung
Kembung pada kambing etawa biasanya disebabkan kondisi pakan. Bisa karena pakan hijauan yang diberikan masih basah atau berjamur. Hal ini disebabkan pengambilan hijauan dilakukan saat masih terlalu pagi atau saat hujan.
Gejala kembung adalah perut membesar dan jika dipukul-pukul terasa gembung atau penuh udara. Nafsu makan berkurang dan kambing mengalamu sesak nafas karena banyaknya udaradi dalam perut besar. Jika dibiarkan terlalu lama, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian.
Penyakit bisa dicegah dengan cara, pemberian hijauan yang sudah diangin-anginkan dan tidak terdapat embun atau air hujan.
5)   Radang kelenjar susu
Gejala serangan penyakit ini adalah pembengkakkan di ambing dan putting susu disertai munculnya warna kemerahan. Serangan dapat menyebabkan produksi susu menurun. Penyakit ini disebabkan karena pemerahan yang kasar, tangan pemerah yang tidak steril, atau akibat luka oleh kuku pemerah.
Pencegahannya bisa dilakukan dengan cara menjaga sanitasi kandang, mencuci ambing sebelum pemerahan, mencuci tangan sebelum memerah, dan kuku dipastikan tidak panjang. Untuk menghindari lecet di ambing susu bisa juga dengan cara mengoleskan lotion atau minyak kelapa di putting susu sebelum pemerahan.
6)    Anthrax
Gejala umum serangan anthrax adalah suhu tubuh kambing tinggi, tubuh gemetar, dan detak jantung sangat cepat. Gejala lain adalah nafsu makan menurun drastis, lubang dubur dan hidung mengeluarkan lender bercampur darah, serta kotoran encer dan bercampur darah. Serangan yang parah dan tanpa penanganan dapat menyebabkan kambing mati. Penyakit ini cepat menyebar. Seluruh kambing di suatu peternakan bisa mati akibat serangan penyakit ini.
Pencegahan serangan anthrax yang paling efektif adalah pemberian vaksin dan serum anti anthrax secara teratur. Vaksin dan serum bisa didapakan di took sarana produksi peternakan atau melalui dokter hewan atau mantri hewan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates