1. Sejarah Masuknya Kambing
Etawa ke Indonesia
Kambing
merupakan hewan ruminansia yangh sudah di domestikasi sejak 7000 tahun lalu
setelah anjing, kuda dan domba. Kambing berasal dari daerah Asia Barat dan
Persia, dan mulai dibudidayakan sejak tahhun 7000 – 8000 SM. Dalam
perkembangannya kambing hasil domestikasi ini menyebar ke berbagai pelosok dan
beradaptasi menghasilkan nilai fungsional berbeda – beda yaitu ada yang cocok
sebagai kambing pedaging, kambing penghasil susu, diambil bulunya maupun
kambing penghasil susu sekaligus daging.
Dari
hasil adaptasi ini muncullah berbagai species
dan karakter spesifik di berbagai daerah, hasilnya kambing Etawa dari Jamnapari
India, kambing Apin dari pegunungan Alpen di Swiss, kambing Saanen dari Swiss,
kambing Anglo Nubian dari Nubian timur laut Afrika, kambing Beetel dari
Rawalpindi dan Lahore, Pakistan serta di Punjab, India. Namun demikian dari
banyaknya jenis kambing yang ada di dunia kambing Etawa dari India adalah yang
paling terkenal, hal ini disebabkan karena kambing Etawa merupakan kambing
unggul dwiguna yang sangat potensial sebagai penghasil daging dan susu.
Kambing
Etawa, masuk ke Indonesia pertama kali di bawa oleh orang Belanda pada tahun
1920-an, orang Belanda tersebut membawa banyak kambing Etawa pertama kali ke
Pulau Jawa, tepatnya di Jogyakarta. Kambing ini lebih terkenal sebagai kambing
perah / penghasil susu, dimana saat itu kambing ini di sebut dengan kambing Benggala
/ kambing Jamnapari sesuai dengan asalnya di India. Selanjutnya kambing Etawa
ini dikembangbiakkan di daerah perbukitan Menoreh sebelah barat Jogyakarta dan
di Kaligesing, Purworejo. Seiring dengan perjalanan waktu terjadilah perkawinan
silang antara kambing Etawa dengan kambing lokal, ( seperti kambing Jawarandu
atau kambing Kacang,) dan ternyata keturunan yang dihasilkan lebih bagus
daripada kambing lokal. Keturunan hasil persilangan kambing Etawa dengan
kambing Jawarandu atau kambing Kacang oleh masyarakat disebut keturunan Etawa
atau Peranakan Etawa. Terkenal dengan sebutan kambing Peranakan Etawa. Daerah
Kaligesing di Purworejo, Jawa Tengah hingga saat ini merupakan daerah sentra
utama peternakan kambing Peranakan Etawa, karena daerah ini berhawa dingin dan
memiliki potensi hijauan melimpah sehingga sangat cocok untuk kambing Peranakan
Etawa, jika membicarakan kambing Peranakan Etawa, sebagian besar masyarakat
langsung teringat daerah ini, sehingga tidak salah jika kambing Peranakan Etawa
menjadi trademark daerah Kaligesing.
Sebagai
kambing unggul dwiguna yang potensial kambing Etawa menyebar di beberapa negara
dan banyak digunakan untuk memperbaiki kualitas kambing lokal, dengan cara
mengawinkan kambing Etawa dengan kambing lokal seperti yang ada di Kaligesing.
Namun hingga tahun 2008, populasi kambing Peranakan Etawa terbesar tetap berada
di Indonesia. Sentra pengembangan kambing Peranakan Etawa selain di Kaligesing,
adalah di Jogyakarta (Bantul, Sleman, Gunungkidul, Kulonprogo) di Jawa Timur
(Tulungagung , Blitar, dan Malang), di Jawa Tengah (Pati, Banyumas,
Banjarnegara, Kebumen, Wonosobo dan Jepara) di Jawa Barat (Bogor, Bandung dan
Sukabumi) serta Palembang dan Lampung. Namun demikian sentra kambing Peranakan Etawa
terbesar selain Kaligesing adalah Bantul dan Sleman. Kedua sentra ini merupakan
penghasil susu kambing yang cukup besar, sekaligus tujuan para peternak dan
calon peternak untuk mendapatkan bibit Kambing Peranakan Etawa
2. Keunggulan Kambing Etawa
Berbagai
penyebab menyerbarnya kambing PE ke berbagai daerah adalah kebutuhan masyarakat
terhadap susu kambing untuk pengobatan, digunakan sebagai pejantan untuk
memperbaiki kualitas kambing lokal pedaging, dan sebagai kambing hias atau
kontes yang memiliki nilai jual tinggi.
Beternak
kambing PE lebih menguntungkan bila dibanding dengan memelihara kambing lokal /
domba.
Beberapa
nilai ekonomis dari berternak kambing PE antara lain :
a.
Penghasil Susu
Di
Indonesia susu kambing dikonsumsi sebagai obat alternatif, bukan sebagai
pelengkap gizi. Umumnya, orang mengonsumsi susu ini untuk membantu penyembuhan
penyakit asma, tuberkolosis ( TBC ), eksim, membantu penyehatan kulit, mencegah
penuaan dini dan mencegah osteoporosis. Pada masa laktasi kambing Peranakan
Etawa mampu menghasilkan 0,8 – 2,5 liter susu perhari, dengan harga jual antara
Rp 20.000 – 25.000 per liter.
Sebagai
gambaran jika seorang peternak memelihara 7 -10 ekor, diperkirakan yang laktasi
5 ekor dan rata-rata menghasilkan 1 liter per hari, maka penghasilan peternak
tersebut setiap hari adalah sekitar 5 liter susu dengan harga rata-rata Rp.
20.000 perliter, maka pendapatan peternak tersebut adalah sekitar Rp
100.000,-/hari.
b.
Penghasil Daging
Selain
menghasilkan susu, kambing Peranakan Etawa juga potensial sebagai penghasil
daging. Sehingga pejantan kambing Peranakan Etawa, banyak digunakan oleh
peternak untuk memperbaiki kualitas kambing lokal pedaging. Karena perkawinan
silang ini menghasilkan kambing dengan sosok badan lebih besar layaknya kambing
Peranakan Etawa.
c.
Penghasil Pupuk dan kulit
Kotoran
kambing Peranakan Etawa dapat digunakan sebagai pupuk organik, sedangkan
kulitnya karena mempunyai ukuran yang lebih besar daripada kulit kambing lokal,
maka kulit kambing Peranakan Etawa banyak di cari orang untuk digunakan sebagai
bahan kerajinan kulit.
d.
Sebagai Sumber Pendapatan
Beternak
kambing Peranakan Etawa, dapat digunakan sebagai sumber pendapatan alternatif
di pedesaan yang sangat menjanjikan bila ditekuni secara serius, biaya yang di
keluarkan untuk pembuatan kandang dan biaya perawatan relatif sama bila di
bandingkan dengan biaya memelihara kambing lokal.
Sebagai
gambaran dalam memelihara kambing Peranakan Etawa adalah sebagai berikut :
Seandainya
pada awal usaha kita memelihara 5 ekor betina dan 1 ekor kambing pejantan, maka
dalam waktu 7 bulan, ternak kita akan bertambah 5 ekor anak (perhitungannya 1
ekor induk minimal beranak 1 ekor, padahal biasanya 1 ekor induk melahirkan 2
atau 3 ekor anak). Dengan demikian setiap 8 bulan berikutnya induk akan kembali
melahirkan, sementara anakan pertama semakin besar dan mulai bunting.
Dengan
gambaran diatas, beternak kambing Peranakan Etawa dapat digunakan sebagai
sumber pendapatan dari penjualan anakan karena harganya cukup tinggi maupun
sebagai penghasil susu. Disamping itu, bila kita memelihara pejantan kambing Peranakan
Etawa kualitas (great A), maka penghasilan akan bertambah dari banyaknya
peternak yang ingin mengawinkan induknya. (biaya mengawinkan kambing betina
dengan pejantan unggulan berkisar Rp. 250.000 – 300.000 per kali perkawinan).
Adapun
keunggulan lain dari Kambing Peranakan Etawa, adalah karena sosok dan
penampilannya, membuat kambing ini layak sebagai hewan Kebanggaan. Bahkan pada
awal tahun 2000, marak diadakan kontes kambing Peranakan Etawa. Maraknya kontes
kambing Peranakan Etawa di berbagai daerah, memberi dampak positif pada
munculnya beberapa kategori atau kelas pada kambing Peranakan Etawa. Misalnya
kelas pejantan, kelas calon pejantan, kelas induk, dan kelas calon induk.
Selain itu dengan adanya kontes ini seakan membangkitkan kembali roh peternakan
kambing Peranakan Etawa, mengenalkan potensi kambing Peranakan Etawa pada
masyarakat, meningkatkan pendapatan peternak, meningkatkan minat beternak dan meningkatkan
kunjungan wisata. Namun demikian, disinyalir pada akhir-akhir ini diperkirakan
sekitar 500 – 1000 ekor per tahun Kambing Peranakan Etawa kualitas A, banyak
dikirim keluar dari Jawa Tengah terutama dikirim ke Malaysia. Dengan adanya
upaya-upaya pengiriman kambing Peranakan Etawa kualitas A keluar Jawa Tengah,
akan memberi dampak yang kurang baik bagi kualitas / keturunan kambing Peranakan
Etawa pada masa yang akan datang. Oleh karena itu upaya penghentian pengiriman
kambing Peranakan Etawa kualitas A, perlu segera dilakukan dan memberi sanksi
yang tegas bagi pelaku. Mengingat Kambing Peranakan Etawa merupakan ternak asli
Jawa Tengah, sehingga upaya untuk menjaga kelestarian dan kemurnian genetik
ternak tersebut menjadi kewajiban dan tanggung jawab moral kita bersama.
3. Sistem Perkandangan
Kandang di Peternakan Kambing Etawa memiliki
beberapa fungsi. Ada yang digunakan sebagai kandang pejantan, kandang induk,
kandang pembesaran, dan kandang isolasi atau karantina untuk ternak yang sakit.
Untuk investasi jangka panjang, baik untuk
memelihara kambing etawa, kandang harus memenuhi beberapa persyaratan teknis
sebagai berikut ;
1)
Konstruksinya
kuat dan tahan lama.
2)
Terbuat
dari bahan ekonomis yang mudah didapat dan harganya terjangkau.
3)
Memiliki
sirkulasi udara dan cahaya matahari yang bagus.
4)
Memiliki
drainase dan system pembuangan limbah yang memadai.
5)
Lantai
kandang rata, tidak licin, tidak terlalu kasar, mudah kering, dan tahan
terhadap pijakan kambing.
6)
Jarak
antar kayu atau bambu untuk lantai proporsional (sekitar 1cm) sehingga kotoran
dapat langsung jatuh tetapi tidak membuat kaki kambing terperosok atau
terjepit.
7)
Tidak
menggunakan atap seng atau fiber karena menimbulkan suara gaduh saat hujan
sehingga membuat kambing stress. Atap seng dan fiber juga membuat kandang panas
pada siang hari sehingga mengurangi kenyamanan kambing. Atap sebaiknya
menggunakan genting yang terbuat dari tanah atau asbes.
8)
Luas
kandang sesuai dengan populasi kambing.
9)
Memiliki
kandang isolasi yang terpisah dari kandang lain.
10)
Tidak
mengganggu dan mencemari lingkungan dengan polusi udara dan suara.
4. Pemeliharaan Kambing Etawa
1)
Memelihara
Bakalan
Pemeliharaan bakalan induk kambing etawa
biasanya dilakukan sejak kambing betina lepas sapih atau umurnya mencapai 4-5
bulan. Pemeliharaan sejak lepas sapih ini membutuhkan waktu yang cukup lama
hingga kambing beranak. Kebiasaan peternak, kambing dikawinkan ketika berumur
sekitar 16-18 bulan. Dengan masa kebuntingan 150 hari (sekitar lima bulan),
kambing akan mulai berproduksi pada umur 21-23 bulan. Jika diperhitungkan,
pemeliharaan sejak bakalan sampai masa produksi membutuhkan waktu sekitar 18
bulan.
2)
Memelihara
Kambing Dara
Kambing disebut dalam periode dara jika sudah
mengalami siklus birahi. Sebenarnya saat itu kambing sudah bisa dikawinkan,
tetapi kondisi tubuhnya belum sepenuhnya mampu menunjang proses pertumbuhan
janin di dalam kandungannya. Demikian juga proses pertumbuhan ambing untuk
produksi susu. Karena itu, dibutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan. Setelah
mengalami dua atau tiga kali siklus birahi maka kambing bisa di kawinkan. Jika
tidak terjadi kebuntingan, perkawinan bisa diulangi pada periode birahi
berikutnya. Jika terjadi kebuntingan, kambing akan beranak setalah lima bulan
(150 hari).
5. Kebutuhan dan Pemberian
Pakan
Sebagai hewan hebivora, kebutuhan pakan utama
kambing adalah hijauan. Kambing biasanya membutuhkan hijauan sekitar 10% dari
berat hidupnya. Kambing etawa dengan berat 30kg harus mengonsumsi hijauan
sekitar 3kg/hari. Namun, jumlah pakan yang diberikan harus melebihi jumlah
minimal. Pasalnya, ada bagian pakan yang tidak akan dikonsumsi. Misalnya batang
atau daun tua.
Beberapa hijauan yang bisa diberikan untuk
pakan kambing adalah daun nangka, kaliandra, mahoni, singkong (Manihot Utillisima), ubi jalar (Ipomea Batatas), dan rumput gajah.
Hijauan yang diberikan sebaiknya tidak hanya
satu jenis, tetapi dicampur. Selain untuk menyeimbangkan asupan gizi juga
menghindari kambing bosan.
Hijauan bisa diberikan utuh yang diletakkan
ditempat pakan atau digantung. Bisa juga dicincang terlebih dahulu. Agar
efektif, hijauan diberikan sedikit demi sedikit beberapa kali. Misalnya 2-3
kali dalam sehari. Cara ini lebih baik daripada membersihkan hijauan sekaligus
dalam jumlah banyak..
Selain hijauan segar, kambing memerlukan
jenis pakan lain untuk melengkapi kebutuhan nutrsinya. Fungsinya untuk memenuhi
kebutuhan protein, vitamin, dan mineral yang tidak di dapat dari hijauan.
Pakan tambahan yang bisa diberikan adalah
ampas tahu,bekatul (kulit ari padi), bungkil kedelai,dan bungkil jagung.
Selain pakan hijauan dan tambahan, kambing
juga membutuhkan air setiap hari. Kebutuhan normal minum kambing adalah 1-2
liter/hari. Air harus disediakan setiap saat. Kekurangan air dapat menyebabkan
dehidrasi dan memengaruhi pertumbuhan.
Kebutuhan air pada kambing etawa muda lebih
tinggi dibandingkan dengan kebutuhan air kambing etawa tua.
Sebagian asupan air berasal dari hijauan.
Selebihnya harus disediakan dalam bentuk air minum. Amannya, air selalu
tersedia di tempat minum di kandang. Air yang diberikan harus bersih. Bisa
menggunakan sumur atau air PAM yang sudah diendapkan agar kandungan kaporitnya
tidak terbawa.
6.
Pemerahan Susu
Selain dijual dalam bentuk segar,
sama halnya dengan susu sapi, susu kambing bisa diolah menjadi berbagai produk
lain, misalnya yoghurt, keju, dan mentega. Berbagai alternatif lain, misalnya
upaya mengalengkan susu kambing, sebenarnya bisa dilakukan agar umur produk
bisa bertambah lama.
Komposisi kimia susu kambing lebih
putih daripda susu sapi karena susu kambing tidak mengandung karoten. Khasiat
susu kambing antara lain untuk terapi penyakit TBC, membantu memulihkan kondisi
orang yang baru sembuh dari suatu penyakit, dan mampu mengontrol kadar
kolestrol dalam darah selain itu susu kambing juga bisa digunaka untuk
anak-anak yang menderita penyakit eksim (gatal di kulit).
Susu kambing secara umum tidak
berbeda dengan susu sapi atau air susu ibu (ASI). Perbedaannya terletak pada
presentasi kandungannya saja. Butiran lemak susu kambing berukuruan antara 1-10
milimikron sama dengan susu sapi. Namun, jumlah butiran lemak yang berdiameter
kecil dan homogen lebih banyak terdapat pada susu kambing, sehingga susu
kambing lebih mudah dicerna alat pencernaan manusia, serta tidak menimbulkan
diare pada orang yang mengomsumsinya.
Secara fisik, perbedaan antara susu
sapi dan susu kambing terlihat lebih nyata, yaitu warna susu. Beberapa pakar
penyakit kulit juga menganjurkan pasiennya agar mengonsumsi susu kambing untuk
meningkatkan kesehatan kulit, terutama bagian wajah. Kandungan gizi dalam susu
kambing dapat meningkatkan pertumbuhan bayi dan anak-anak serta membantu
menjaga keseimbangan proses metabolisme, mendukung pertumbuhan tulang dan gigi,
serta membantu pembentukan sel-sel darah dan jaringan tubuh. Susu kambing juga
baik diberikan kepada wanita dewasa untuk mengembalikan zat besi stelah haid,
kekurangan darah (anemia), kehamilan, serta perdarahan setelah melahirkan
(perdarahan Postpartum). Selain itu,
kandungan berbagai mineral dalam susu kambing memperlambat osteoporosis atau kerapuhan tulang.
Hasil penelitian United States Department of Agriculture (USDA)
tentang perbandingan komposisi kimia antara susu sapi, kambing, dan air susu
ibu (ASI) dapat dilihat dalam Table1 berikut ini:
Tabel 4.13
Perbandingan komposisi kimia antara susu sapi, susu kambing, dan air
susu ibu (ASI)
|
Komposisi Kimia
|
Susu Sapi
|
Susu Kambing
|
Air Susu Ibu
|
|
Protein (g)
|
3,3
|
3,6
|
1,0
|
|
Lemak (g)
|
3,3
|
4,2
|
4,4
|
|
Karbohidrat (g)
|
4,7
|
4,5
|
6,9
|
|
Kalori (kal)
|
61
|
69
|
70
|
|
Fosfor (g)
|
93
|
111
|
14
|
|
Kalsium (g)
|
19
|
134
|
32
|
|
Magnesium (g)
|
13
|
14
|
3
|
|
Besi (g)
|
0,05
|
0,05
|
0,03
|
|
Natrium (g)
|
49
|
50
|
17
|
|
Kalium (g)
|
152
|
204
|
51
|
|
Vitamin A (IU)
|
126
|
185
|
241
|
|
Thiamin (mg)
|
0,04
|
0,05
|
0,014
|
|
Riboflavin (mg)
|
0,16
|
0,14
|
0,04
|
|
Niacin (mg)
|
0,08
|
0,28
|
0,18
|
|
Vitamin B6 (mg)
|
0,04
|
0,05
|
0,01
|
Sumber : USDA,
1976.
b.
Faktor yang
Membedakan Kuantitas dan Komposisi Susu Kambing
Adanya beberapa perbedaan komposisi kimia tidak hanya terdapat pada ketiga
jenis susu tersebut, tetapi juga terjadi pada susu kambing yang dihasilkan oleh
kambing yang berbeda. Hal ini bisa dimengerti karena begitu banyak
faktor pengontrol susu, baik kualitas maupun kuantitasnya. Diantaranya adalah :
1) Variasi
Antarjenis Kambing
Di dunia ini, berkembang aneka
jenis kambing dengan karakteristik yang berbeda. Misalnya, kambing kacang
sebagai kambing potong, kambing etawa sebagai kambing tipe dwiguna, kambing
toggenburg, sebagai penghasil susu yang baik, atau kambing angora sebagai
penghasil kulit bulu berkualitas tinggi. Di antara jenis kambing tipe perah pun
terdapat variasi dalam jumlah produksi susunya.
2) Variasi
Interjenis Kambing
Setiap individu dari jenis yang
sama memiliki variasi dalam jumlah susu yang dihasilkan. Jenis yang sama, pada
umur dan masa laktasi yang berbeda akan memiliki jumlah produksi susu yang
berbeda.
3) Faktor
Genetik
Faktor genetik adalah faktor yang
diturunkan oleh induk kepada keturunannya. Setiap induk betina atau pejantan
memiliki sumbangan yang sama terhadap penampilan produksi keturunannya. Sampai
saat ini belum dapat diungkapkan berapa banyak gen yang bekerja mengontrol
tingkat produksi susu.
Hampir bisa dipastikan, jika seekor
kambing memiliki produksi susu yang tinggi kemudian dikawinkan dengan pejantan
yang memiliki induk betina yang juga tinggi produksinya, kemungkinan besar
keturunan yang berkelamin betina akan memiliki tingkat produksi yang tinggi
pula. Namun, ilmu genetika tidak sesederhana itu. Selalu ada penyimpangan yang
terjadi dan apa yang diinginkan tidak pasti selamanya terjadi.
4) Musim
Hasil penelitian di luar negeri
menunjukan bahwa kambing-kambing yang beranak pada musim gugur memiliki tingkat
produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kambing-kambing yang beranak
pada musim panas. Untuk kondisi di Indonesia, belum banyak dilakukan
penelitian, karena perkembangan usaha peternakan kambing perah belum begitu berkembang.
5) Umur
Produksi susu kambing umumnya
meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Produktivitas mencapai puncaknya
ketika kambing berumur 5 - 7 tahun, yakni pada masa laktasi ke-3 atau ke-5.
Selanjutnya produksi susu menurun. Untuk kambing-kambing perah yang hidup di
daerah subtropik, tingkat produksi susu akan memuncak setahun lebih dahulu, dan
dapat terus dipertahankan tanpa ada perubahan yang mencolok selama 2 atau 3
kali masa laktasi.
6) Lama
Masa Laktasi
Dalam satu jenis kambing, perbedaan
lama masa laktasi akan menyebabkan perbedaan jumlah total produksi susu selama
masa laktasi tersebut. Semakin lama masa laktasi, tidak berarti akan semakin
tinggi keuntungan yang akan diraih peternak, karena belum tentu produksi hariannya
mampu menutup biaya produksi.
7) Faktor
Perawatan dan Perlakuan
Kambing perah, seperti juga hewan
ternak yang lain, membutuhkan suasana kandang yang nyaman untuk dapat
berproduksi secara optimal. Kandang yang sejuk, tidak gaduh, dan perlakuan yang
tidak kasar merupakan syarat agar produksi susu kambing optimal. Sebagai contoh
dalam kandang yang gaduh, kambing yang sedang laktasi akan mudah terkejut, dan
saat terkejut itu tubuhnya mengeluarkan hormone
adrenaline yang mengakibatkan terhambat atau terhentinya sekresi hormon oxytocin yang berfungsi dalam produksi
susu kelenjar kambing.
8) Pengaruh
Masa Birahi dan Kebuntingan
Kambing-kambing yang dikawinkan
kembali setelah tiga bulan beranak, tingkat produksi susunya akan lebih cepat
menurun dibandingkan dengan kambing-kambing yang sedang laktasi, tetapi tidak
bunting. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kurangnya kuantitas dan
kualitas pakan yang dikonsumsi, serta tingginya kebutuhan kambing akan zat-zat
makanan untuk mendukung proses fisiologis di dalam tubuhnya, misalnya untuk
hidup pokok, produksi susu, serta pertumbuhan janin.
Pada saat musim birahi (estrus), kambing perah yang sedang
laktasi akan mengalami penurunan produksi susu sebagai reaksi dari berbagai
proses hormonal di dalam tubuhnya, tetapi setelah masa birahi terlewati,
produksi susunya akan normal kembali.
9) Frekuensi
Pemerahan
Berdasarkan beberapa hasil
penelitian luar negeri, kambing perah
yang diperah dua kali sehari, total produksi susunya lebih tinggi daripada
kambing perah yang diperah sekali sehari. Meskipun demikian, tidak selalu total
produksi yang lebih tinggi tersebut memberikan keuntungan yang lebih tinggi
kepada peternak, karena untuk melakukan pemerahan dibutuhkan biaya, misalnya
untuk menggaji pemerah. Jadi, meskipun tingkat produksi susu meningkat dengan
menambah frekuensi pemerahan, perhitungan ekonomi harus dilakukan secara
matang.
10) Jumlah Anak dalam Sekali Melahirkan
Produksi susu kambing perah yang
beranak dua ekor dalam satu kali melahirkan, biasanya 20 - 30% lebih tinggi daripada
kambing perah yang hanya beranak satu ekor. Penyebabnya adalah rangsangan
menyusui dari cempe (anak kambing)
yang dilahirkan. Dengan demikian, tingkah laku cempe ketika menyusu bisa
dilakukan oleh pemerah, sehingga produksi susunya meningkat, misalnya dengan
mengusap-usap bagian atas kambing sambil memijatnya.
11) Pergantian Pemerah
Kambing perah termasuk hewan yang
tidak terlalu mudah beradaptasi pada kondisi lingkungan yang berubah secara
drastis. Pergantian pemerah akan menyebabkan kambing perah mengalami stress,
sehingga produksi susunya menurun.
12) Lama Masa
Kering
Untuk mendorong produksi cempe dan mencapai target tigak kali
beranak setiap dua tahun, biasanya kambing perah dikawinkan kembali setelah
beranak tiga bulan, atau saat pertama kali birahinya muncul. Dalam kondisi
demikian, kambing perah membutuhkan waktu untuk menjalani masa kering selama
dua bulan.
Dengan kondisi pakan yang jumlahnya
cukup dan berkualitas baik, organ-organ yang berfungsi untuk memproduksi susu
akan memiliki kesempatan yang cukup untuk pulih kembali. Namun, jika kondisi
pakan yang diberikan kurang baik, masa pemulihan akan lebih lama. Jika kambing
perah kembali beranak pada saat kondisi organ-organ tubuh yang berfungsi
memproduksi susu belum pulih, bisa dipastikan produksi susunya akan menurun.
13)Faktor
Hormonal
Salah satu hormon yang berperan
dalam produksi susu adalah laktogen. Penyuntikan hormone ini terhadap kambing
yang sedang laktasi menyebabkan produksi susunya sedikit meningkat. Demikian
juga pengaruh penyuntikan hormon tyroxine.
Hormon yang menghambat produksi susu adalah adrenalin. Adrenalin bisa
menghambat hormon oxytocine , yang
berpengaruh terhadap proses keluarnya susu saat pemerahan.
14)Faktor Pakan
Produksi susu kambing perah akan
mencapai optimal jika jumlah pakan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan
kambing dan kualitasnya baik. Komposisi hijauan dan kosnsentrat pun harus
seimbang. Hijauan adalah precursor (pendukung)
produksi susu dan konsentrat merupakan sumber protein, yang juga dibutuhkan
sebagai komponen penyusun susu.
15)Pengaruh
Penyakit
Produksi susu dari kambing perah yang sedang laktasi
akan menurun jika terserang penyakit. Bahkan, produksi susu bisa langsung
terhenti. Disamping itu, efek dari obat yang diberikan kepada kambing perah
akan berpengaruh terhadap kualitas susu. Biasanya, kambing-kambing yang sedang
sakit dan diberi obat anibiotika, susunya tidak boleh dikonsumsi.
7. Pemeliharaan
Kambing Anakan
Untuk menghasilkan kambing yang berkualitas,
pemeliharaan intensif harus dilakukan sejak anak kambing lahir. Bahkan sejak
anakan berada dalam kandungan.
Pada saat induk hamil, berikan kalsium secara
cukup. Pemberiannya bersamaan dengan pemberian pakan tambahan. Tujuannya agar
anakan yang dilahirkan pertumbuhannya cepat serta memiliki tulang yang besar
dan kuat. Pemberian kalsium dilanjutkan hingga anakan bisa makan sendiri.
Setelah anakan dapat makan sendiri, berikan
pakan yang cukup, baik jumlah maupun gizinya. Jumlah pakan alami lebih dari 10%
berat hidup. Pemberian pakan tambahan berupa konsentrat juga sangat diperlukan.
Kalsium juga sangat diperlukan untuk pertumbuhan tulang.
8.
Menangani Serangan Penyakit
Kambing etawa harus dijaga kondisinya agar
tidak terkena penyakit. Akibat serangan penyakit yang cukuplama bisa membuat
kondisi fisik kambing menjadu rusak bahkan kadang-kadang dapat menyebabkan
kematian.
Pencegahan mutlak dilakukan untuk menjaga
kondisi kambing. Pengenalan gejala penyakit yang umum menyerang juga harus
dipelajari. Tidak hanya itu. Pengendalian atau pengobatan harus dilakukan
secara cepat dan tepat.
Berikut beberapa penyakit yang umum menyerang
kambing etawa :
1)
Penyakit
mulut dan kuku (PMK)
Sesuai namanya, gejala penyakit ini adalah
luka di sela-sela kuku dan selaput lender di mulut. Nafsu makan kambing yang
terserang akan turun, kondisi tubuhnya kemah, kadang-kadang disertai demam.
Penyakit ini disebabkan oleh rhinovirus atau
sering disebut dengan apthae epizootica.
Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan
cara pemberian vaksin secara teratur setiap enam bulan sekali.
2)
Cacingan
Cacingan pada kambing disebabkan karena
adanya cacing di dalam lambung. Cacing yang menyerang biasanya Haemonchus contours dan Haemonchorus sheatri. Cacing memenyerang
dengan menghisap darah dan sari makanan dalam tubuh kambing.
Gejala serangan antara lain, selaput mata,
hidung, dan bibir terlihat pucat. Selain itu kambing juga terlihat pucat dan
lemah.
Pencegahan bisa dilakukan dengan cara pembersihan
kandang dengan baik dan pemberian obat cacing secara berkala, selama enam bulan
sekali.
3)
Kudis
Penyakit ini disebabkan tungau Sacroptes scabiei dan Psorepes ovis. Kebersihan kandang
memengaruhi munculnya serangan. Gejala serangan adalah adanya lecet akibat
gesekan atau garukan karena terasa gatal yang ditumbulkan oleh tungau. Lecet
kemudian berdarah dan berkerak di permukaan.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara selalu
menjaga kebersihan pakan dan lingkungan kandang.
4)
Kembung
Kembung pada kambing etawa biasanya
disebabkan kondisi pakan. Bisa karena pakan hijauan yang diberikan masih basah
atau berjamur. Hal ini disebabkan pengambilan hijauan dilakukan saat masih
terlalu pagi atau saat hujan.
Gejala kembung adalah perut membesar dan jika
dipukul-pukul terasa gembung atau penuh udara. Nafsu makan berkurang dan
kambing mengalamu sesak nafas karena banyaknya udaradi dalam perut besar. Jika
dibiarkan terlalu lama, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian.
Penyakit bisa dicegah dengan cara, pemberian
hijauan yang sudah diangin-anginkan dan tidak terdapat embun atau air hujan.
5)
Radang
kelenjar susu
Gejala serangan penyakit ini adalah
pembengkakkan di ambing dan putting susu disertai munculnya warna kemerahan.
Serangan dapat menyebabkan produksi susu menurun. Penyakit ini disebabkan
karena pemerahan yang kasar, tangan pemerah yang tidak steril, atau akibat luka
oleh kuku pemerah.
Pencegahannya bisa dilakukan dengan cara
menjaga sanitasi kandang, mencuci ambing sebelum pemerahan, mencuci tangan
sebelum memerah, dan kuku dipastikan tidak panjang. Untuk menghindari lecet di
ambing susu bisa juga dengan cara mengoleskan lotion atau minyak kelapa di putting susu sebelum pemerahan.
6)
Anthrax
Gejala umum serangan anthrax adalah suhu
tubuh kambing tinggi, tubuh gemetar, dan detak jantung sangat cepat. Gejala
lain adalah nafsu makan menurun drastis, lubang dubur dan hidung mengeluarkan
lender bercampur darah, serta kotoran encer dan bercampur darah. Serangan yang
parah dan tanpa penanganan dapat menyebabkan kambing mati. Penyakit ini cepat
menyebar. Seluruh kambing di suatu peternakan bisa mati akibat serangan
penyakit ini.
Pencegahan serangan anthrax yang paling
efektif adalah pemberian vaksin dan serum anti anthrax secara teratur. Vaksin
dan serum bisa didapakan di took sarana produksi peternakan atau melalui dokter
hewan atau mantri hewan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar